
Edward pun pulang ke apartemen Jasmine dengan perasaan yang begitu marah.Jasmine yang mengikutinya sejak tadi,cuma bisa diam dan tidak berkomentar sedikit pun.
"Brengsek.!Sialan.!Kenapa hal ini bisa terjadi??Jasmine," umpat Edward sekaligus memanggil Jasmine.
"Iya tuan." jawab Jasmine menghampiri Edward.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku jika pemilik perusahaan itu adalah milik Thalia??" tanya Edward yang kini membahasnya pada Jasmine.
"Maaf tuan,aku juga tidak tahu hal ini.Karena mereka tidak mau memberitahunya" jawab Jasmine berbohong.Karena sejak awal dia juga sudah tahu rencana Thalia pada Edward.
"Sekarang perusahaan ku tidak akan lama lagi hancur,dan aku akan bangkrut.!" ungkap Edward meluapkan kekesalannya.
"Tapi aku juga tidak tahu soal ini tuan.Apakah tuan sedang menyalahkan ku?" jawab Jasmine berpura-pura tidak tahu
"Bukan,tapi aku masih tidak mengira jika Thalia sudah merencanakan ini semua.Dan para investor yang lain pasti akan menuntut ku." ungkap Edward lagi.
"Maaf tuan,aku sudah berusaha menjalankan tugas ku sebagai sekretaris mu.Selebihnya aku tidak tahu jika ini terjadi diluar tugas ku " jawab Jasmine membela diri.
"Tidak apa-apa,aku tidak menyalahkan mu sayang.Aku hanya tidak terima dengan ulah mereka.Maaf kan aku sayang," ucap Edward perlahan merendahkan nada bicaranya dan mencoba untuk memeluk tubuh Jasmine.
Jasmine pun membiarkan Edward memeluk dirinya.Tapi didalam hatinya ia benar-benar sudah muak.Terlebih mengetahui jika Edward sudah diambang kehancuran.
...****************...
Malamnya..
Jamsine datang menemui Thalia di kediamannya.
"Ada apa kau kesini??Kenapa datang tanpa memberitahu ku dulu?" tanya Thalia.
"Maaf nona,jika kedatangan ku menganggu waktu mu." ucap Jasmine dengan bersikap sopan dan menghormati Thalia.
"Katakan saja apa tujuan mu ingin menemui ku?" tanya Thalia.
"Begini nona,Bisakah aku mengakhiri sandiwara ini dengan tuan Edward?" tanya Jasmine langsung membahasnya pada Thalia.
__ADS_1
"Kenapa??Apa kau sudah bosan bermain-main dengan dia??Apa karena dia sebentar lagi akan hancur?" tanya Thalia menebak maksud ucapan Jasmine.
"Keduanya nona.Sejujurnya aku memang sudah sangat bosan dengan ayah nona.Aku tahu permintaan ku ini belum waktunya,dan tidak sesuai perjanjian diawal.Tapi apakah nona mau menerima permintaan saya?" ucap Jasmine mengutarakan keinginannya.
"Begitu.Ya sudah kalau kau memang sudah merasa sangat bosan dengan dia.Silahkan tinggal kan dia,tapi aku ingin apa yang sudah dia berikan pada mu,serahkan semuanya pada ku.Dan aku akan mentransfer uang mu sesuai perjanjian awal." jawab Thalia menuruti permintaan Jasmine.
Jasmine pun langsung tersenyum lebar.Tak mengira jika Thalia akan langsung menerima permintaannya.Tanpa dia harus menunggu jawaban Thalia untuk berpikir.
"Baik nona,aku akan segera urus semuanya Terima kasih nona." ucap Jasmine yang terlihat begitu senang dan bersemangat.
"Aku lah yang seharusnya berterima kasih padamu.Karena kau sudah membantu ku,tapi kau harus mengorbankan tubuh mu untuk pria tua itu." ucap Thalia.
"Soal itu nona jangan pikirkan.Memang sudah menjadi pekerjaan aku dari dulu Tapi dari setelah ini aku akan meninggalkan pekerjaan ini,karena aku ingin memulai kehidupan baru dan menjadi orang yang lebih baik lagi." kata Jasmine kembali mengutarakan keinginannya .
"Yah,pergi lah dan cari kehidupan baru diluar sana.Anggap juga setelah ini kau tidak mengenal ku.Karena aku sudah membuat mu terlibat dalam urusan pribadi ku." tukas Thalia .
"Nona jangan berkata seperti itu.Aku lah yang harus nya banyak berterima kasih.Karena nona sudah banyak menolongku.Terima kasih nona Thalia."
Thalia pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
...****************...
Thalia meminta Toni untuk menemui dirinya di ruangan.
Toni yang sudah diterima di perusahaan Thalia,kini sudah mulai bekerja dengan baik dan lancar.Ia pun begitu bersyukur karena Thalia benar-benar memberinya kesempatan dan memberikan posisi untuk ia bisa bekerja di perusahaannya.
Toni pun segera menuju ke ruangan Thalia untuk menemuinya.
Saat memasuki ruangan Thalia,tampak Thalia sedang fokus pada pekerjaannya.
"Maaf nona,apakah nona memanggil saya?" sahut Toni saat berjalan menghampiri meja kerja Thalia.
Thalia pun langsung menoleh
"Ah,iya..Silakan duduk Toni." jawab Thalia menyuruh Toni untuk duduk.
__ADS_1
Toni pun mengangguk dan langsung menarik kursi untuk duduk.
"Maaf nona,apakah ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" tanya Toni dengan perasaan yang gugup.
"Tidak,aku menyuruh mu kesini ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." jawab Thalia langsung memandang Toni dengan serius.
"Baik nona,saya akan menjawabnya dengan apa adanya." ucap Toni dengan kepala menunduk.
"Bagaimana dengan kondisi ibu mu?" tanya Thalia langsung mengalihkan pembicaraan.
Sesaat Toni pun sedikit menatap Thalia.
"Kondisi ibu saya sejauh ini mulai berangsur membaik nona." jawab Toni.
"Lalu,apakah kau sudah siap melakukan apa yang ku inginkan?" tanya Thalia mengungkit kembali ucapan sebelumnya yang pernah ia bahas dengan Doni.
"Sudah nona." jawab Toni masih menundukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu jika kau akan benar-benar membawa ibu mu ke sana?"tanya Thalia penasaran.
"Bolehkah saya menjawabnya dengan jujur nona?" tanya Toni.
"Katakan." jawab Thalia singkat.
"Sejak ayah ku meninggal,sejujurnya keluarga yang ku miliki hanya ibu.Ayah ku menitipkan ibu padaku untu selalu menjaga dan melindunginya.Saat mengetahui dia mengidap penyakit yang parah,perasaan ku cukup hancur.Dengan kehidupan ku yang serba kekurangan tapi aku selalu berusaha untuk membawa ibu ku berobat.Pekerjaan apa pun pasti akan ku lakukan,demi membiayai pengobatannya." ucap Toni.
"Dan jika anda meminta ku untuk menitipkan ibu ku di sana,sejujurnya aku tidak siap.Karena aku menyadari aku sudah gagal menjadi anak yang berbakti padanya.Walau pun terkadang ibu ku selalu membuat ku kesal karena penyakitnya dan bahkan aku harus mengorbankan masa muda ku.Tapi aku kembali sadar,hanya dia orang tua yang ku miliki saat ini."
"Dan kembali pada perjanjian awal,karena nona sudah membiayai semua pengobatan ibu ku dan bahkan memberi ku pekerjaan.Siap tidak siap aku akan penuhi permintaan anda nona." ucap Toni panjang lebar,yang mengutarakan semua isi hatinya.
Thalia yang menyimak semua cerita Toni.Sesaat memilih diam dan memandang Toni dengan serius.Entah kenapa ia merasa posisi Toni seperti dirinya dulu.Hanya seorang ibu yang ia miliki tapi harus kehilangan karena tidak siap menerima pengkhianatan yang dilakukan Edward sang ayah.
"Jadi kau ingin bagaimana?Kalau kau ingin tetap berbakti pada ibu mu?" tanya Thalia ingin tahu.
"Kalau nona tanya seperti itu,sejujurnya dari hati kecil ku,aku ingin ibu ku tetap selalu bersama ku.Aku ingin benar-benar merawat nya di masa tua nya.Karena ini bukti kasih sayang ku sebagai anak untuknya nona Thalia." jawab Toni.
__ADS_1
"Oke,aku mengerti." ucap Thalia.