
“Kamu ingin benar-benar aku lece hkan agar berhenti tertawa bahkan sampai tidak bisa berjalan?”
Inari mengatupkan rapat-rapat mendengar ancaman Arzan yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding.
“Anak pintar,” ucap Arzan dengan rasa penuh kemenangan karena berhasil menjinakkan hewan peliharaannya.
Bibir Inari mengerucut saat puncak kepala di tepuk-tepuk seolah memberikan kasih sayang pada hewan peliharaannya.
“Kenapa mau di cium?” Inari memilih memalingkan wajahnya, ia keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Inari berjalan mengendap-endap memastikan tidak akan berpapasan dengan Bara.
Inari merasa lega saat berhasil masuk ke dalam kamar Arzan. Ia mengambil celana Arzan serta obat untuk kulitnya yang hampir melepuh.
Baru saja Inari hendak menekan kenop pintu kamar, namun suara ketukan dari luar sangat mengejutkan Inari.
“Ka aku perlu bicara,” teriak Bara dari luar.
Mendengar suara membuat Inari panik bukan main, apalagi knop pintu Arzan bergerak. Inari melarikan diri ke kamar mandi dan menutupnya perlahan. “
__ADS_1
“Ka,” panggil Bara saat tidak menemukan keberadaan sang kakak di kamar.
Inari merasa gugup saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu. Ia refleks berlari dan menyalakan shower agar Bara mengira kakaknya sedang mandi lalu memilih pergi.
“Oh kakak sedang mandi, kalau begitu aku akan menunggu,” teriak Bara dari luar agar Arzan mendengarnya.
‘Mampus,' batin Inari. Ia harus mencari cara agar Bara keluar dari kamar Arzan.
Inari terduduk di kloset, tidak ada hal yang bisa ia lakukan selama Bara masih ada di kamar. Ia tidak mungkin keluar dari kamar mandi dan bertemu langsung dengan Bara. Inari tidak ingin Bara berpikir yang tidak-tidak.
Inari sudah menunggu selama lima belas menit, bahkan shower masih terus ia nyalakan namun ia tidak melihat tanda-tanda Bara pergi.
Inari mulai menguap merasakan kantuk karena tidak melakukan hal apa pun. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke pintu lalu menempelkan telinganya untuk menajamkan indra pendengarnya.
“Riri,” Ucap Bara dengan suara terkejutnya. Inari membalas ucapan Bara dengan senyuman manisnya.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Bara penasaran.
Inari grogi bukan main, kepergok seperti ini karena kelalaiannya. Saking groginya Inari sangat gugup bukan main, “Ee eem itu ee anu.” Kepalanya berputar untuk menemukan alasan yang tepat untuk kondisi saat ini .
__ADS_1
“Aku baru selesai membersihkan kamar mandi,” jawab Inari cepat saat kepalanya menemukan ide yang cukup untuk di jadikan alasan.
“Itu kan bukan tugas kamu, lagi pula kamu sedang sakit kenapa bekerja?”
Inari menghela nafas, alasannya ternyata tidak masuk akal, dan Bara cukup realistis dari biasanya. “Keadaanku sedikit membaik, jadi tidak begitu masalah,” ucap Inari.
“Jangan bilang kamu hanya beralasan saja ya, supaya tidak pergi denganku?” Tanya Bara dengan tatapan penuh selidiknya.
Inari memasang wajah sedihnya. “Kalau kamu tidak percaya padaku, aku tidak masalah,” ucap Inari. Kakinya melangkah meninggalkan Bara.
“Inari,” panggil Bara dengan suara lembutnya.
Kaki Inari terhenti sejenak ia berbalik badan dan melihat Bara yang berada dalam posisi setengah berdiri sambil menunjukkan kotak beludru berisi cincin. “Inari aku ingin kamu menjadi kekasihku.”
Dari rentetan kalimat Bara sudah jelas bermaksud memaksa dan tidak ingin di tolak. Tapi Inari sudah jatuh cinta pada Arzan. “Maaf Tuan, aku mencintai kekasiku,” tolak Inari pada akhirnya.
Bara berdiri dan memeluk erat tubuh Inari. “Kamu tidak perlu mengakhiri hubunganmu jika memang sulit, aku tidak masalah jika harus jadi yang kedua dalam hidupmu.”
Tubuh Inari membeku, ia terdiam tidak membalas pelukan Bara.
__ADS_1
Arzan yang terlalu lama menunggu akhirnya mengambil handuk yang ada di kamar mandi dan melilitkannya di pinggang. Ia berniat untuk menyusul Inari. Namun langkahnya terhenti saat melihat Bara yang memeluk seorang wanita yang dapat Arzan pastikan bahwa perempuan itu adalah Inari.
“Aku sangat mencintaimu Inari.”