
Thalia sangat terkejut melihat seseorang yang tak asing baginya dan juga sangat terlibat dengan masa lalunya yang kelam. Tentu saja thalia juga ingin membalaskan dendamnya kepada wanita tua tersebut.
"Maaf, Anda siapa? Kenapa Anda masuk ke dalam ruangan ini?" Tanya seorang pria yang merupakan anak dari wanita tua itu.
"Oh, maaf saya salah masuk ruangan. Tapi tadi saya dengar Anda memohon kepada Dokter untuk segera menangani ibu Anda, karena terkendala biaya dokter tidak bisa melakukannya. Apa itu benar?" Tanya Thalia.
"Ya, itu benar Nona. Saya hanya meminta keadilan di sini. Ibu saya harus segera dioperasi, jika tidak penyakitnya akan semakin parah dan saya tidak mau hal itu terjadi," kata pria tersebut.
"Memangnya apa penyakit yang diderita oleh Ibumu?" Tanya Thalia.
"Memangnya apa urusannya dengan Nona, kenapa Nona harus tahu?" Tanya pria itu balik.
"Saya bersedia membantu Ibumu, karena uang tidak sama sekali tidak masalah bagi saya," kata Thalia.
"Benarkah Nona?" Tanya pria tersebut dengan mata yang berbinar. "Jadi ibu saya terkena penyakit tumor jinak, beliau harus segera dioperasi, kalau tidak tumor tersebut akan semakin ganas dan pastinya akan membahayakan nyawa Ibu saya."
"Dokter, saya ingin berbicara sebentar dengan keluarga pasien. Nanti saya akan mengabari Dokter," kata Thalia.
"Baiklah Nona, tetapi harus segera diputuskan karena ini sangat menyangkut nyawa seseorang," ucap dokter.
"Iya Dokter, terimakasih," ucap Thalia.
Dokter menganggukkan kepalanya, lalu segera saja keluar dari ruangan tersebut.
"Nona, apa benar Nona ingin membantu Ibu saya?" Tanya pria itu ingin memastikan, ia tidak menyangka akan ada seseorang yang akan membantunya.
"Tentu saja, karena saya sangat mengenal baik dengan Ibu Anda," jawab Thalia sembari tersenyum smirk menghadap ibu tua itu.
__ADS_1
"Si-siapa kamu?" Tanya ibu tua yang sedari tadi hanya diam. Karena keadaannya yang begitu lemah, sehingga membuatnya pun sangat sulit untuk berbicara.
"Hai sang wali Kelasku yang tercinta. Apakah kau masih ingat dengan seorang murid yang dulu pernah kau perlakukan tidak adil hanya karena seorang murid, anak dari seseorang yang sangat berpengaruh di sekolah, bahkan di saat itu kau pernah menamparku dan menyakiti hatiku. Apakah kau ingat itu, Bu Delisa?" Tanya Thalia yang seketika membuat wanita tua itu pun terdiam.
Ya ibu Tua yang saat ini sedang terbaring lemah di atas brankar karena penyakitnya adalah Delisa, wali kelas Thalia saat dulu masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Thalia juga tidak menyangka bisa bertemu dengan wali kelasnya dalam kondisi seperti saat ini.
"Ka-kau, a-apa kau Tha-Thalia?" Tanya Delisa terbata-bata.
"Ya, benar. Aku adalah Thalia. Kenapa? Apakah perubahan di wajahku membuat dirimu pangling Bu wali kelas. Ya wajar saja, karena dulu aku masih bocah ingusan yang bisa kau remehkan, begitu juga dengan murid kesayanganmu Casey. Bahkan murid kesayanganmu itu sejak pertama kali bertemu denganku juga tidak mengenaliku, tapi sekarang dia sudah tahu dan sudah merasakan akibatnya dari apa yang sudah dia lakukan dulu padaku," kata Thalia.
"Maaf Nona, maksud Nona apa berbicara seperti itu kepada Ibu saya? Apakah Ibu saya pernah menyakiti Nona?" Tanya pria tersebut yang kira-kira seusia Kevin, adik tiri Thalia.
"Ya benar, sebaiknya kau tanyakan langsung saja pada Ibumu. Ups maaf, Ibumu sedang sekarat, jadi mana mungkin dia bisa menjelaskannya. Tapi aku bersedia kok membantu kalian berdua, hanya saja itu tidak gratis," kata Thalia.
"Nona, Nona 'kan tahu saya tidak memiliki uang, untuk itu saya meminta dokter untuk menanganinya dulu. Tapi saya akan berusaha untuk mencari uang itu dan akan membayarnya kepada Nona, meskipun tidak bisa sekaligus," kata pria tersebut.
"Jadi kami harus membayarnya dengan apa?" Tanya pria itu yang sama sekali tidak mengerti.
"Pertanyaan yang bagus, aku akan membantu mengobati ibumu bahkan sampai Ibumu keluar dari rumah sakit ini, tetapi dengan syarat Ibumu harus berlutut kepadaku," ucap Thalia dengan kejamnya. Tetapi itu semua ia lakukan karena rasa sakitnya dulu terhadap sang wali kelas yang sampai sekarang masih sangat membekas.
****
Sementara itu, Casey yang mendapatkan kabar dari Devano langsung saja menuju ke rumah sakit untuk melihat anaknya itu. Meskipun dulunya ia sangat tidak peduli dengan Daffa, akan tetapi setelah berpisah dengan Devan dan anaknya, membuat Casey baru menyadari jika ia benar-benar telah kehilangan mereka, terutama sang anak yang membuatnya merasa sangat bersalah.
Setibanya di rumah sakit, Casey langsung saja menuju ke ruang rawat inap dimana Daffa berada. Di sana terlihat Sonia yang sedang menemani cucunya, sedangkan Devan ada keperluan mendadak yang ia harus ia urusi sebentar di kantor.
"Daffa, Daffa sayang, ini Mama Sayang," ucap Casey yang menggenggam erat tangan sang anak. Sementara Sonia mundur 1 langkah memberikan ruang untuk anak dan ibunya.
__ADS_1
"Mama, Mama dimana? Daffa merindukan Mama," ucap Daffa yang masih tetap mengigau dalam tidurnya.
"Sayang, Mama juga merindukan kamu. Ini Mama Sayang. Ayo kamu bangun, Mama ada di sini untuk kamu," kata Casey.
Di saat itu pun Daffa tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum melihat sang ibu yang berada di hadapannya.
Casey yang merasa sangat bahagia langsung saja memeluk anaknya dengan erat, diiringi air matanya yang bercucuran. Sonia juga tak dapat menahan kesedihannya, ia merasa terharu dengan pemandangan yang saat ini terlihat di depan matanya.
"Mama, Mama ada di sini? Mama kemana aja? Aku merindukan Mama," ucap Daffa.
"Maafkan Mama ya Sayang, karena Mama sudah meninggalkan kamu. Tapi Mama janji mulai saat ini Mama akan selalu ada buat kamu, Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi," ucap Casey.
"Mama janji ya?" Pinta Daffa.
"Iya, Mama janji," ucap Casey.
Daffa tersenyum lalu mengusap air mata ibunya itu, yang membuat Casey benar-benar sangat tersentuh dan semakin merasa bersalah terhadap anaknya.
Lalu Sonia pun mendekati keduanya, "Daffa, kamu sudah bangun Sayang. Kamu senang tidak ada Mama di sini?" Tanya Sonia.
"Iya Oma, aku senang ada Mama. Papa mana Oma?" Tanya Daffa yang sebenarnya juga membuat Casey penasaran, karena sedari tadi tidak melihat batang hidung mantan suaminya itu.
"Papa sedang ada pekerjaan sebentar, tapi Nanti Papa akan datang ke sini Kok. Daffa tenang saja ya," ucap Sonia.
"Iya Oma, lagipula sekarang 'kan ada Mama di sini, jadi tidak apa-apa kalau Papa kerja dulu," ucap Daffa yang rasanya sangat menyentuh hati Sonia.
Sonia sangat tidak tega untuk memisahkan antara Daffa dan Casey, akan tetapi bagaimanapun juga Casey dan Devan telah berpisah sehingga mereka tidak akan mungkin bisa bersama. Dan 1 lagi, Sonia juga tidak akan rela membiarkan Daffa untuk tinggal bersama ibu kandungnya, mengingat bagaimana perlakuannya dulu terhadap anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung …