
Seorang wanita paruh baya, tetapi karena selalu melakukan perawatan sehingga terlihat awet muda itu pun datang menghampiri Casey dan Alfred. Ia tak segan-segan langsung saja menyiram minuman ke wajah Casey, yang membuat Alfred dan Casey merasa sangat terkejut.
"Marisa? Kenapa kau ada di sini dan apa yang kau lakukan terhadap Casey?" Tanya Alfred yang menyadari jika wanita tersebut adalah istrinya.
"Pria brengsek! Jadi ini yang kau katakan sedang meeting dengan klien?" Ucap Marisa dengan sangat emosi dan menatap tajam.
Lalu pandangannya pun beralih menatap Casey yang terlihat kesal karena wajahnya tadi disiram oleh Marisa, "Dan kau, kau itu masih muda, kau bisa mencari yang lebih pantas untukmu. Kenapa kau harus mendekati suamiku. Bahkan kau tahu jika suamiku lebih pantas untuk menjadi ayahmu, tapi dengan mudahnya kalian berdua melakukan hal tersebut di depan umum, berpegangan tangan tanpa tahu malu. Lantas apa posisiku di sini, hah?" Ucap Marisa.
"Maaf Nyonya, maksud Anda apa?" Tanya Casey.
"Kau sama saja dengan wanita-wanita lain yang aku temui sebelumnya, sama-sama jal*ng. Padahal kau tahu jika Alfred ini sudah memiliki istri, tapi kau sengaja memanfaatkan kecantikan mu itu untuk merayunya, dan menguras hartanya, iya 'kan? Ujar Marisa.
"Jangan berbicara sembarangan ya Nyonya. Lagipula suamimu lah yang mendekatiku dan dia juga yang mengungkapkan perasaan itu untukku, jadi jika saat ini aku membalas cintanya itu juga bukan salahku. Seharusnya Anda itu sadar Nyonya, jika suamimu itu berpaling darimu dengan mencari wanita lain, itu artinya Anda harus intropeksi diri. Nyonya itu sudah tua, suka marah-marah, pantas saja suamimu itu tertarik dengan yang lebih muda," ujar Casey yang membuat Alfred pun tersenyum kecil, ia tak mempercayai kata-kata itu keluar dari mulut Casey.
Berbeda dengan Marisa yang terlihat emosi karena hinaan tersebut, hingga …
Plak …
Sebuah tamparan pun melayang dari tangan Marisa dan langsung mendarat di pipi mulus milik Casey, yang membuat Casey memegangi pipinya karena terasa perih. Rasanya ia ingin membalas saat itu juga, akan tetapi tiba-tiba Alfred mencegahnya.
"Kau jangan keterlaluan Marisa, kenapa kau harus bersikap kasar seperti itu terhadap Casey. Apa yang dikatakan Casey itu benar, jadi seharusnya kau intropeksi dirimu sendiri,"kata Alfred.
__ADS_1
"Alfred … Alfred, kau ini benar-benar tidak pernah berubah. Aku pikir kau sudah berubah tapi kenyataannya kenapa semakin menjadi-jadi. Dan kau wanita ja*ang, kau pasti akan menyesal nantinya," ucap Marisa memperingatkan.
Lalu ia pun pergi begitu saja meninggalkan suami dan selingkuhannya itu. Bukan baru kali ini, tetapi sudah berulang kali ia memergoki suaminya itu berselingkuh dengan wanita-wanita muda, bahkan wanita seumurnya juga pernah.
Tapi bukan Marisa namanya kika dia hanya melabrak seperti itu saja, pastinya ia akan melakukan suatu cara bagaimana menghancurkan selingkuhan suaminya dengan santai tapi pasti.
***************
Saat baru saja pulang ke rumah pada pukul 20.00 dan hendak menuju ke kamarnya, Edward dikejutkan dengan sang istri yang sedang berdiri di depan pintu kamar sembari memegangi koper.
"Kamila, kau mau pergi kemana?" Tanya Edward.
"Seharusnya aku yang bertanya, kau mau kemana? Karena kau yang harus pergi dari sini," kata Kamila to the point.
"Lantas apa menurutmu aku akan tetap membiarkanmu yang sudah mengkhianati ku pulang ke rumah ini lagi? Kau lupa ya bahwa rumah ini atas namaku, jadi akulah pemilik rumah ini dan aku minta kau angkat kaki dari rumah ini sekarang juga!" Usir Kamila yang mencampakkan kopernya itu di depan Edward membuat Edward merasa sangat geram.
"Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini karena aku masih sah menjadi suamimu," kata Edward.
"Hah suami? Suami hanya status maksudmu? karena sekarang kau sudah tidak pernah lagi melakukan kewajiban mu sebagai seorang suami. Bahkan untuk menghidupi istri dan anak-anakmu saja kau membatasinya. Jangan-jangan uangmu itu sudah kau berikan dengan selingkuhannya itu kan?," tuding Kamila saat mengingat sosok Jasmine.
"Kau tidak perlu membawa-bawa namanya. Jika kau ingin aku pergi sekarang dari sini, oke aku akan pergi," kata Edward yang langsung mengancam Kamila.
__ADS_1
Akan tetapi di saat itu mereka melihat Kevin yang baru saja keluar dari kamar dengan membawa koper juga ditangannya. Sehingga membuat Edward dan Kamila merasa kebingungan.
"Kevin, kau mau kemana membawa koper seperti itu?" Tanya Kamila.
"Aku akan pindah dari sini. Sebenarnya besok, tetapi aku sudah tidak tahan lagi mendengar pertengkaran kalian berdua, membuat kepalaku terasa mau pecah. Jadi lebih baik aku pergi dari sini sekarang," ucap Kevin.
"Tidak Kevin, apa kau pikir Mama akan menyetujuinya,dan membiarkanmu pergi begitu saja. Tidak!" Sergah Kamila melarang Kevin.
Kevin memutar bola mata malas, ia sama sekali tak perduli dengan ucapan ibunya itu dengan melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Di saat Kamila hendak mencegahnya, Edward tampak menghalangi Kamila, seolah mendukung Kevin pergi. Sama halnya dengan dirinya sendiri yang akan pergi dari rumah, karena Kamila sendirilah yang sudah mengusirnya untuk pergi.
Meskipun Edward sangat tidak suka dengan cara Kamila yang mengusirnya, tetapi tentu saja ia merasa sangat senang, karena dengan begitu ia bisa pergi ke apartemen kekasihnya untuk bermadu kasih. Toh sebelumnya ia juga jarang pulang ke rumah.
Setelah Kevin dan Edward sama-sama sudah keluar dari rumah, Kamila merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri karena niatnya hanya ingin menggertak Edward tapi pada kenyataannya suaminya itu benar-benar pergi. Bahkan anaknya juga yang membuatnya pun merasa stress dan merasa tidak ada lagi yang perduli dengannya. Kamila merasa jika hubungan rumah tangganya yang dulu sangat harmonis, saat ini telah hancur berantakan gara-gara orang ketiga.
"Akh … sialan!Ini semua gara-gara wanita jal*ng itu. Dan Kevin kemana dia pergi, kenapa anak itu semakin dewasa semakin kurang ajar, seperti kacang yang lupa kulitnya." teriak Kamila melampiaskan seluruh emosinya.
Kania yang baru saja pulang,langsung menghampiri Kamila yang terlihat kacau dan raut wajahnya yang marah.
"Mama kenapa?" tanya Kania penasaran.
"Kania..Papa mu dan kakak mu Kevin benar-benar keterlaluan.." jawab Kamila menatap Kania dengan mata yang berair.Seolah ia sedang menahan rasa yang ingin menangis karena ulah Edward dan Kevin.Yang sudah mengecewakan dirinya dan menghancurkan perasaannya.
__ADS_1
"Papa dan kak Kevin kenapa ma??Bicara yang jelas?" tanya Kania yang bingung dan semakin penasaran.Karena tidak mengerti maksud ucapan Kamila ibunya.