Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 42


__ADS_3

Mendengar ucapan sang istri membuat Edward mendadak emosi, "Apa kau sudah gila Kamila? Kau tidak memikirkan berapa harga mobil Tesla itu? Apa kau pikir kita bisa membelikannya dengan daun? Kau tidak lupakan bagaimana kondisi perusahaan saat ini?" Edward menatap tajam.


"Aku tahu, aku sangat tahu Edward, tapi apa salahnya jika kau membelikan anak kita mobil. Sebentar lagi dia ulang tahun dan dia meminta mobil tersebut. Apakah kau tega membiarkan Kania terus-terusan diejek oleh teman-temannya, dia anak seorang pengusaha tapi setiap hari hanya diantar oleh supir. Kania ingin sama seperti teman-temannya yang membawa mobil ke sekolah," kata Kamila.


"Aku tidak setuju." bantah Edward yang jelas-jelas menolaknya.


Ia langsung berpikir darimana harus mendapatkan uang lagi untuk membelikan Kania mobil. Karena ia baru saja menguras keuangan di perusahaan untuk membelikan kekasih pujaan hatinya itu sebuah mobil juga. Tentu saja Edward tidak tahu lagi harus mendapatkan uang dari mana.


"Kau benar-benar keterlaluan! Kau benar-benar berubah. Padahal dulu apapun yang Kania inginkan kau selalu membelikannya, kau selalu memberikan yang terbaik untuk anak kita tanpa memikirkan uang. Tapi sekarang sepertinya kau tidak pernah memikirkan perasaan Kania lagi," ujar Kamila yang terlihat sangat kecewa.


"Bukan seperti itu Kamila, kau tahu sendiri 'kan keuangan di perusahaan belum stabil. Bahkan kau juga tahu aku sedang membutuhkan suntikan dana dengan jumlah yang banyak. Setidaknya membuat perusahaan kita sampai sekarang masih beroperasi saja sudah untung, jadi jangan pernah berpikiran untuk yang macam-macam terlebih dulu. Apa kau sebagai ibunya tidak bisa memberi pengertian tersebut kepada anakmu. Jika Kania tetap nekat ingin memiliki mobil saat ini juga, perintahkan saja dia bekerja seperti Kevin, supaya dia bisa membeli mobil itu sendiri," titah Edward.


"Kenapa sekarang kau malah membela Kevin," kata Kamila.


"Aku tidak membela Kevin, tapi itulah kenyataannya. Saat ini Kevin sudah benar-benar mandiri dan tidak pernah menyusahkan kita lagi saja setidaknya sudah mengurangi beban pikiranku. Sudahlah aku capek, sudah kuduga jika perlakuan manismu itu hanya karena ada sesuatu yang kau inginkan. Dan benar saja 'kan membuat kepalaku ingin pecah berada di rumah ini," kata Edward yang langsung saja berjalan menuju ke kamar mandi.


Ternyata di saat itu Kevin mendengar percakapan antara kedua orang tuanya. Karena memang mereka berdebat tidak jauh dari kamarnya, sehingga di saat Kevin tadinya hendak keluar tetapi ia menundanya terlebih dulu karena tidak mau ikut campur urusan orang tuanya, bukan tidak mau tetapi lebih memilih tidak pernah mau tahu lagi.


"Kania … Kania … kau selalu saja iri denganku. Padahal dari dulu kau yang selalu dimanjakan, apapun yang kau inginkan selalu dengan mudah kau dapatkan. Berbeda denganku yang harus berjuang sendiri," gumam Kevin tersenyum sinis.


***************


Karena stok persediaan cemilan di kulkas telah habis, Thalia pun mengajak Lusi untuk berbelanja. Tetapi ia tidak mengajaknya pergi ke mall melainkan ke sebuah supermarket saja, yang lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Hingga saat ini Thalia dan Lusi sudah tiba di supermarket tersebut dan tampak sedang mencari-cari makanan serta minuman favorit mereka.


"Nona, apa kau tahu jika aku senang sekali. Karena setelah sebulan, akhirnya kau mengajakku keluar lagi. Aku benar-benar bosan Nona setiap hari hanya ke kantor, rumah, kantor, rumah dan sekarang Anda mengajakku keluar. Ini benar-benar suatu kebanggaan untukku, terimakasih banyak Nona," ucap Lusi yang terlihat begitu senang.


Rasanya sudah lama sekali ia tidak berbelanja seperti yang biasa ia lakukan bersama nonanya itu, meskipun hanya sekedar membeli cemilan. Karena memang keduanya sangat hobi untuk mengemil saat menonton televisi atau menemani hari-hari mereka selama di rumah.


"Kau tidak perlu berlebihan seperti itu, aku juga kasihan melihat hidupmu hanya sekedar di rumah dan kantor saja. Bahkan teman pria pun kau tidak punya untuk mengajakmu berjalan-jalan. Lebih baik kau cepat mencari teman kencan, supaya kau tidak merasa kesepian disaat aku sedang berkencan dengan Axel," kata Thalia.


"Mana ada sih pria yang mau denganku Nona. Apalagi aku hanya sibuk dengan pekerjaanku sampai tidak memikirkan untuk berkencan saat ini. Ya kecuali memang nanti tiba-tiba ada seorang pangeran yang datang menghampiriku dan mengajakku berkencan, aku tidak mungkin menolaknya. Dengan senang hati aku pasti akan menerimanya," kata Lusi tersenyum sembari membayangkan sesuatu yang Indah.


"Jangan dibayangkan, aku takut kau akan kecewa karena khayalanmu itu terlalu tinggi. Lebih baik sekarang kau pilih saja cemilan yang kau inginkan, jangan lupa sekaligus cemilan untuk Bi Ani dan Mbak Arum. Aku mau ke sebelah sana dulu, ada yang ingin aku cari," titah Thalia, yang memang tidak pernah lupa dengan para ART di rumahnya jika berbelanja.


"Baik Nona," jawab Lusi, lalu Thalia pun pergi meninggalkannya.


Di saat Lusi sedang asik memilik snack, tiba-tiba saja …


Brak …


Ada seorang anak kecil yang menabrak Lusi dan membuat beberapa snack yang ia pegang pun terjatuh ke atas lantai.


"Akh," rintih Lusi yang merasa perutnya sakit terkena kepala anak kecil tersebut.


"Tante, apa Tante baik-baik aja? Aku minta maaf Tante. Aku tidak sengaja," ucap anak kecil laki-laki yang begitu lucu dan membuat Lusi tersenyum karena tingkahnya itu.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Sayang, Tante baik-baik saja kok. Kamu pintar sekali, menggemaskan juga. Tapi lain kali kamu harus berhati-hati ya, jangan berlari-lari seperti tadi," kata Lusi memberi nasehat.


"Iya Tante, maafkan aku ya Tante. Aku hanya ingin mengambil cemilan di sana," kata anak laki-laki itu sembari menunjuk snack kesukaannya yang tak bisa ia jangkau.


"Oh kamu mau ya itu, Tante bantu ambilkan ya," kata Lusi lalu mengambilnya dan memberikan kepada anak kecil tersebut.


"Terimakasih banyak ya Tante cantik," ucap anak laki-laki itu, yang membuat Lusi pun menjadi malu mendapat pujian dari seorang anak kecil.


"Iya sama-sama Sayang. Boleh Tante tahu nggak nama kamu siapa? Oh ya orang tuamu dimana?" Tanya Lusi.


"Papa dan Omaku ada di sana Tante," ucapnya sembari menunjuk. Namaku Da-"


"Daffa … !" Panggil seorang pria dewasa yang sedang kebingungan mencari anaknya.


"Papa … aku di sini!" sahut anak kecil tersebut yang melihat sang ayah.


Hingga pria dewasa yang melihat anaknya itu pun langsung saja mendekati anak dan wanita yang saat ini sedang bersama dengan anaknya itu.


"Tuan Devan?" Ucap Lusi terkejut.


"Lusi? Kenapa kau bisa bersama anakku?" Tanya Devan yang tak kalah terkejutnya dengan Lusi.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2