Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 33


__ADS_3

Dengan membawa rasa kecewa Kania pun langsung saja masuk ke dalam taksi yang tadi memang sengaja ia minta untuk menunggunya dan segera meminta supir taksi melajukan mobilnya.


"Pria brengsek! Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan pria sebrengsek Bryan. Aku tidak akan pernah sudi lagi untuk bertemu dengan pria itu. Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu denganku? Aku benar-benar takut karena ini baru pertama kalinya," batin Kania yang timbul rasa kekhawatiran dalam dirinya itu.


Lalu Kania pun meminta sang supir untuk langsung mengantarnya pulang ke rumah karena memang di saat ini ia tidak memiliki tujuan lain.


***************


Kini Axel dan Thalia pun telah tiba di sebuah cafe dimana tempat Thalia dan Devan berjanji untuk bertemu. Axel langsung saja memarkirkan mobilnya tepat di depan cafe.


"Loh kok parkir? Apa kau tidak mau pergi dulu, kau yakin mau menungguku?" Tanya Thalia.


"Gadis marmut, aku akan tetap berada di sini menunggumu. Aku ingin memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak," kata Axel.


"Aku pasti akan baik-baik saja dan kau tidak perlu mengkhawatirkan aku seperti itu. Karena aku hanya menemui pria bodoh yang sama sekali tidak mengerti maksudku," kata Thalia yang mendadak membuat Axel memasang wajah tidak senang.


"Jadi maksudmu aku ini juga pria bodoh?" Tanya Axel menatap serius.


Thalia mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan sikap Axel, "Apa maksudmu?"


"Kau mengatakan dia hanyalah pria bodoh yang tidak mengerti dengan maksudmu, lalu bagaiman denganku Tha? Aku sendiri tidak mengerti dengan maksudmu, kenapa kau menemui pria itu dan mengatakan bahwa pria itu pria bodoh?" Tanya Axel, karena memang Thalia tidak pernah bercerita kepada Axel mengenai apapun rencananya.


"Ouh jadi masalah ini. Untuk saat ini aku sedang tidak ada waktu untuk menjelaskannya, tapi aku janji nanti aku akan menjelaskannya padamu. Yang jelas aku sama sekali tidak pernah menganggapmu seperti itu," ucap Thalia.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan balas dendammu?" Tanya Axel menebaknya.


"Ya kau benar. Yang pasti aku dan pria itu sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Jadi kau tenang saja," kata Thalia to the point, mungkin saja kali ini Axel terlihat tidak suka karena merasa cemburu melihat kedekatannya dengan pria lain.


Setelah itu pun Thalia langsung saja masuk ke dalam cafe dan menemui Devan yang sudah menunggunya.


"Hai Dev, Maaf aku sedikit terlambat," ucap Thalia yang saat ini telah berdiri di hadapan Devan.


"Thalia? Silahkan duduk!" Ucap Devan yang sangat senang melihat wanita pujaan hatinya itu telah tiba. "Kau sama sekali tidak terlambat, aku senang karena akhirnya kau datang."


"Ya tentu saja aku datang. Memangnya ada apa kau mengajakku bertemu?" Tanya Thalia yang sudah mendudukkan dirinya di kursi seberang Devan.


"Aku ingin mengabarkan padamu bahwa aku sudah berpisah dengan Casey. Aku sudah resmi berpisah dengannya," kata Devan yang membuat Thalia pun membelalakkan matanya, ia merasa terkejut dan juga sangat senang karena tidak membutuhkan waktu lama rencananya itu telah berhasil.


"Oh ya? Selamat karena akhirnya kau terbebas dari wanita yang sama sekali tidak pernah menghargaimu sebagai suami," ucap Thalia.


"Maaf Devan, kau baru saja berpisah dengan mantan istrimu. Apakah menurutmu pantas jika kau langsung berhubungan dengan wanita lain?" Tanya Thalia yang mencoba mempengaruhi Devan, akan tetapi nyatanya tak membuat Devan goyah.


"Memang apa salahnya? Aku sudah mencintaimu sejak aku masih berhubungan dengan Casey. Dan sekarang aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya lagi, jadi menurutku tidak ada yang salah jika aku langsung mempunyai hubungan denganmu," ujar Devan.


"Itu menurutmu Dev, tapi tidak denganku. Apa kau pernah berpikir bagaimana jika aku yang disalahkan menjadi penyebab hancurnya hubungan kau dan Casey? Kau sendiri juga sudah tahu 'kan bagaimana hubunganku di masa lalu dengan Casey," kata Thalia.


"Aku minta maaf, aku mengerti perasaanmu. Seharusnya aku yang tidak terlalu terburu-buru seperti itu," ucap Devan yang lagi-lagi mengalah untuk Thalia.

__ADS_1


Sementara itu dari jauh Axel dapat melihat jelas bagaimana keseriusan wajah Devan saat berbicara dengan wanita yang dicintainya itu, bahkan ia juga memegang tangan Thalia, hanya saja Thalia dengan cepat menepisnya karena merasa tidak nyaman dengan perlakuan Devan.


***************


Thalia mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, otaknya seakan tak bisa bekerja dengan baik saat memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tidak sepertinya ia bersikap seperti ini, hatinya seakan goyah dengan tujuan awalnya. Padahal keinginannya untuk membuat hubungan Casey dan Devan hancur sudah berhasil, tetapi kenapa malah timbul rasa kasihan dalam dirinya karena telah melibatkan Devan. Karena sebenarnya Thalia dapat melihat jika Devan adalah pria yang baik, Devan juga tulus mencintainya dan Devan pun mencintainya juga dengan alasan, karena Casey lah yang menyebabkan ia berpaling dengan wanita lain.


Sementara itu ia juga memikirkan Axel. Axel yang tadi meskipun sudah ia jelaskan selama perjalanan pulang, tetapi sepertinya tak membuat pria itu merasa puas. Axel malah marah dan menyesal karena telah pulang ke Indonesia, tetapi mendapati sikap Thalia yang begitu sibuk dengan urusannya sendiri.


"Duh … aku benar-benar pusing, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tujuanku untuk menghancurkan hubungan Devan dan Casey sudah berhasil. Lebih baik aku tidak perlu lagi melanjutkan sandiwara ini, aku tidak mungkin membiarkan Devan terus-menerus mengharapkan cinta dariku. Bagaimana jika dia tahu bahwa semua harapan yang aku berikan padanya hanyalah palsu," batin Thalia di dalam kebingungannya.


Di saat itu pun Thalia merasakan tenggorokannya begitu kering dan haus. Sehingga ia keluar dari kamar dan hendak menuju ke dapur untuk mengambil minuman. Akan tetapi saat melewati kamar Lusi, Thalia mendengarkan suara dari dalam sana sehingga membuat langkah kakinya pun terhenti.


Huwek … huwek …


Thalia mendengar jika Lusi sedang muntah di dalam kamarnya, sehingga ia yang merasa khawatir segera saja masuk ke dalam kamar asistennya itu.


Benar saja di saat itu Thalia melihat Lusi tampak lesu karena habis memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya.


"Lusi kau kenapa, apa kau baik-baik saja?" Tanya Thalia yang sangat cemas.


Sepertinya aku masuk angin Nona. Aku begitu mual dan perutku terasa sakit sekali," jawab Lusi.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Thalia yang tak mau lagi menundanya. Ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Lusi.

__ADS_1


Lusi pun tak banyak membantah, hingga meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, Thalia segera saja melajukan mobil membawa Lusi menuju ke rumah sakit.


Bersambung…


__ADS_2