
Sonia langsung menoleh dan memasang wajah tersenyum ke arah bocah polos itu.
"Kenapa sayang?" tanya Sonia langsung merendahkan nada bicaranya.
"Tadi Daffa seperti dengar suara mama." ujar Daffa dengan polosnya.
Membuat Sonia langsung merasa bingung,bagaimana ia akan menjawab cucu kesayangannya.
"Bukan sayang,kamu salah dengar." kata Sonia yang terpaksa berbohong.
"Oh,Daffa pikir itu suara mama." ucap Daffa dengan menunjukkan raut wajah yang kecewa.
"Apa kamu rindu dengan mama mu?" tanya Sonia.
Daffa pun langsung mengangguk pelan.
Sonia pun serasa tak tega dan langsung memeluk tubuh bocah kecil itu dengan erat.Hatinya begitu tersentuh dan sedih,melihat kepolosan Daffa yang ternyata merindukan ibu kandungnya.
Namun,melihat Casey yang tidak bisa menjadi seorang ibu yang bain untuk Daffa.Sonia pun tak bisa membiarkan Daffa hidup tanpa perhatian dan kasih sayang dari Casey
...****************...
Thalia yang saat sedang berada di kantor,tiba-tiba menerima pesan masuk dari Devan.Ia pun langsung membaca dan meletakkan kembali ponselnya diatas meja.
Lusi yang kebetulan berada di ruangannya,sesaat langsung menoleh ke arah Thalia.
"Kenapa nona??Apa ada sesuatu yang membuat nona bingung?" tanya Lusi yang penasaran.
"Yah,lelaki itu meminta untuk bertemu lagi dengan ku." jawab Thalia memberitahu isi pesan Devan yang ternyata ingin bertemu dengannya.
"Lalu,apa nona tidak mau bertemu dengannya?" tanya Lusi.
"Tidak,hari ini aku sedang malas.Terlebih urusannya dengan istrinya masih belum selesai.Kau bisa lihat kan bagaimana arogannya wanita itu?" ujar Thalia menyinggung nama Casey.
"Ya,nona benar..Saya sedikit kaget melihat seorang model bisa bersikap arogan seperti itu.Dia tidak sadar jika itu bisa menghancurkan karirnya." kata Lusi berkomentar tentang Casey.
"Soal itu aku tidak peduli,justru lebih bagus.Menghancurkan dia secara perlahan dan ia akan kehilangan segalanya.Hingga akhirnya hidupnya akan berakhir sia-sia." ujar Thalia dengan tatapan yang masih menyimpan dendam.
__ADS_1
Lusi pun hanya mengangguk dan seakan mengerti dengan maksud Thalia.
...****************...
Malamnya..
Saat Edward baru saja pulang,disambut dengan tatapan kesal oleh Kamila sang istri.
"Kau dari mana saja?Kenapa kau tidak pulang lagi?" tanya Kamila tanpa basa basi pada Edward.
"Aku kerja,dan kerjaan ku akhir-akhir ini sangat sibuk." jawab Edward dengan nada yang datar dan sengaja berbohong.
"Kerja apa sampai kau jarang pulang?Sesibuk apa pun,kau tidak pernah jarang pulang.Apakah kau mulai bermain gila di luar sana?"tanya Kamila yang langsung mencurigai Edward.
"Jangan asal menuduh Kamila,hari ini aku sangat lelah.Aku mau istirahat." jawab Edward langsung mengabaikan Kamila.Karena tidak mau mendengar semua omelan yang keluar dari mulut Edward.
Tapi,Kamila justru langsung menghalangi Edward.
"Tidak bisa,aku belum selesai bicara dengan mu.!Jawab dengan jujur apakah kau mulai bermain gila dengan wanita diluar sana?" kata Kamila yang kembali bertanya dengan pertanyaan yang menuduh.
"Sudah kubilang kau jangan asal menuduh.!Aku ini capek,kerja banting tulang untuk menghidupi kalian.Kenapa kau masih tidak mengerti posisi ku.!" sentak Edward langsung kesal.
"Kau tahu apa tentang perusahaan?Yang kau tahu hanya uang,uang dan uang.Bagaimana kondisi di perusahaan apakah kau tahu??Aku sudah pernah menceritakannya pada mu bahwa kondisi perusahaan kita saat ini sedang diujung kebangkrutan.Jadi aku sedang mati-matian untuk mempertahankan perusahaan.Paham.!!" tegas Edward dengan sorot mata yang sangat tajam.
Seketika membuat Kamila pun langsung terdiam.
"Jangan pernah protes apa yang ku lakukan diluar sana.Karena aku sedang berjuang untuk menghidupi kalian juga.Kau sungguh menyebalkan.!" timpal Edward lagi seolah memberinya peringatan.
"Ma..Maaf,aku hanya mengkhawatirkan keadaan mu.Aku merasa kau seperti sedang melupakan kami.Kau tidak pernah punya waktu untuk kami,terutama untuk ku.Aku merasa kesepian Edward." ungkap Kamila yang perlahan merendahkan nada bicaranya dengan mengeluh.
Edward langsung menghela nafasnya dengan berat dan langsung ke kamarnya.Tanpa menanggapi keluhan Kamila,yang ia anggap Kamila semakin membuatnya bosan.
Kamila pun hanya menarik nafas panjangnya dengan perasaan yang kecewa.Melihat sikap Edward yang justru tidak membuat hatinya luluh dan membujuknya.
...****************...
Thalia yang baru saja tiba di rumah,lagi-lagi mendengar suara ponselnya berbunyi.Yang menandakan sebuah panggilan masuk yang menghubungi nomornya.
__ADS_1
Thalia yang melihat langsung mencampakkan ponselnya ke sofa.Lusi yang kebetulan melihat langsung memandang heran.
"Apakah dia lagi nona?" tanya Lusi penasaran.
"Yah,hari ini aku benar-benar malas menanggapi dia."jawab Thalia yang sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Oh begitu,nona mau minum?" tanya Lusi mengalihkan pembicaraan.
"Yah,aku ingin jus." jawab Thalia seraya memejamkan matanya sesaat.
"Baik,akan saya ambilkan."jawab Lusi bergegas ke dapur dan mengambilkan segelas jus untuk Thalia.
Tak berapa lama,Lusi pun datang dengan membawakan segelas jus untuk Thalia.
"Silakan nona." ujar Lusi sembari meletakkan jus tersebut di atas meja.
"Terima kasih Lusi.Oh ya,kapan Kevin akan melakukan interview?" tanya Thalia yang langsung teringat akan Kevin anak pertama Kamila.
"Sepertinya besok pagi nona,kenapa nona?" jawab Lusi dan bertanya.
"Jika dia melakukan interview langsung diterima saja.Aku ingin lihat bagaimana reaksi Kamila jika dia tahu anaknya bekerja untuk ku." kata Thalia memerintahkan Lusi.
"Tapi,bagaimana jika dia memberitahu papa nona.Kalau ternyata dia bekerja pada nona.Bukankah perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan papa nona?" tanya Lusi yang sesaat mengingatkan Thalia.
"Hal itu kau tenang saja,aku bisa bereskan.Aku yakin dia pemuda yang bisa diajak bekerja sama.Seorang anak yang hanya menjadi korban kekejaman orang tuanya.Pasti dia tidak akan keberatan jika mengikuti rencana ku." jawab Thalia dengan penuh yakin.
"Begitu,baik lah nona.Besok akan saya arahkan Kevin untuk diinterview oleh nona."jawab Lusi menuruti perkataan Thalia.
"Kau pergi lah istirahat.Terima kasih untuk hari ini." ucap Thalia menyuruh Lusi untuk istirahat.
"Baik nona,terima kasih juga untuk hari ini." jawab Lusi menunduk dan langsung meninggalkan Thalia sendirian di ruang tamu.
Thalia pun masih dalam posisi merebahkan tubuhnya di atas sofa.Ia pun kembali memejamkan matanya untuk mencoba tidur sebentar.
Tapi,baru akan memejamkan matanya.Terdengar suara ponselnya berbunyi yang menandakan sebuah pesan masuk.
Thalia yang dengan malas nya melihat isi pesan tersebut.Karena berpikir mungkin Devan lagi yang mengirimkan dia pesan berulangkali.
__ADS_1
Tapi..