
Bagaimana tidak terkejut melihat isi cek tersebut bisa untuknya membeli mobil bahkan apartemen baru. Sehingga membuat Jasmine pun merasa tidak enak, karena selama ini dia benar-benar sudah dimanjakan dan semua kebutuhannya telah dipenuhi oleh Thalia maupun Edward.
"Maaf Nona, menurut saya ini terlalu banyak.
Saya benar-benar tidak bisa menerimanya," kata Jasmine.
"Sudahlah Jasmine, ini adalah hadiah untukmu. Aku mohon kau jangan menolaknya. Selama ini kau sudah bekerja denganku dengan sangat baik dan ini murni hadiah dariku untukmu. Anggap saja ini bayaran berikut bonus untukmu. Jadi aku mohon kau jangan menolaknya lagi atau aku akan kecewa padamu. Bukankah kau mengatakan ingin berubah, kau ingin menjalani hidup lebih baik? Uang ini cukup untuk kau pergi ke luar kota atau bahkan luar negeri dan memulai kehidupan baru di sana," kata Thalia, sehingga membuat Jasmine pun terdiam sejenak.
"Baik lah Nyonya, aku akan menerimanya. Terimakasih banyak," ucap Jasmine, lalu ia pun menyalami tangan Thalia serta merangkul tubuh bos-nya itu.
Meskipun apa yang Jasmine lakukan tergolong kesalahan yang sangat besar karena telah menggoda suami orang, bahkan menghancurkannya, tetapi ia sangat beruntung karena telah bertemu dengan Thalia yang sebenarnya adalah orang yang baik. Dan ia mengerti kenapa Thalia melakukan hal tersebut, hanya karena dendamnya di masa lalu .
****************
Karena sudah tidak bisa lagi datang ke apartemen Jasmine, kini membuat Edward pun menjadi lontang-lantung di jalanan. Ia melajukan mobilnya dan tidak tahu arah tujuan, ingin kembali ke rumah tempat dimana biasa berkumpul dengan keluarganya, tetapi itu rasanya sangat tidak mungkin karena sebentar lagi ia dan Kamila juga akan resmi berpisah, hanya tinggal mendatangi sidang selanjutnya saja.
Akan tetapi karena Edward teringat jika di sana masih ada beberapa pakaiannya, sehingga ia memutuskan untuk ke sana terlebih dulu untuk mengambilnya. Mengingat barang-barangnya yang berada di apartemen Jasmine sama sekali tidak bisa diambil untuk saat ini.
Setibanya di rumah, Edward pun langsung saja mengetuk pintu rumah tersebut dan sangat terkejut melihat seseorang yang membukakan pintu tampak asing baginya.
"Maaf, Anda siapa?" Tanya seorang pria paruh baya tang saat ini berdiri di hadapannya.
"Anda tidak salah? Saya yang seharusnya bertanya Anda itu siapa, kenapa Anda ada di rumah saya?" Tanya Edward.
"Apa anda tidak salah bicara? Anda mengatakan bahwa ini rumah Anda, jelas-jelas ini rumah saya," kata pria itu yang membuat Edward pun terkejut.
"Jangan asal bicara kamu, ini adalah rumah saya dan yang tinggal di sini adalah istri beserta anak saya," kata Edward.
"Maksud Anda Nyonya Kamila dan anak perempuannya?" Tanya pria itu.
__ADS_1
"Ya benar. Dimana mereka? Atau jangan-jangan kau ini pacar barunya. Ck, padahal kami belum resmi berpisah, tetapi Kamila sudah membawa pacar baru ke rumah ini," hardik Edward.
Sehingga di saat itu pun terlihat seorang wanita paruh baya yang keluar dari rumah tersebut karena mendengar ucapan Edward.
"Jangan sembarangan bicara ya kamu, ini suami saya dan kami adalah pemilik baru rumah ini," kata wanita itu.
"Pemilik rumah ini, maksud kalian apa?" Tanya Edward tak mengerti.
"Jadi Nyonya Kania sudah menjual rumah ini berikut dengan mobilnya kepada kami. Jadi sudah jelas 'kan kami pemiliknya sekarang," kata wanita itu, yang membuat Edward benar-benar sangat syok.
"Lalu dimana sekarang Kamila dan Kania tinggal?" Tanya Edward.
"Itu bukan urusan saya, kalau kamu memang suaminya, seharusnya kamu tahu kemana mereka pergi sekarang. Lebih baik Anda pergi dari sini, jangan pernah mengganggu kami," kata wanita tersebut.
Lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat.
****
Di sebuah rumah sederhana, akan tetapi cukup asri, terlihat seorang ibu dan anak perempuannya yang di saat ini sedang menata barang mereka setelah tadi rumah tersebut dibersihkan oleh sang pemilik rumah sebelumnya. Saat ini rumah tersebut telah berpindah tangan menjadi milik wanita tersebut.
Saat hendak memasukkan pakaian ke dalam lemari tiba-tiba saja sang anak sangat terkejut karena mendapati seekor kecoa yang keluar dari lemari tersebut.
"Akh …!" Teriak Kania.
"Kania, ada apa denganmu?" Tanya Kamila yang melihat anaknya itu sudah berdiri di atas tempat tidur dan terlihat begitu ketakutan.
Lalu Kamila pun segera saja mendekati sang anak.
"Mama aku takut Ma. Di dalam sana ada kecoa," ucap Kania sembari menunjuk lemari pakaian tersebut.
__ADS_1
Langsung saja Kamila mendekati lemari baju, lalu mengusir kecoa yang ada di dalam sana.
"Kania, Kania … itu hanya kecoa kecil. Kenapa kau begitu manja," hardik Kamila.
"Aku tidak manja Ma, aku geli melihatnya Ma. Mama tahu sendiri 'kan aku paling tidak suka melihat yang seperti itu. Aku hanya menemukannya saat di gudang saja, kenapa ini aku malah menemukannya di kamarku sendiri. Bahkan kamar ini terlihat begitu jelek, lebih bagus gudang di rumah kita yang dulu. Kenapa sih kita harus tinggal di sini Ma? Kenapa Mama tidak membeli rumah yang lebih baik," ucap Kania dengan suara meninggi, yang membuat Kamila pun menjadi emosi.
"Diam! Seharusnya kamu itu berpikir dengan kehidupan kita yang sekarang ini, bagaimana mungkin memberikan Mama bisa membeli rumah yang mewah. Bahkan bisnis Mama saja belum dimulai. Kamu tahu sendiri 'kan bahwa ?Mama harus membangun usaha agar kita bisa menjalani hidup untuk kedepannya!" Bentak Kamila.
"Mama jahat, selama ini Mama tidak pernah memarahiku seperti ini. Tapi kali ini Mama dengan tega membentakku," ucap Kania, lalu segera saja keluar dari kamarnya.
"Kau mau kemana Kania!" Teriak Kamila.
Akan tetapi Kani a sama sekali tak menggubrisnya, ia memilih untuk keluar dari rumah kecilnya itu.
***************
Saat ini Delisa sedang berada di belakang rumahnya, tepatnya di tepi kolam renang. Ia sedang menikmati udara segar di pagi hari sembari memikirkan kesalahan-kesalahan yang dulu pernah ia lakukan, terutama terhadap Thalia. Bagaimana mungkin wanita yang dulu selalu ia remehkan, bahkan ia marahi habis-habisan hanya demi membela seorang murid yaitu anak dari seseorang yang sangat berpengaruh di sekolah, tetapi justru saat ini wanita tersebut malah menolongnya dengan memberikannya kehidupan yang layak. Meskipun rumah yang diberikan oleh Thalia itu minimalis, akan tetapi rumah tersebut cukup mewah. Dilengkapi dengan kolam renang dan tamam di belakang rumah.
"Mama," panggil Toni yang membuyarkan lamunan Delisa dan langsung menoleh ke menghadap ke arah sumber suara.
"Toni, kamu belum pergi kerja?" Tanya Delisa lalu tersenyum kepada anaknya.
"Iya Ma aku ingin pergi bekerja. Tapi sebelumnya aku ingin menemukannya Mama dengan seseorang terlebih dulu " ucap Toni.
"Siapa?" Tanya Delisa kebingungan.
Hingga di saat itu pun terlihat langkah kaki seseorang yang keluar dan menuju ke kolam tersebut. Delisa membelalakkan matanya dan sangat terkejut melihat siapa orang yang dimaksud oleh anaknya itu.
Bersambung …
__ADS_1