Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Dua Puluh


__ADS_3

“Perhatikan dengan betul, nanti kamu mengelap bagian yang salah lagi.”


Dengan sangat terpaksa Inari memperhatikan perut Bara. Ada rasa ingin menikmati roti sobek Bara, tapi ia takur Arzan marah lagi. Akhirnya Inari fokus melap perut Bara yang basah, dengan tangan yang sedikit bergetar.


Bara tersenyum puas melihat ekspresi Inari yang menggemaskan baginya.


Sementara mata Arzan menatap nyalang ke arah adik serta calon tunangannya.


Setelah selesai Inari menarik tangannya hendak membuang sampah namun matanya menangkap mata Arzan yang melotot dengan bibir terkatup sempurna. Ekspresi marah yang lebih dari sebelumnya membuat Inari dengan susah payah menelan salivanya. Kakinya berjalan perlahan menuju tempat sampah sementara matanya terus memperhatikan ekspresi Arzan, bibir Inari tersenyum manis mencoba mengubah ekspresi Arzan. Namun sepertinya tidak berhasil, ia membuang sampah dan duduk di samping Arzan. “Apa Tuan lapar, atau butuh sesuatu?” tanya Inari dengan nada selembut mungkin.


“Tidak,” jawab Arzan ketus dan kembali memandangi layar laptopnya.


Bibir Inari mengerucut karena di acuhkan oleh Arzan. Ia memilih kembali menghampiri Bara saja.


“Ambilkan baju baru,” pinta Bara.


Inari mengangguk dan membuka koper yang tidak jauh darinya, ia mengambil baju untuk Bara. “Ini tuan,” ucap Inari seraya menyerahkan baju.

__ADS_1


Bara menerimanya. Ia membuka bajunya, dengan sengaja Bara menutupi kepala Inari dengan baju miliknya yang basah.


“Tuan,” panggil Inari dengan nada kesal. Ia menyingkirkan baju yang menutupi seluruh kepalanya.


Bara tertawa melihat ekspresi tertekan Inari.


Inari yang kesal mendengar tawa Bara memikirkan cara untuk membalas kejahilannya. Fokus Inari tertuju pada tubuh bagian atas Bara yang tidak memakai baju. Ia mencubit dada Bara di bagian sensitif lelaki.


“Aaaa sakit Riri lepaskan,” teriak bara kesakitan karena pu tingnya di cubit Inari cukup kencang.


Bara menggosok-gosok bagian pu tingnya yang terasa sakit. Ia menarik kepala Inari, menempatkan wajah Inari tepat di ketiaknya.


“Aaaaaaa bau, lepaskan,” teriak Inari. Ketiak Bara bau kecut, belum lagi bulu-bulunya membuat Inari jijik.


“Rasakan balasan ini,” ucap Bara tanpa berniat melepaskan Inari.


Inari berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa. “Tuan lepaskan,” mohon Inari.

__ADS_1


Setelah merasa puas Bara melepaskannya. Begitu terlepas dari ketiak Bara, Inari merasakan mual yang menyerangnya.


“Hoek,” Inari sangat ingin muntah. Ia berlari ke toilet melewati Arzan.


Arzan memperhatikan Inari yang muntah di wastafel. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Inari, ia membantu memegangi rambut Inari yang terurai.


Semua isi perut Inari keluar begitu saja, makanan siang yang di hilangkan Arzan keluar semuanya. Setelah merasa tidak lagi ingin muntah Inari berkumur-kumur dan mencuci wajahnya. Ia mengangkat tubuhnya berdiri tegap menghadap ke arah Arzan. “Terima kasih tuan,” ucap Inari.


Arzan mengacak puncak kepala Inari sebelum keluar dari toilet meninggalkan Inari yang masih terdiam di tempatnya. Perlakukan Arzan tidak pernah Inari duga, padahal beberapa menit yang lalu Arzan terlihat marah namun tetap memberikan perhatiannya meskipun wajah Arzan masih cuek tapi Inari merasa di sayangi oleh Arzan.


Inari keluar dengan wajah menatap ke arah Bara memberikan ekspresi permusuhan. “Saya tidak percaya Tuan Bara bau ketiak, wajah tampan saja percuma kalau ketiak bau,” ketus Inari.


“Ini kan akibat deodoranku habis, semua ini salahmu,” ucap Bara melimpahkan kesalahannya pada Inari. Sebetulnya Bara terburu-buru dan melewatkan memakai deodoran. Namun sepertinya parfum saja tidak cukup untuk menghilangkan aroma ketiak. Belum lagi Inari langsung bersentuhan dengan ketiaknya, pantas saja akan tercium aroma tidak sedap.


“Kamu melakukan kesalahan lagi Inari, kerjamu tidak betul. Tiga kesalahan lagi kamu saya pecat.” Arzan ikut angkat suara sengaja ingin mengerjai Inari, meskipun ucapannya memang betul. Inari kurang teliti dalam mengerjakan pekerjaannya.


“Betul Ka pecat saja, Riri enggak bagus kerjanya. Tidak memuaskan,” ucap Bara ikut mengompori.

__ADS_1


__ADS_2