Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 36


__ADS_3

Setelah Daffa beristirahat,Casey dan Sonia pun keluar dari ruang perawatan.


"Bu,biarkan Daffa tinggal bersama ku." sahut Casey saat mulai membuka topik pembicaraan.


"Maaf,hal ini kau harus bicarakan dulu sama Devan.Aku tidak bisa mengambil keputusan sepihak." jawab Sonia dengan tegas.


"Tapi apa ibu tidak bisa bantu aku untuk membujuk Devan?"


"Kami memang sudah berpisah,tapi Daffa tidak bisa jauh dari ku.Aku tetap ibu kandungnya.Ibu bisa lihat kan bagaimana keadaan Daffa sekarang?" kata Casey mengutarakan perasaannya.


"Aku tahu,tapi aku tetap tidak bisa mencampuri urusan kalian.Kalau kau ingin seperti itu,kau harus bicarakan langsung dengan Devan." jawab Sonia menolak saran Casey.


Membuat Casey tertunduk kecewa.


"Lebih baik kau pulang saja sebelum Devan datang.Karena percuma saja kalau kau ingin bicara sekarang Devan pasti akan menolak." ucap Sonia menyuruh Casey untuk pulang.


Casey pun kali ini hanya bisa menuruti tanpa ingin berdebat lagi dengan Sonia,mantan ibu mertuanya.


...****************...


Thalia saat ini masih berhadapan dengan seorang lelaki yang ternyata anak dari mantan wali kelasnya dulu.


Thalia tampak begitu tenang menuggu jawaban lelaki bernama Toni.


"Bagaimana??Apakah kau bersedia jika aku menyuruh ibumu untuk berlutut di kaki ku dan mengungkapkan rasa penyesalannya di hadapan ku." tanya Thalia mengulang kembali persyaratan yang dia minta.


Toni pun merasa bingung syarat yang diminta Thalia.Toni merasa tidak tahu apa yang sudah dibuat oleh ibunya di masa lalu.Hingga membuat Thalia ingin sang ibu menebus kesalahannya dengan berlutut di kakinya.


"Maaf nona,apakah harus ibu ku melakukan itu pada mu?"tanya Toni memastikan lagi.

__ADS_1


"Yah,syarat yang ku inginkan sangat mudah dan simple.Itu pun kalau kau ingin menyelamatkan nyawa ibu mu.Jika tidak,kau boleh mengabaikan nya.Dan aku akan segera pergi." jawab Thalia memperjelas ucapannya.


Sesaat Toni melirik ke arah sang ibu yang sudah dalam keadaan sekarat.Ia mulai bingung apakah ia harus menerima persyaratan yang diberikan Thalia atau justru menolak.Tapi Toni menyadari jika dia tidak bisa menyelamatkan nyawa sang ibu.Hidupnya akan berakhir menjadi seorang pengemis yang tidak akan mendapatkan lagi uang jaminan pensiunan dari sang ibu.


Selama ini Toni masih bergantung hidup dari uang pensiunan sang ibu,yang nilainya tidak begitu seberapa.Lelaki yang hanya bekerja serabutan itu,penghasilannya hanya untuk menutupi pengobatan sang ibu.Dan uang pensiunan sang ibu ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari.


Dengan ekonomi yang begitu sulit,membuat Toni harus berjuang mencari uang,demi pengobatan ibunya yang sudah sakit parah.


Delisa yang mengerti akan tatapan Toni sang anak,hanya bisa meneteskan air matanya.Ia cuma bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa pun.Melihat kondisinya yang memang sudah tidak berdaya.


"Toni.." panggil Delisa dengan nada lemah dan pelan.


Toni pun menghampiri ibunya.


"Iya bu.Biarka saja ibu mati,karena ibu tidak bisa melakukan apa yang sudah dia minta.Kita memang orang susah,tapi bukan berarti dia bisa menginjak harga diri kita." ucap Delisa yang ternyata lebih memilih menolak dan enggan menuruti syarat yang diminta Thalia.


"Wali kelas ku Delisa,ternyata sifat mu masih saja belum berubah.Kau lebih mempertahankan harga diri ketimbang nyawa mu sendiri."sahut Thalia yang secara tidak langsung menyindir Delisa.


"Apa maksud mu?" tanya Toni yang penasaran.


"Aku akan memberi mu pekerjaan di perusahaan ku sebagai seorang staff tetap.Tapi,jika ibu mu tetap tidak mau menerima persyaratan yang ku berikan.Bagaimana jika aku merubahnya sedikit.?"


Toni pun langsung mengernyitkan alisnya ke atas.


"Aku tahu,selama ini kau hidup bergantung dengan uang pensiunan ibumu.Kau pasti takut jika ibumu mati,kau pasti tidak akan menerima uang pensiunan itu lagi.Dan penghasilan mu dari kerja serabutan juga tidak akan cukup untuk menghidupi diri mu sendiri.Jadi kalau kau ingin merubah nasib mu menjadi orang yang bisa diakui dan tidak dipandang sebelah mata.Bagaimana jika aku membiayai pengobatan ibumu hingga sembuh.Apakah kau bersedia menyerahkan ibu mu ke panti jompo?" kata Thalia panjang lebar dan mengubah persyaratan yang sebelumnya.


Yang sontak.membuat Delisa kaget dan syok mendengar perkataan Thalia.


"Wanita iblis.!Wanita gila.!Kau pikir anak ku akan melakukannya?Pergi kau dari sini,jangan mempengaruhi pikiran anakku.!Pergi..Pergi.!" umpat Delisa yang langsung memaki Thalia walaupun keadaannya sudah sekarat.

__ADS_1


"Mantan wali kelas ku,seharusnya kau bersyukur saja.Aku bersedia membiayai pengobatan mu hingga sembuh dan memberikan tawaran pekerjaan yang dapat merubah nasib anak mu.Seharusnya kau berterima kasih,yang ku inginkan cuma ingin agar kau tidak membebani anak mu lagi." jawab Thalia masih dengan tenangnya sambil tersenyum.


"Aku akan memberi mu waktu.Hubungi aku jika kau bersedia.Ingat,berpikirnya jangan terlalu lama.Kau ingat apa kata dokter tadi kan??Ibu mu harus segera dioperasi kalau ingin nyawanya selamat." tukas Thalia langsung meninggalkan Toni.


Toni masih tampak bingung dengan posisi yang diam mematung.


"Toni,tolong jangan terpengaruh dengan ucapan dia nak.Dia wanita jahat,dia hanya ingin balas dendam dengan ibu.Kau tidak akan tega melakukan itu pada ibumu kan nak?" ucap Delisa berusaha menyadarkan Toni agar tidan terpengaruh dengan semua ucapan Thalia.


...****************...


Edward akhirnya pulang kerumah.Kamila yang menyambutnya langsung memasang wajah yang ditekuk dan tidak senang.


"Kau baru pulang?" tanya Kamila yang sesaat basa basi.


"Menurut mu?" tanya balik Edward.


"Kenapa kau masih saja tidak menghubungi ku setelah 2hari kau tidak pulang lagi??Apakah benar memang ada wanita lain yang saat ini berada di sisi mu?" tanya Kamila yang langsung mencurigai Edward.


"Kau selalu saja menuduh ku tanpa bukti.Kau selalu saja mengomel tanpa sebab.Kenapa kau masih saja tidak mengerti kalau saat ini aku masih sangat sibuk dengan pekerjaan ku.!"jawab Edward langsung kesal


"Kalau kau seperti ini terus,bagaimana aku bisa betah dirumah.Jika yang ku hadapi seorang istri yang terlalu posesif.!" sindir Edward.


"Itu karena aku mengkhawatirkan keadaan mu.Dan aku takut kau benar-benar bermain dengan wanita diluar sana."


"Hilangkan semua pikiran curiga mu itu.Kecemburuan mu terlalu berlebihan.Membuat ku semakin tidak betah berada di rumah." kata Edward yang justru berjalan ke luar rumah.


"Kau mau kemana lagi?"tanya Kamila dengan nada kesalnya.


"Aku ingin nginap di hotel,karena aku butuh ketenangan.Bukan suara ribut yang keluar dari mulut mu." ujar Edward langsung meninggalkan Kamila begitu saja.

__ADS_1


Kamila pun semakin kesal dan emosi melihat sikap Edward yang tidak mendukung keinginannya.


__ADS_2