Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 44


__ADS_3

Kevin menatap tajam dan melangkahkan kakinya mendekati sang adik yang sedang santai di ruang televisi sambil mendengarkan musik. Setelah tiba di sana, ia pun langsung saja mencabut earphone itu secara paksa dari telinga Kania yang membuat adiknya itu sangat terkejut dan menatap ke arah kakaknya.


"Kak Kevin, apa yang kau lakukan? Kenapa kau kasar sekali?" Tanya Kania.


"Kau bertanya kepadaku? Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, apa yang kau lakukan dengan earphone ku. kau memakai earphone kesayanganku tanpa seizin ku Kania!" Bentak Kevin.


"Aku hanya meminjamnya Kak, karena kau tidak ada di rumah jadi aku memakainya saja dulu. Lagipula apa salahnya sih, aku 'kan hanya meminjamnya saja. Aku juga menggunakannya dengan baik, aku tidak merusaknya." Kania membela diri.


"Aku tidak peduli, apapun itu alasannya, aku tidak suka kau mengganggu barang-barang pribadiku. Apalagi earphone ini adalah barang kesayanganku. Apa kau tahu aku mendapatkan barang berharga ini dengan bersusah payah selama aku bekerja menjadi cleaning service, aku mengumpulkan uang selama 1 tahun untuk membeli barang impianku. Tidak sepertimu yang dengan sangat mudah mendapatkan apapun yang kau inginkan dari orang tua," kata Kevin yang terlihat begitu emosi.


Sehingga Kamila yang mendengar perdebatan antara anaknya itu pun langsung saja menghampiri mereka.


"Kevin, jaga mulutmu! Kenapa kau begitu kasar terhadap adikmu," tegur Kamila yang tak terima melihat anak kesayangannya di bentak-bentak oleh anak sulungnya itu.


"Ck, aku sudah yakin pasti Mama akan membela anak emas Mama ini tanpa mengetahui hal yang sebenarnya," kata Kevin menebak.


"Hal apa? Apakah tentang Kania yang meminjam earphone mu itu.Mama tahu, bahkan saat Kania mengambilnya dari kamarmu Mama juga melihatnya secara langsung," ungkap Kamila.


"Jadi Mama mengizinkannya?" Tanya Kevin.


"Ya tentu saja, itu hanya barang murahan Kevin. Kenapa kau begitu pelit terhadap adikmu sendiri? Kania hanya meminjamnya, kenapa kau tidak mengizinkannya dan malah marah seperti itu terhadapnya," kata Kamila yang tak mau menyalakan Kania sedikitpun, sedangkan anak perempuannya di saat itu hanya terlihat diam saja.


"Hah barang murahan? Ya barang murahan untuk anak manja yang bisanya hanya meminta apapun dengan mudah, tidak berjuang sendiri sepertiku!" Ucap Kevin dengan emosi dan langsung saja pergi meninggalkan adik dan orang tuanya itu.

__ADS_1


Kevin masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya itu dengan keras, sehingga membuat Kania pun merasa terkejut. Sedangkan Kamila hanya geleng-geleng kepala saja melihat sikap anaknya laki-lakinya yang semakin berubah.


"Ma, aku tidak pernah melihat kak Kevin semarah itu padaku," kata Kania yang terlihat sedih.


Lalu Kamila pun meraih tubuh anaknya itu ke dalam dekapannya, "Jangan kau pedulikan ya Sayang. Mama juga tidak tahu kenapa Kevin bisa bersikap seperti itu terhadap mu, padahal dulu dia terlihat begitu menyayangimu. Lihat saja nanti jika Kevin berani bersikap kasar lagi padamu, Mama akan mengatakan hal ini kepada Papa. Kevin pasti aku mendapat hukumannya," ucapnya sehingga membuat Kania pun tersenyum smirk.


****


Lusi Tampak mengguling-guling kan tubuhnya di atas kasur. Meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.00, tetapi ia belum juga bisa tidur. Pasalnya tiba-tiba ia terus saja memikirkan nasib Devan setelah Thalia mengatakan jika dia telah mengakhiri hubungannya dengan pria tersebut, Lusi menjadi iba dengan kondisi Devan saat ini. Ia juga teringat bagaimana pertemuannya waktu itu dengan Daffa yang begitu lucu dan sangat menggemaskan, sehingga membuatnya pun mendadak menjadi merindukan anak kecil tersebut.


"Ya ampun … kenapa juga sih aku memikirkan Devan dan Daffa. Apa iya aku sudah mulai menyukai Devan? Ya aku akui Devan itu Keren meskipun seorang duda dan memang dari awal saat dia menolongnku dan Nona Thalia, aku sudah menyukainya. Tapi aku tidak bisa banyak berharap karena aku tahu Devan hanya menyukai Nona Thalia. Jika sekarang Nona Thalia sudah melepaskan Devan, apa mungkin aku bisa bersama dengannya? Apakah Devan mau denganku? Aku hanyalah seorang asisten, aku juga tidak secantik dan sekaya Nona Thalia. Jelas saja aku bukan wanita impiannya Devan," ucap Lusi yang mendadak minder, nyalinya menciut sebelum mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


Hingga di saat itu pun Lusi berusaha menepis bayangan Devan dari ingatannya dan terus mencoba untuk memejamkan matanya. Tidak tahu pukul berapa ia baru dapat terlelap hingga kebangun keesokan harinya.


****


"Kevin kau kenapa?" Tanya Thalia.


"Kak, aku hanya sedang kesal saja," jawab Kevin.


"Kesal? Kau kesal kenapa?" Tanya Thalia lagi.


"Aku kesal terhadap adikku, karena dia selalu saja bersikap sesuka hati. Bahkan dia telah menggunakan barang kesayanganku tanpa seizin ku. Aku sudah bersusah payah mendapatkan barang itu selama ini dan dia hanya menganggapnya biasa, bahkan Ibuku malah membelanya dan menganggap barang kesayanganku itu adalah barang murahan. Aku benar-benar muak berada di rumah, aku ingin keluar dari rumah, aku ingin mencari rumah kontrakan saja," ungkap Kevin yang membuat Thalia pun tampak berpikir.

__ADS_1


"Kevin, kau yakin ingin keluar dari rumah itu?" Tanya Thalia.


"Ya aku yakin, aku sudah tidak betah tinggal di rumah yang seperti neraka bagiku. Aku benar-benar sudah muak menghadapi sikap adik dan juga kedua orang tuaku yang selalu saja menyalahkan ku. Padahal saat ini aku juga sudah bekerja, tapi sepertinya mereka sama sekali tidak menerima apa yang aku lakukan, dan selalu saja salah. Aku juga tidak pernah lagi meminta uang kepada mereka sepeser pun, bahkan saat aku masih bekerja menjadi cleaning service," jelas Kevin panjang lebar.


"Oke baiklah, kalau begitu kau boleh tinggal di rumahku," kata Thalia yang membuat Kevin merasa terkejut.


"Apa kau serius? Kau memintaku untuk tinggal di rumahmu. Itu tidak mungkin Kak," kata Kevin yang merasa tidak pantas.


"Kenapa tidak mungkin? Kau adalah pegawai dan juga adikku. Apa ada yang salah jika kita tinggal bersama?" Tanya Thalia.


"Tapi aku hanyalah adik tiri mu Kak, bahkan kita tidak memiliki ikatan darah sedikitpun," kata Kevin.


"Lantas kenapa? Apa kau berniat akan berbuat macam-macam denganku?" Tanya Thalia yang menggoda Kevin.


"Tentu saja tidak, aku hanya merasa tidak enak Kak," ucap Kevin.


"Kau tidak perlu sungkan. Lagipula aku tidak hanya tinggal di rumah sendirian, ada Lusi dan juga ada 2 ART di rumah. Kau akan merasa bebas dan juga merasa nyaman karena aku tidak akan pernah mengatur hidupmu selama kau tinggal di rumahku, asal kau pandai saja membawa dirimu," kata Thalia.


"Aku akan memikirkannya dulu Kak," kata Kevin.


"Oke, jika kau sudah mendapatkan jawabannya silahkan temui aku di ruangan ku," kata Thalia yang langsung saja pergi meninggalkan Kevin.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2