
“Mulai detik ini kamu resmi menjadi pacar Bara Bahaduri Ravindra.”
“Tidak bisa Tuan, saya enggak mau pacaran,” jawab Inari menolak. Ia tidak mau jadi pacarnya Bara, terlebih ia tidak tertarik atau pun jatuh cinta.
“Tidak ada penolakan, pokoknya mulai hari ini kamu pacarku,” kukuh Bara. Ia menuntun Inari untuk masuk ke dalam mobil.
Inari menghembuskan nafasnya, dan ia duduk dengan tenang di kursi penumpang tepat di samping Bara.
Bara mulai mengeluarkan mobilnya dari garansi. Sesekali ia melirik ke arah Inari yang tampak asyik menikmati suasana jalanan malam.
“Apa dengan majikanmu sebelumnya kamu jarang pergi ke luar?” tanya Bara penasaran. Karena baginya menatap jalanan sangat membosankan.
Inari menggelengkan kepalanya. “Saya hanya kebingungan harus melakukan apa,” jawab Inari jujur.
Bara memberikan ponselnya pada Inari. “Biasanya wanita senang berfoto jika sudah tampil cantik.”
Inari tersenyum, tidak menyangka bara akan mengerti hal yang di sukai perempuan. Inari menerima ponsel bara dan membuka aplikasi kamera, ia berpose cantik dan mengambil beberapa gambar. “Tuan suka berfoto?” tanya Inari.
__ADS_1
Bara menghentikan laju mobilnya saat lampu jalanan berubah menjadi merah. “Tidak terlalu, tapi jika kamu yang mengajak berfoto dengan senang hati aku siap berfoto bersamamu.”
Suara Bara terdengar sangat lembut, dan berbeda dari biasanya. Namun Inari tidak ingin memikirkan hal itu, ia mengarahkan ponselnya pada dirinya sendiri yang bersama Bara, mereka mengambil beberapa foto sebelum lampu jalanan menjadi hijau.
Bara melajukan mobilnya menuju pesta di adakan. Sesampainya di sebuah klub Inari tersenyum saat tempat pesta yang akan mereka datangi cukup ternama.
Keluar dari mobil Bara merapatkan tubuhnya dengan Inari, tidak lupa ia menempatkan tangannya melingkar di pinggang ramping Inari. Mereka berjalan masuk ke lantai dua yang sudah di booking untuk pesta malam ini.
Bara menyapa teman-temannya sementara Inari tersenyum ramah ke pada mereka semua.
“Siapa ini Bar?” Tanya Dion teman Bara. Dion memperhatikan penampilan Inari yang sangat cantik dan tampak menarik.
“Yaelah pelit amat lo Bar,” sahut Dion.
“Ciaelah baru juga putus, sudah sama-sama move-on ya. Gak mau kalah nih,” ujar Mita menyindir Bara.
“Buat apa ngomongin mantan, sudah basi kali. Kenalin nih, Inari. Pacar baru gue,” ucap Bara pada kedua temannya.
__ADS_1
Mita mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Inari yang mengulurkan tangannya juga dan mereka berjabat tangan untuk sejenak. “Mita.”
“Inari.”
Tidak ingin ketinggalan Dion ikut menjabat tangan Inari. “Dion.”
“Inari.”
“Buset halus bener tangannya, perawatan di mana?” Tanya Dion. Untuk pertama kalinya ia merasakan tangan lembut seorang wanita, rasanya Dion ingin menikahinya saja.
Inari hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dion.
Bara menepis tangan Dion yang masih memegang tangan Inari. “Lepas Dion, dia milik gue!”
Dengan berat hati, Dion melepaskan jabatan tangannya. “Pelit banget sih Bar. Dapat dari mana cewek cantik modelan begini, bagi-bagi dong,” ujar Dion.
Cecilia mantan pacarnya Bara menghampiri Bara yang datang dengan seorang perempuan. Dia memperhatikan tubuh Inari dari atas sampai bawah, membuat Inari merasa tidak enak di perhatikan seperti ini.
__ADS_1
Bara mengecup pipi Inari dengan sengaja di depan Cecilia. “Kenalin pacar gue,” ungkap Bara dengan penuh percaya diri.
“Dapat dari toko kelontong mana, cewek modelan begini,” ucap Cecilia kulit sengaja memancing kemarahan Inari.