
Sementara itu di kediaman Sonia, terlihat Sonia yang tampak yang panik sembari berulang-ulang kali mencoba untuk menghubungi beberapa orang dan meminta bantuan. Pasalnya Daffa yang saat itu tidak ditemukan di sekolahnya oleh sang supir yang terlambat datang menjemputnya, karena tadi ada masalah pada mobilnya di jalan. Dan ia juga tidak bisa mengabari sang Nyonya karena ponselnya itu tertinggal di rumah, hingga pada saat ada yang menolongnya barulah supir tersebut bisa menghubungi nyonya-nya itu.
Sonia juga sudah berulang kali mencoba untuk menghubungi Devan, akan tetapi Devan tidak menjawab telepon tersebut, bahkan nomornya juga sibuk. Mungkin karena banyaknya pekerjaan di kantor saat ini.
Ting … tung …
Mendengar suara bel pintu rumahnya, Sonia pun bergegas menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu tersebut, berharap jika ada kabar baik yang menghampirinya.
"Oma … !" Teriak Daffa saat pintu telah terbuka lebar.
Sonia merasa sangat terkejut, tetapi senang dan juga lega karena apa yang diharapkannya itu benar-benar menjadi kenyataan. Langsung saja Sonia memeluk serta menciumi cucunya itu.
"Sayang, kamu dari mana? Oma khawatir dengan kamu. Tadi supir bilang kamu tidak ada di sekolah dan Oma juga sudah mencoba menghubungi Papa kamu tapi tidak bisa. Kamu kemana, kamu pulang sama siapa?" Tanya Sonia lalu melepaskan pelukannya.
"Maaf Oma, tadi aku sudah lama menunggu sopir tetapi belum juga menjemputku. Jadi aku jalan kaki dan tidak tahu jalan pulang. Untung ada Tante cantik yang menolong ku," ucap Daffa.
"Tante cantik?" Tanya Sonia ingin memastikannya.
"Iya, Tante cantik Oma. Tante ini namanya Lusi, dia yang sudah menolong aku Oma, cantik dan baik 'kan Oma," ucap Daffa menunjuk ke arah Lusi, yang membuat Lusi lagi-lagi merasa malu karena pujian anak kecil tersebut.
Hingga kini Sonia pun tersenyum dan menatap ke arah asisten Thalia itu.
"Siang Tante," ucap Lusi sembari menyalami orang tua Devan.
"Iya siang juga. Kamu Lusi, kamu sudah menolong cucu saya?" Tanya Sonia.
"Oh itu tadi kebetulan saya lewat di sekolah Daffa dan tidak sengaja bertemu dengannya di jalanan Tante. Kebetulan saya juga mengenali Daffa, jadi saya langsung saja antar ke sini," ucap Lusi.
__ADS_1
"Jadi kamu sudah pernah bertemu dengan Daffa sebelumnya?" Tanya Sonia.
Lalu Lusi pun menceritakan bagaimana pertemuannya pertama kali dengan bocah kecil tersebut, serta ia juga sudah mengenal Devan sehingga saat ini mengetahui ia mengetahui alamat Sonia juga dari Devan.
"Ya ampun, jadi yang waktu itu Daffa cerita Tante cantik yang menolongnya di supermarket waktu itu juga kamu? Kita tidak sempat bertemu ya waktu itu," ucap Sonia.
"Iya Tante, waktu itu saya buru-buru karena tiba-tiba bos saya ada keperluan mendadak," ucap Lusi, ia tak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya karena Thalia menghindari Devan.
"Oh … iya, iya. Dan pantas saja tadi saya mencoba menghubungi Devan tetapi tidak bisa, jadi ternyata Devan sedang menghubungi kamu," ujar Sonia.
"Iya Tante, tadi Devan mengatakan kalau dia sedang sibuk, ada pekerjaan. Jadi tidak lama-lama menjawab telepon saya," terang Lusi.
"Terimakasih banyak ya Lusi, saya sangat senang ternyata Daffa baik-baik saja. Sekarang Tante mau menghubungi sopir Tante dulu, kamu masuk dulu ya," titah Sonia.
"Oh tidak usah Tante, saya mau langsung pulang saja ya Tante," tolak Lusi yang merasa tidak enak.
"Iya, masih ada kok. Yang Oma buat tadi malam 'kan," jawab Sonia..
"Nah tuh 'kan Tante. Ayo Tante kita masuk dulu," ajak Daffa.
Hingga akhirnya Lusi pun menuruti keinginan Daffa dan Sonia meskipun hanya sebentar saja.
***************
"Akh … sialan! Kenapa hidupku menjadi seperti ini sih? Kenapa hidupku menjadi berantakan. Aku sudah kehilangan Devan, kehilangan Daffa dan sekarang aku juga harus kehilangan karir ku gara-gara wanita tua itu. Padahal niat awalku hanya ingin bersenang-senang, tetapi kenapa malah istrinya itu membuat hidupku menjadi hancur seperti ini. Lihat saja nanti, aku tidak akan tinggal diam, aku pasti akan membalas perbuatan kalian yang sudah menghancurkan ku, terutama kau Thalia. Ya aku pasti akan membalasnya," ucap Casey yang tak juga menyadari kesalahannya. Ia malah terlihat semakin dendam dengan Thalia, teman yang selalu dibullynya saat zaman SMA.
Casey juga terlihat mengobrak-abrik isi apartemennya sehingga menjadi porak poranda seperti kapal pecah.
__ADS_1
Jenny yang baru saja tiba di apartemennya dan langsung saja masuk karena sudah mengetahui passwordnya itu, merasa sangat terkejut dan nyaris terkena lemparan vas bunga yang dilemparkan oleh Casey. Untung saja vas tersebut mengenai pintu dan hancur berantakan di atas lantai.
"Nona? Nona Kenapa?" Tanya Jenny.
"Hidupku sudah hancur Jen, hidupku berantakan, dan ini semua gara-gara wanita brengsek itu. Aku tidak terima, aku akan membalasnya!," Teriak Casey seperti orang gila.
***************
Malam harinya, tampak Thalia yang sedang menghadap ke cerminnya dan merasa sangat puas dengan dirinya sendiri saat ini. Ia yang zaman sekolah terkenal tidak suka merawat diri sehingga terlihat kucel, tetapi saat ini ia terlihat begitu cantik nyaris sempurna. Wajar saja banyak pria yang saat ini tergila-gila padanya. Akan tetapi bagi Thalia, cantik itu relatif. Sebagai wanita semuanya pasti bisa cantik, asalkan ada niat untuk merubah diri. Thalia sendiri merasa sangat puas dengan perubahannya, membuatnya pun bisa melakukan apa saja yang ia inginkan termasuk untuk membalas dendam kepada orang-orang yang dulu pernah menyakitinya.
Beralih kepada Thalia yang masih tampak merias diri. Ia sengaja berdandan sangat cantik malam ini karena Axel akan mengajaknya untuk ke suatu tempat yang spesial. Meskipun Thalia belum mengetahui kemana Axel akan membawanya pergi, tetapi ia sudah bersiap-siap terlebih dahulu karena memang Axel itu tidak pernah bermain-main jika ia mengatakan spesial untuknya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil Axel yang sudah tiba di depan rumah Thalia dan langsung saja pria tersebut mengetuk pintu kediaman Thalia.
Kebetulan di saat itu Kevin yang mendengar suara ketukan tersebut dan saat ini ia sedang berada di ruang televisi, langsung saja membukakan pintu tersebut.
"Siapa kau? Kenapa kau datang ke sini?" Tanya Kevin, karena ia sama sekali belum mengenal siapa Axel.
"Aku teman dekatnya Thalia. Apakah kau Kevin, adik Thalia?" Jawab Axel dan bertanya balik.
"Iya benar, aku adik tiri Kak Thalia. Kau sudah mengetahuiku?" Tanya Kevin.
"Ya benar, Thalia sudah menceritakan semuanya," jawab Axel.
"Ternyata kau sudah datang?" Tanya Thalia yang berjalan menghampiri Kevin dan Axel.
Lalu kedua pria itu pun langsung saja menatap ke arah sumber suara dan tampak bengong karena melihat wanita yang ada di hadapan mereka saat ini begitu cantik membuat keduanya itu merasa terpesona.
__ADS_1
Bersambung …