
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kamila langsung saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja Edward.
"Kamila, untuk apa kau datang ke sini?" Tanya Edward hingga langkah kaki istrinya itu terhenti, lalu Kamila pun membalikkan tubuhnya dan menatap Edward dengan tajam.
"Memangnya kenapa? Apa aku salah jika ingin datang ke perusahaan suamiku sendiri? Kenapa kau lama sekali membuka pintunya, apa ada yang kau sembunyikan dariku? Tak biasanya kau mengunci pintu seperti itu," ujar Kamila.
"Masalah itu aku hanya tidak ingin diganggu, karena pekerjaanku sangat banyak. Setiap pegawai yang memerlukan ku pasti mereka akan mengetuk pintu terlebih dulu," kata Edward mencari alasan.
"Apa kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Kamila yang menatap penuh curiga, sehingga membuat Edward gugup.
"Apa maksudmu menyembunyikan sesuatu? Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapan mu itu," hardik Edward yang berusaha untuk tetap tenang.
"Ya jika memang tidak ada, kau tidak perlu terlihat gugup seperti itu, Edward. Oh ya yang aku tahu kau sudah memiliki sekretaris baru, seorang wanita muda. Dimana sekretaris mu itu?" Tanya Kamila yang membuat Edward pun begitu terkejut mendengarnya.
Padahal ia sama sekali tidak pernah memberitahu soal sang sekretaris kepada istrinya itu. Sudah pasti Kamila mengetahuinya dari pegawainya yang sudah sangat mengenal baik dengan istrinya itu.
"Sekretaris Ku sedang ada urusan di luar. Aku yang tadi memintanya untuk pergi meeting sendiri, karena aku sedang banyak pekerjaan," Jelas Edward dengan karangan belaka.
"Oh ya? Ternyata sekretaris mu itu selain muda, dia juga pintar ya. Bisa mengatasi meeting di luar sendirian," hardik Kamila yang sebenarnya tidak mempercayainya.
Lalu ia pun segera mencari-cari sesuatu di dalam ruangan tersebut, berharap menemukan sesuatu tentang kecurigaannya akhir-akhir ini.
"Kau sedang apa Kamila? Jika kau ingin datang ke sini menghampiriku, lebih baik sekarang kau duduk saja. Tidak perlu mondar-mandir seperti itu, karena aku masih memiliki banyak pekerjaan," kata Edward.
"Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu dan aku hanya ingin melihat-lihat isi ruangan mu ini saja. Memangnya ada yang salah?" Tanya Kamila, sehingga membuat Edward terdiam.
__ADS_1
Lalu Kamila kembali mengelilingi ruangan tersebut, hingga di saat itu ia menuju ke suatu tempat dimana Jasmine berada di sana. Tentu saja Edward tak mau jika Kamila menemukan kekasih gelapnya itu, sehingga dengan cepat Edward menarik tangan Kamila, membuat wanita itu merasa heran.
"Ada apa?" Tanya Kamila.
"Aku lapar, kebetulan kau ada di sini Bagaimana kalau kita makan siang di kantin. Bukankah kau mengeluh bahwa aku sudah jarang ada waktu untukmu, untuk menemanimu sarapan, makan siang, pagi ataupun makan malam. Jadi kebetulan sekarang ada kesempatan, aku rasa tidak ada salahnya kita makan siang bersama," ajak Edward.
Meskipun Kamila masih bingung dengan sikap Edward yang tiba-tiba, tetapi ia pun tak mau menolak keinginan suaminya itu. Lalu keduanya pun segera saja keluar dari ruangan direktur dan menuju ke kantin untuk menikmati makan siang bersama.
***************
Kevin yang sudah resmi diterima bekerja di perusahaan Thalia, begitu sangat senang dan tampak bersemangat mengerjakan tugas yang diberikan dari Thalia untuknya, serta mengikuti apapun yang menjadi permintaan Kakak tirinya itu. Ditambah lagi Thalia juga memberikannya fasilitas seperti mobil dan apapun yang Kevin inginkan pasti akan Thalia berikan. Karena selain menjadi pegawainya di perusahaan, Kevin juga mau bekerja sama dengannya untuk membalaskan dendamnya itu terhadap Edward dan Kamila.
Kevin sama sekali tak keberatan karena ia juga merasakan hal yang sama dengan Thalia. Bedanya Thalia dibuang ke luar negeri oleh orang tuanya, sedangkan Kevin tetap tinggal bersama mereka meskipun selalu diperlakukan dengan tidak baik dan tidak adil.
"Sudah Nona, saya baru saja selesai makan siang," jawab Kevin.
"Baguslah kau harus memikirkan kesehatanmu juga, jangan terus bekerja seperti itu," kata Thalia yang sangat menyukai cara kerja Kevin, selain rajin ia juga begitu sangat pintar meskipun belum lulus kuliah.
Thalia sengaja menempatkan posisi Kevin sebagai manager distribusi di perusahaannya yang selalu bekerja sama dengan tim. Dan tentu saja Kevin dapat menjalankan tugas itu dengan baik karena kepintarannya.
"Aku sangat beruntung bisa bekerja di perusahaan ini. Meskipun perusahaan ini baru saja berjalan, tetapi perusahaan pusat yang berada di luar negeri sudah sangat berkembang pesat. Aku tidak peduli apapun yang Nona Thalia lakukan, yang penting saat ini aku bisa membuktikan kepada Mama dan Papa bahwa aku bisa hidup dengan uangku sendiri tanpa mereka," batin Kevin.
Rasanya sikap baik dan sabarnya selama ini sama sekali tidak ada gunanya, karena kedua orang tuanya itu sama sekali tidak pernah menganggapnya.
***************
__ADS_1
Setelah lelah dengan aktivitasnya di kantor, kini Devan pun sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Di saat itu tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan masuk dari sang ibu.
"Halo Ma, ada apa?" Tanya Devan yang menjawab telepon tersebut.
"Devan, kamu ada dimana?" Tanya Sonia.
"Aku masih ada di kantor Ma, tapi ini aku sudah mau pulang ke rumah," jawab Devan.
"Dev, sekarang di depan rumah ada Casey. Dari tadi Mama sudah mengusirnya untuk pulang, tetapi dia sama sekali tidak mau pulang, dia tetap kekeh ingin menunggu kamu dan ingin bertemu dengan Daffa. Bagaimana ini?" Kata Sonia dengan nada cemas.
"Oke, Mama tenang dulu ya. Aku minta tolong jaga Daffa dengan baik Ma, jangan sampai Daffa menyadari jika ada Mamanya di luar. Lebih baik Mama ajak saja Daffa main dalam kamarnya, bercerita atau apa sajalah. Alihkan pandangan Daffa Ma. Aku akan segera pulang ke rumah dan berbicara dengan Casey," kata Devan.
"Ya sudah kamu hati-hati ya," pesan Sonia.
"Iya Ma," jawab Devan mengakhiri telepon tersebut.
Tidak membuang waktu lama lagi, Devan pun bergegas melajukan mobil menuju ke rumahnya. Hingga saat ini ia sudah berada di depan rumahnya dan melihat Casey yang di saat itu sedang duduk di kursi depan teras rumah orang tua Devan.
"Dev, akhirnya kau pulang juga. Aku dari tadi menunggumu di sini karena Mama tidak mengizinkan aku masuk," kata Casey.
"Kau ini benar-benar tidak tahu malu atau bagaimana Casey. Hubungan kita akan segera berakhir, seharusnya kau tidak perlu lagi menghampiriku datang ke sini. Aku benar-benar sangat muak melihat sikapmu, begitu juga dengan Mamaku yang sudah tidak menginginkanmu lagi untuk menjadi menantunya," ungkap Devan.
"Tapi sekarang aku masih sah menjadi istrimu Devan dan aku tidak mau bercerai denganmu. Asal kau tahu, wanita simpanan mu itu, selingkuhan mu yang bernama Thalia itu dia adalah musuhku di saat SMA dulu. Dia mendekatimu hanya ingin membalas dendam kepadaku," ungkap Casey yang membuat Devan begitu terkejut mendengarnya.
Bersambung …
__ADS_1