Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 58


__ADS_3

Part 58


"Kania, bangun Kania. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa menjadi seperti ini? Mama mohon jangan tinggalkan Mama Kania, hanya kau lah satu-satunya yang Mama punya saat ini. Kania … !" Teriak Kamila sembari mengguncang tubuh anaknya itu.


Lalu ia pun meminta pertolongan warga di sekitar untuk segera membawa Kania ke rumah sakit. Akan tetapi setibanya di rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Karena Kania sudah tak lagi bernyawa, ia telah kehabisan banyak darah sehingga tidak dapat tertolong lagi. Diduga Kania bunuh diri karena ia begitu tersiksa menerima keadaannya saat ini, mendapati dirinya yang hamil tetapi pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab.


Melihat anaknya yang sudah terbaring kaku, membuat Kamila menangis, menjerit histeris dan merasa hidupnya benar-benar hancur.


Di Saat itu pula, terlihat Kevin, Thalia, Axel dan Lusi yang datang menghampirinya. Setelah tadi mendengar kabar duka tentang Kania dari seseorang, mereka pun memutuskan untuk datang ke rumah sakit.


"Ma," ucap Kelvin lirih, sehingga Kamila pun menatap ke arah mereka.


"Untuk apa kalian datang ke sini? Apa kalian ingin menertawakan ku? Kalian puas 'kan melihat anakku yang telah mati karena bunuh diri. Ini 'kan yang kalian inginkan?" tuding Kamila dengan penuh emosi.


Padahal yang sebenarnya Thalia dan Kevin ikut merasakan sakit sedih seperti apa yang dirasakan oleh Kamila saat ini. Karena bagaimanapun juga, Kania tetap adik mereka berdua.


"Ma, aku sama sekali tidak merasa senang atas kepergian Kania. Aku juga merasa sedih, aku juga tidak menyangka kenapa Kania bisa seperti ini. Sebenarnya Kania ada masalah apa Ma?" Tanya Kevin yang mendekati ibunya, lalu memeluknya dengan erat.


"Lepaskan! Lepaskan aku, Kevin. Kau itu sama saja dengan kakakmu itu. Kau sengaja 'kan bersekongkol dengannya ingin menghancurkan Mama dan adikmu," tuding Kamila yang memberontak, sehingga membuat Kevin pun terjatuh karena dorongannya.


Axel yang berada di dekat sana, langsung membantu Kevin untuk berdiri. Axel sangat tahu jika saat ini Kevin begitu rapuh, sehingga ia pun menenangkan adik tiri kekasihnya itu.


"Ma, aku datang ke sini hanya ingin mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Kania. Dan aku tahu jika Mama tidak mempunyai keluarga sama sekali di sini, jadi aku akan membantu untuk mengurus pemakaman Kania," ucap Thalia.


"Ck, aku tidak sudi. Aku tidak butuh kalian ikut campur di sini. Lebih baik sekarang kalian semua pergi dari sini, aku sama sekali tidak membutuhkan kalian," tolak Kamila mentah-mentah.


"Ma, tolong terima bantuan kita ya Ma. Ini semua demi Kania," ucap Kevin.


"Diam! Diam kamu Kevin! Jangan banyak bicara. Apa kamu pikir Mama tidak bisa Mengurus adik kamu sendiri," ucap Kamila, lalu ia pun mengurus segalanya sendiri seperti apa yang dia dikatakannya tadi dan membawa Kania pulang ke kediamannya.

__ADS_1


Akan tetapi Thalia dan Kevin tidak tinggal diam, mereka tetap mengikuti Kamila hingga kini mereka sudah sampai di rumah sederhana yang belum lama dibeli oleh Kamila.


Kamila pun tak henti-hentinya menangisi kepergian Kania, hingga sampai proses pemakaman Kania selesai. Tentu saja semua itu telah diurus oleh Thalia, meskipun Kamila telah menolak sebelumnya.


"Maafkan aku Ma, aku tahu jika aku banyak salah, tetapi aku mohon Mama dengarkan aku. Mama harus mengambil hikmah dari semua ini, sekarang Papa sudah di penjara, Kania telah meninggal, sudah tidak ada lagi yang menemani Mama sekarang. Aku harap Mama bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Kalau Mama mau berubah menjadi orang baik, aku akan kembali kepada Mama," kata Kevin saat mereka di berada di pemakaman.


Kebetulan seluruh masyarakat yang ikut mengantar kepergian Kania saat ini juga telah pergi, hanya tinggal Kamila, Kevin, Kania, Lusi Alex dan Toni.


"Aku tidak Sudi menganggap kalian adalah anak-anakku. Kalian yang telah menyebabkan anakku menjadi seperti ini," tuding Kamila.


"Jangan menuduh kami seperti itu Ma, bahkan kami saja tidak tahu kenapa Kania bisa melakukan bunuh diri. Kenapa sekarang Mama malah menyalahkan kami," bantah Kevin yang tak terima dan tak habis pikir dengan ibunya itu.


Sedangkan Thalia tampak diam saja, terbesit rasa bersalah dalam dirinya karena ia tahu apa yang menyebabkan Kania bunuh diri dan Thalia lah yang sudah melibatkan Bryan dalam hidup Kania. Hanya saja ia tak menyangka jika pria itu malah melakukan hal di batas kewajaran sehingga membuat adiknya itu hamil.


"Hentikan omong kosong itu. Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini! Aku sama sekali tidak membutuhkan kalian," usir Kamil dengan beringasnya.


"Tapi Ma," ucapan Kevin terhenti, karena di saat itu ada Thalia yang mendekatinya.


"Kania sekarang kamu sudah pergi, Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi Kania. Hanya kamulah satu-satunya anak Mama, hanya kamulah yang selalu berada di samping Mama," ucap Kamila dengan air matanya yang bercucuran.


Kevin sangat sedih melihat akan hal itu, ia sangat sadar jika selama ini ia sama sekali tak dianggap oleh ibunya itu. Kevin menjadi berpikir, jika ia yang pergi, apakah Kamila akan merasakan sedih seperti saat kehilangan Kania.


Setelah itu pun Kamila langsung saja beranjak dari pemakaman dan hendak pergi. Kevin terlihat mengikutinya dari belakang, lalu diikuti oleh Thalia dan lainnya.


Akan tetapi Kamila terlihat semakin menjauh. Hingga di saat itu, Kamila tidak melihat kanan kiri dan akhirnya tertabrak oleh mobil.


"Mama …. " Teriak Kevin.


Kevin dan Thalia merasa sangat terkejut melihat Kamila yang sudah tergeletak di jalanan.

__ADS_1


****


Setelah diperiksa dan diobati, tampak Kamila yang saat ini telah sadar. Sehingga Kania, Kevin, Axel dan Lusi pun masuk ke dalam ruangan tempat dimana Kamila berada.


"Ma, bagaimana keadaan Mama sekarang?" Tanya Kevin.


"Untuk apa lagi kalian datang ke sini, hah? Apa kalian sengaja ingin menertawakan ku? Iya 'kan?" Kata Kamila dengan emosi.


"Ma, sebaiknya Mama sabar, tahan emosi Mama. Kita datang ke sini karena kita peduli dengan Mama, tapi kenapa Mama malah marah-marah seperti itu," kata Kevin.


"Ck, peduli? Peduli apa kalian? Jangan berpura-pura peduli padaku, kalian pasti senang 'kan, kalian pasti tertawa di atas penderitaan ku saat ini," tuding Kamila.


Di saat itu pun ia ingin menggerakkan kakinya, tetapi semuanya terasa seperti mati. Sehingga membuatnya merasa takut dan kebingungan.


"Dokter, ada apa dengan kaki saya? Kenapa kaki saya tidak bisa bergerak?" Tanya Kamila, membuat semua orang yang berada di sana pun ikut merasa khawatir.


"Maaf Nyonya, Nyonya mengalami kelumpuhan pada kedua kaki Nyonya," ucap dokter yang membuat mereka semua pun sangat terkejut.


"Apa? Tidak, itu tidak mungkin … , saya tidak mungkin lumpuh 'kan Dok. Tidak … !" Teriak Kamila begitu histeris diiringi tangisannya.


Kevin pun ikut menangis dan merasakan perih, ia tak bisa menahan kesedihan, karena bagaimanapun juga Kamila tetaplah ibu kandungnya. Begitu juga dengan Thalia, meskipun ia selalu disakiti oleh kamila dan niatnya juga membalas dendam kepada kamila, tetapi ia juga merasa sedih melihat ibu tirinya dalam kondisi seperti sekarang ini.


"Ma, Mama tenang ya Ma. Mama jangan seperti ini," kata Kevin yang kini pun memeluk ibunya, sehingga semakin lama Kamila luluh dan merasa nyaman berada di pelukan Kevin.


"Kevin, Mama lumpuh. Sekarang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Sudah tidak ada gunanya Mama hidup, lebih baik Mama mati menyusul Adik kamu," kata Kamila.


"Tidak Ma, Mama tidak boleh pergi. Mama masih punya aku dan Kak Thalia," ucap Kevin. "Kak, aku mohon maafkan Mama. Lalu apakah Kakak mengizinkan jika Mama tinggal di rumah Kakak, kalau tidak biar aku yang keluar dari rumah Kakak dan aku akan tinggal bersama Mama," kata Kevin.


"Tidak Kevin, kamu dan Mama jangan tinggal di rumah itu. Karena rumah itu terlalu kecil. Kamu boleh kok membawa Mama ke rumah," kata Thalia. dengan keikhlasan hatinya.

__ADS_1


Axel tersenyum, ia sangat bangga terhadap kekasihnya itu. Lalu ia pun merangkul tubuh sang kekasih, yang membuat Thalia merasa begitu nyaman berada di pelukannya.


Bersambung …


__ADS_2