Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 56


__ADS_3

Delisa masih tampak bengong dan tak percaya melihat wanita yang dari tadi ada di pikirannya saat ini sudah berdiri di hadapannya.


"Tha-Thalia. kau benar-benar Thalia?" Ucap Delisa yang terlihat begitu terkejut.


"Hai Bu, iya aku Thalia. Ibu tidak salah kok," jawab Thalia yang berjalan mendekati mantan wali kelasnya itu.


"Thalia maafkan Ibu Nak. Ibu sadar jika dulu Ibu terlalu jahat terhadap kamu. Ibu telah pilih kasih, Ibu telah menyakiti hati kamu bahkan demi membela Casey, padahal dia yang salah. Ibu benar-benar menyesal," ucap Delisa yang saat itu pun turun dari kursi rodanya lalu bersimpuh dan bersujud di bawah kaki Thalia, membuat Thalia dan Toni merasa sangat terkejut.


Thalia pun langsung saja menundukkan dirinya dan meminta Delisa untuk bangun, "Bu jangan seperti ini Bu. Aku mohon ibu bangun," ucapnya.


"Tidak Thalia, Ibu rasa dengan ibu bersujud seperti ini saja tidak bisa untuk menebus semua kesalahan Ibu terhadap kamu di masa lalu. Saya benar-benar minta maaf," ucap Delisa diiringi air matanya yang bercucuran.


Akan tetapi di saat itu Thalia tetap saja berusaha untuk membangunkan Delisa. Dengan bantuan Toni, kini Delisa telah duduk kembali di kursi rodanya. Malah Thalia yang saat ini menundukkan diri serta tangannya yang menggenggam tangan wanita tua tersebut.


"Bu sudah ya, saya sudah memaafkan Ibu kok. Kalau tidak untuk apa juga saya membantu Toni, saya memberikan fasilitas untuk kalian berdua, ini semua semata-mata karena saya merasa kasihan jika Toni harus jauh dari ibunya. Cukup saya yang mengalami jauh dari ibu kandung saya sendiri, sampai kapanpun kami tidak akan pernah bertemu lagi Bu, Ibuku sudah berada di surga. Untuk itu saya mencoba ikhlas untuk memaafkan ibu," kata Thalia yang kini pun juga ikut menangis, sehingga membuat Delisa merasa iba dan semakin merasa bersalah terhadap anak muridnya itu.


"Kamu yang sabar ya Nak dan sekali lagi saya benar-benar minta maaf dengan kamu. Waktu itu saya terpaksa karena posisi Ibu sangat sangat membingungkan, serba Salah. Casey adalah anak seseorang yang sangat berpengaruh di sekolah kita, sehingga Ibu tidak bisa untuk melawannya. Karena waktu itu Ibu juga diancam akan dipecat jika Ibu membela kamu," terang Delisa yang terlihat begitu menyesal.


"Sudah Bu sudah. Jangan dibahas lagi ya, itu hanyalah masa lalu. Saat ini aku datang ke sini karena aku mau minta maaf sama Ibu, karena waktu itu aku sudah bermaksud jahat dan meminta Toni untuk membawa Ibu ke panti jompo. Tapi aku sadar bahwa Toni ini anak yang baik dan berbakti kepada orang tua, aku sendiri senang bisa menjadi teman Toni. Untuk itu aku tidak mau memisahkan Ibu dari Toni," ucap Thalia.


"Terimakasih banyak Thalia. Apa boleh jika Ibu memeluk kamu?" Tanya Delisa.


Thalia menganggukkan kepalanya, lalu keduanya pun berpelukan. Thalia merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Delisa, rasanya ia sudah lama tidak mendapatkan pelukan dari seorang ibu.

__ADS_1


Sedangkan Toni merasa sangat terharu melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.


****


Karena sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, saat ini Edward pun memilih untuk tinggal di perusahaan. Saat ia baru saja membuka matanya, di saat itu pula ia dikejutkan dengan suara keributan di luar perusahaan. Sehingga Edward pun langsung saja berlari ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


Terlihat beberapa orang yang sedang melakukan demo karena gaji mereka selama 3 bulan terakhir tidak dibayar penuh dan bahkan bulan ini belum di bayar sepenuhnya, sehingga mereka pun mogok bekerja. Bukan hanya itu saja, terlihat juga beberapa investor yang datang ingin menuntut ganti rugi terhadap Edward, karena sampai sekarang kerjasama mereka tidak ada kejelasan. Dari mereka juga mengaku mengalami kerugian.


"Edward keluar kamu! Jangan bersembunyi di dalam sana," ucap investor 1.


"Cepat keluar Edward, hadapi kami," kata investor 2.


Sehingga di saat itu pun Edward tidak punya pilihan lain, ia segera saja keluar dari tempat persembunyiannya dan menghadapi orang-orang yang sedang menunggunya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua menyerangku?" Tanya Edward.


"Iya, kami minta hak kami. Jangan uang saja yang sudah kau telan, tetapi kami tidak mendapatkan keuntungan apapun," kata investor 2.


"Tenang-tenang, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bagaimana jika meeting dulu di dalam," ucap Edward.


"Ya itu lebih baik, kebetulan saat ini pemilik perusahaan yang baru juga akan datang. Jadi kita bisa meeting dengan beliau sekaligus," ucap investor 1.


"Saya setuju," sahut investor lain.

__ADS_1


"Apa maksud kalian dengan pemilik perusahaan baru?" Siapa dia?" Tanya Edward tak mengerti.


"Saya, sayalah pemilik perusahaan yang baru," ucap seorang wanita ya yang datang di dampingi oleh asisten dan juga 2 staff-nya.


Membuat Edward dan para investor serta pegawai di perusahaan tersebut menatap ke arahnya. Mereka sangat kagum melihat wanita tersebut yang begitu cantik, berjalan dengan anggunnya mendekati mereka. Tetapi tidak dengan Edward yang terlihat begitu terkejut dan tatapan penuh kebencian.


"Selamat pagi Nona Thalia," sapa semua orang yang ada di sana sembari memberikan hormat kepadanya, tentunya mereka sudah mengenal nama Thalia meskipun ada yang baru pertama kali melihatnya.


Sedangkan Edward hanya diam saja dan terlihat tidak suka, "Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanyanya.


"Apakah kau kurang jelas tadi apa kata para investor ini, bahwa aku adalah pemilik perusahaan yang baru," kata Thalia.


"Tidak, tidak mungkin. Aku tidak rela jika perusahaanku jatuh ke tanganmu!" Bantah Edward.


"Lalu apa yang bisa kau lakukan Edward?" Kau sudah tidak memiliki apapun, bahkan utangmu sekarang ada di mana-mana. Perusahaan ini otomatis menjadi milikku, karena aku adalah pemegang saham terbesar di sini," kata Thalia.


"Sampai kapanpun aku tidak sudi memberikan perusahaan ini padamu. Bagaimanapun caranya aku akan mempertahankan perusahaan ini," tolak Edward.


"Silahkan saja, kalau bisa kerahkan semua usahamu. Tapi aku rasa, bahkan kau menjual ginjal saja tidak akan mungkin bisa membayar seluruh hutang perusahaan," kata Thalia dengan kata-katanya yang tajam.


"Kau benar-benar licik. Jadi ini tujuanmu diam-diam mengajak perusahaanku bekerja sama, hanya untuk menghancurkanku. Pasti kau ingin membalas dendam atas perlakuanku dulu 'kan," kata Edward.


"Kenapa sekarang kau jadi menyalahkanku. Apakah kau tidak sadar diri Edward, kau tidak pernah mengakui kesalahanmu, kau itu terlalu sombong dan angkuh. Kau juga berselingkuh dan mengabaikan istri serta anakmu demi perempuan lain, kau memanjakan wanita lain sampai kau tidak pernah memikirkan nasib keluargamu sendiri. Aku pikir kau hanya melakukannya terhadap Ibuku,.tapi ternyata kau juga mengulangi perbuatanmu itu saat ini terhadap Kamila. Jika perusahaanmu bangkrut itu bukan kesalahan orang lain, tetapi salahmu sendiri," kata Thalia yang membuka kedok Ayah kandungnya sendiri.

__ADS_1


Sehingga membuat semua orang yang ada di sana pun menatap Edward dengan tatapan tajam, membuat Edward merasa sangat malu dan juga sangat marah. Ia tidak menyangka akan dipermalukan serta dijatuhkan oleh anak kandungnya sendiri.


Bersambung …


__ADS_2