
Hingga di saat ini pun mereka berdua telah tiba di depan sebuah klub malam. Kania begitu sangat senang karena setelah sekian lama, keinginannya dapat terwujud dan ini semua karena Bryan. Ia merasa semenjak kenal dengan Bryan, hidupnya terasa lebih bermakna dan tidak membosankan. Kania merasa hidupnya lebih menyenangkan karena bebas daripada terkurung di rumah terus dan selalu diatur oleh orang tuanya, meskipun apa yang ia inginkan selalu dikabulkan.
"Kenapa bengong? Apa kau berubah pikiran, tidak jadi masuk ke dalam?" Tanya Bryan yang melihat Kania masih tampak melamun melihat klub malam tersebut.
"Mana mungkin aku berubah pikiran. Justru aku tidak menyangka, akhirnya bisa datang ke sini juga dan bersama Kakak, pria yang aku sukai," ungkap Kania entah untuk beberapa kalinya.
Akan tetapi Bryan sama sekali belum menanggapi tentang perasaan Kania itu, baginya perasaan yang Kania ungkapkan hanyalah perasaan anak kecil saja yang sedang merasakan cinta monyet.
"Oke! Kalau begitu sekarang kita turun Tuan Putri," kata Bryan yang di saat itu sudah membukakan pintu untuk Kania serta menjulurkan tangannya.
Lalu segera saja Kania menerima juluran tangan Bryan dan keluar dari mobil. Setelah itu pun keduanya masuk ke dalam klub tersebut dengan bergandengan tangan, layaknya sepasang kekasih.
Saat di dalam klub, Bryan memesan minuman lalu mengajak Kania untuk duduk di sebuah kursi dengan lampu remang-remang. Terlihat banyaknya orang di saat itu yang sedang mabuk-mabukan serta memadu kasih di sana, membuat Kania merasa ngeri, sehingga ia pun terus saja mendekati Bryan berharap perlindungan darinya.
"Wah Bro, tidak biasanya kau membawa gadis bening seperti ini. Apakah ini gebetanmu?" Tanya seorang pria yang sudah sangat mengenal Bryan, karena sama-sama berlangganan di klub tersebut.
"Ya ini gebetanku dan kau tidak boleh mengganggunya," jawab Bryan dengan enteng
"Sorry aku pikir tadi bukan. Oke kalau begitu aku tidak akan mengganggunya," kata pria tersebut dan segera pergi.
Kania tersenyum, ia merasa sangat senang karena Bryan menganggapnya sebagai gebetan.
Tidak lama kemudian, minuman yang dipesan oleh Bryan pun telah tiba. Ia memesankan Kania segelas jeruk, berbeda dengannya yang memesan minuman beralkohol rendah akan tetapi tentunya akan sangat memabukkan jika dikonsumsi oleh Kania.
"Kak, kenapa kau memesankan ku jus jeruk?" Tanya Kania yang terlihat bete.
"Lalu kau mau apa?" Tanya Bryan.
__ADS_1
"Kak, masa iya di klub malam seperti ini kau memesankan aku jus jeruk. Tentunya aku ingin merasakan minuman itu juga Kak," kata Kania menunjuk minuman yang saat itu hendak di teguk oleh Bryan.
"Maksudnya minuman ini?" Tanya Bryan menunjuk minumannya.
"Tentu saja Kak, boleh ya?" Pinta Kania.
"Oke, tapi kau tidak boleh banyak-banyak meminumnya gadis nakal," kata Bryan.
"Aku tidak peduli kau mau memanggilku dengan sebutan apa Kak, yang jelas aku hanya nakal denganmu saja," kata Kania tersenyum dan Bryan pun membalas senyuman itu.
***************
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00.30, sudah 2 jam lamanya mereka berada di dalam klub tersebut. Kania yang tadinya hanya ingin mencicipi minuman tersebut, nyatanya ia menghabiskan semua minuman yang dipesan oleh Bryan. Bahkan keduanya saat ini terlihat sama-sama mabuk, hanya saja Bryan masih sedikit lebih sadar dibandingkan Kania yang sedari tadi tampak mengoceh tak jelas.
"Aku mau lagi Kak minumannya, tambah lagi. Ha … ha … ha … ," racau Kania diiringi tawanya.
"Kania, kau benar-benar sudah mabuk berat. Sekarang aku akan mengantarmu pulang," kata Bryan.
"Apa kau yakin?" Tanya Bryan ingin memastikan.
"Aku yakin Kak, tolong jangan antar aku pulang. Bawa aku ke tempat dimana aku bisa merasakan bahagia bersamamu," pinta Kania.
"Oke! Justru ini yang aku inginkan Sayang, tanpa paksaan," kata Bryan begitu antusias.
Lalu ia pun membopong gadis kecil tersebut dan membawanya ke sebuah kamar di klub malam yang mendadak ia pesan. Segera saja Bryan membaringkan tubuh gadis itu di atas kasur secara perlahan.
"Kak sentuh aku Kak, aku sangat menginginkannya," pinta Kania sehingga membuat Bryan pun merasa sangat senang.
__ADS_1
Karena sudah jelas ini jugalah yang merupakan keinginan Bryan, untuk apa lagi ia membawa Kania ke sini jika mereka tidak melakukan apapun. Hanya saja Bryan tidak menyangka jika Kania lah yang memintanya terlebih dulu.
"Kau yakin, apa kau tidak akan menyesalinya?" Tanya Bryan.
"Aku yakin Kak, karena aku mencintaimu. Aku akan memberikan tubuhku untukmu, tolong puaskan aku, jadikan aku milikmu Kak," kata Kania dengan sangat yakin.
Tak peduli jika di saat ini gadis itu sedang mabuk, Bryan pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera saja ia meluma* bibir Kania yang rasanya begitu manis, Kania pun membalas ciuman tersebut. Meskipun ini adalah pertama kalinya Kania melakukan ciuman itu dan sangat sulit untuk menyeimbangkan Bryan yang terlihat begitu bergairah, tetapi Kania tetap berusaha untuk membuat lawannya juga merasa puas dengan permainannya.
Bryan terus saja melakukan sentuhan-sentuhan yang membuat Kania mendes*h dan mengerang kenikmatan. Hingga tanpa sadar kini keduanya telah polos tanpa sehelai benang pun. Bryan tampak liar dengan menari-narikan lidahnya itu menelusuri lekuk tubuh Kania yang begitu indah. Untuk ukuran gadis SMA tentunya itu akan sangat menggiurkan untuk Bryan, terlebih lagi ia lah yang pertama kali menyentuh tubuh gadis tersebut, sehingga membuat Bryan begitu bersemangat untuk melakukannya lebih lagi.
Tak hanya sampai di situ, Bryan melanjutkannya dengan memain-mainkan jarinya di bawah sana, sehingga membuat Kania pun merasa sesuatu yang berdenyut dan melakukan pelepasan yang pertama.
"Ayo lakukan lagi Kak, aku sudah tidak tahan lagi ingin merasakannya," pinta Kania karena terus mendapatkan penyerangan dari Bryan.
"Oke Baby, aku akan melakukannya sekarang. Tapi apa kau yakin tidak akan menyesal, karena aku tidak mungkin bisa mengembalikan keadaan seperti semula?" Tanya Bryan, padahal miliknya juga sudah tidak tahan minta untuk segera dipuaskan.
"Aku yakin Kak, lakukan saja!" Titah Kania diiringi des*hannya, karena Bryan kembalikan memainkan miliknya.
"Baiklah Sayang, bersiap-siap untuk menikmati permainan bersamaku," bisik Bryan sembari mengendus-endus di telinga Kania, yang membuat wanita itu kegelian dengan hasrat yang begitu menggebu.
Lalu Bryan pun mengarahkan juniornya yang telah mengeras ke lembah kenikmatan milik Kania. Akan tetapi di saat ia hendak menancapkannya, rasanya begitu sulit dan membuat Kania kesakitan.
"Akh … ," rintih Kania.
"Sabar Sayang, aku akan pelan-pelan atau lebih baik kita sudahi saja," kata Bryan dan hendak bangun, akan tetapi dengan cepat Kania pun menarik tubuh Bryan kembali.
"Jangan Kak, ini sudah tanggung. Lakukan saja," pinta Kania dalam setengah sadarnya.
__ADS_1
Sesuai permintaan Kania, Bryan pun kembali menancapkan nya dengan beberapa hentakkan, tak peduli dengan teriakan Kania yang juga mencakar punggungnya, hingga pada akhirnya ia dapat menjebol gawang milik Kania. Kania menitikkan air matanya karena merasakan begitu sakit yang luar biasa, akan tetapi dengan sentuhan-sentuhan kelembutan yang diberikan oleh Bryan membuat Kania pun melupakan rasa sakit itu dan berganti merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sehingga keduanya menghabiskan malam bersama di dalam kamar klub tersebut dengan menginap di sana.
Bersambung …