Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 27


__ADS_3

Devan menatap tajam, tak terima karena Casey telah menjelek-jelekkan wanita yang saat ini dicintainya.


"Jaga mulutmu Casey. Sekali lagi kau berbicara sembarangan tentang Thalia, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghajar mu," kata depan penuh emosi.


"Kau benar-benar keterlaluan Devan. Kau benar-benar membela wanita itu dan tidak menganggap ku lagi sebagai istrimu," protes Casey yang merasa sangat kecewa.


"Dengar Casey, saat ini kau itu masih istriku hanya sebagai status, bahkan aku sudah menalak mu. Tinggal hitungan hari, kita akan resmi berpisah. Lebih baik sekarang kau pergi dari rumah orang tuaku atau aku akan memanggil satpam untuk mengusir mu!" Usir Devan.


"Aku tidak mau, aku akan pergi dari sini jika aku sudah bertemu dengan anakku, Daffa. Aku merindukan Daffa Devan, kenapa kau dan ibumu tega sekali memisahkan aku dari Daffa," kata Casey mengiba.


"Mama … !" Teriak Daffa yang di saat itu keluar dari rumah.


Padahal Sonia sudah melarangnya, tetapi Daffa yang mendengar keributan di luar itu pun merasa penasaran hingga berlari keluar dan sangat senang melihat ibunya yang saat itu berada di sana.


"Daffa, anak Mama," ucap Casey yang memeluk sang buah hati dengan erat.


Hingga di saat itu, Sonia dan Devan membiarkan saja keduanya melepas rindu. Bagaimanapun juga Casey tetap ibu kandung Daffa, wajar saja jika Daffa sangat merindukan ibunya. Akan tetapi Devan tidak yakin jika di saat ini Casey benar-benar merindukan anaknya, karena selama ini dia juga tidak pernah menganggap Daffa ada, tidak pernah menanyakan dimana keberadaan Daffa, tidak peduli bagaimana kondisi Daffa. Jadi jika saat ini tiba-tiba saja Casey mengatakan merindukan Daffa, pastinya ada sesuatu alasan yang sedang Casey sembunyikan.


***************


"Nona, sekarang sudah saatnya kita membahas kelanjutan kerjasama dengan perusahaan Tuan Edward. Tuan Edward sangat ingin bertemu dengan Nona, apa Nona sudah siap untuk bertemu dengannya?" Tanya Lusi.


"Apakah dia sudah menandatangani surat kontrak kerjasamanya?" Tanya Thalia yang memang menyerahkan tugas ini sepenuhnya kepada Lusi.


"Sudah Nona, semua sudah sesuai dengan perintah Nona. Hanya tinggal membahas kelanjutannya saja," jawab Lusi.

__ADS_1


"Kerja yang bagus Lusi, tapi untuk sekarang belum saatnya aku bertemu Edward. Kau atur saja bagaimana caranya supaya Edward tidak ngotot untuk bertemu denganku. Kau bisa mengatakan jika saat ini aku sedang berada di luar negeri, nanti di saat aku pulang dari sana, aku pasti akan menemuinya," kata Thalia.


"Baiklah jika memang seperti itu Nona, nanti akan saya sampaikan. Saya permisi dulu Nona," ucap Lusi lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan ruangan Direktur Utama.


"Tunggu!" Panggil Thalia, hingga langkah kaki Lusi pun terhenti dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap bos-nya itu.


"Ada apa Nona?" Tanya Lusi.


"Tolong panggilkan Kevin, suruh dia ke ruangan ku sekarang!" Titah Thalia.


"Baik Nona," jawab Lusi dan segera berlalu.


Tidak berapa lama kemudian, Kevin pun sudah berada di ruangan Thalia setelah tadi ia dipersilakan langsung untuk masuk.


"Ada apa Nona? Kenapa Nona memanggilku?" Tanya Kevin.


"Oh iya aku lupa, baik Kak. Ada apa Kakak memanggilku?" Kevin mengulangi pertanyaan itu lagi.


"Kevin, bukankah kau mengatakan adikmu selalu diperlakukan dengan baik oleh kedua orang tuamu, sedangkan kau selalu diperlakukan tidak adil?" Tanya Thalia ingin memastikannya lagi.


"Iya Kak memang seperti itu. Bahkan aku sampai bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri, karena Mama dan Papa selalu menganggap aku menghambur-hamburkan uang padahal itu hanya untuk biaya kuliahku," jawab Kevin.


"Lalu apakah kau sudah memberitahu orang tuamu bahwa kau saat ini sudah bekerja denganku dan mendapatkan jabatan yang bagus?" Tanya thalia.


"Tentu saja belum. Sesuai perintah Kakak bukan, kakak tidak ingin aku memberitahu mereka terlebih dulu bahwa aku bekerja di perusahaan Kakak. Soal jabatan mereka sudah tahu karena mereka menanyakan soal mobil yang aku gunakan," terang Kevin.

__ADS_1


"Bagus, kau memang bisa diandalkan. Nanti akan ada saatnya di saat aku akan bertemu dengan Edward untuk membahas mengenai kerjasama, maka kau harus ikut denganku. Kita harus memberi kejutan untuknya," kata Thalia yang memang sudah memberitahu tentang rencana kerjasamanya dengan perusahaan Edward.


Kevin pun menyetujuinya, untuk saat ini bukan hanya Lusi saja yang ikut andil dalam permainan Thalia, tetapi juga Kevin yang ikut di dalamnya. Memang benar jika orang jahat itu terlahir dari orang baik yang tersakiti, sehingga saat ini Kevin pun sangat setuju dengan apa yang dilakukan oleh Thalia untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tuanya itu. Kevin sudah sangat muak karena tidak pernah dihargai oleh kedua orang tuanya serta adiknya itu. Bahkan ia merasa jika dirinya bukanlah anak kandung Kamila, karena selalu diperlakukan tidak baik sejak dulu, meskipun ia sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik.


****************


"Gadis kecil, berani sekali kau mengajakku untuk bertemu. Apakah kau sangat merindukanku?" Tanya Bryan di saat ia dan Kania berada di perjalanan.


Setelah mendapatkan pesan dari Kania yang mengajaknya untuk bertemu, dengan cepat Bryan pun menjemput Kania di tepi jalan tak jauh dari rumahnya tanpa berpamitan dengan kedua orang tua Kania. Alasannya Kania tidak akan diizinkan keluar malam-malam seperti ini.


"Ya tentu saja karena aku sangat merindukanmu Kak, kalau tidak mana mungkin aku berani kabur dari rumah seperti ini hanya untuk menemui mu," kata Kania yang benar-benar sudah merasakan jatuh cinta dengan Bryan. Ditambah lagi Bryan yang selalu memberikannya perhatian juga kata-kata romantis, gombalan, yang membuat Kania merasa sangat bahagia.


"Kau ini benar-benar gadis kecil yang nakal, tapi aku suka. Jadi kau mau kita pergi kemana sekarang?" Tanya Bryan.


"Bagaimana kalau kita ke klub malam. Bukankah Kakak mengatakan selalu pergi ke sana? Dari kemarin aku sangat ingin pergi ke sana, tetapi karena aku masih di bawah umur begitu juga dengan teman-temanku, sehingga kami tidak diperbolehkan masuk. Tapi saat ini ada Kakak, jadi sudah pasti aku bisa masuk ke sana 'kan," kata Kania yang membuat Bryan mengernyitkan dahinya itu, tak mempercayai keinginan anak kecil seperti Kania.


"Apa kau yakin? Di sana banyak laki-laki nakal hidung belang yang akan mengganggu gadis-gadis polos sepertimu. Apalagi kau masih terlihat sangat bening, kau pasti sangat mudah untuk dipengaruhi," kata Bryan memperingatkan.


"Kan ada Kakak, aku yakin kok kalau Kakak bisa melindungi ku sehingga tidak akan ada pria hidung belang yang berani menggangguku," kata Kania dengan yakin.


"Ya sudah jika memang itu mau mu, oke! Aku akan membawamu ke sana," kata Bryan dengan sangat senang.


Lalu segera saja Bryan melajukan mobilnya menuju ke salah satu klub malam yang sudah biasa didatangi olehnya.


"Ini benar-benar di luar dugaan, tidak membutuhkan waktu lama aku pasti bisa menjalankan rencana ini dengan sangat baik," batin Bryan tersenyum smirk.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2