
"Kau benar-benar keterlaluan Thalia, kau begitu tega menjebak ayahmu sendiri hanya untuk menguasai perusahaan ini," kata Edward.
menatap tajam.
"Aku sama sekali tidak menjebak mu Papaku tersayang. Tapi ini semua hanya karena kebodohan dan kelicikanmu sendiri. Oh iya ada 1 lagi yang ingin aku ingatkan padamu, karena kau sudah mengkorupsi uang perusahaan, kau telah memakai semua dana investasi kami sedangkan kerjasama sama sekali tidak berjalan, jadi kau juga akan menerima hukumannya," kata Thalia.
"Hukuman apa? Bukankah sudah cukup dengan kau mengambil alih perusahan ini?" Tanya Edward.
Wi … u … wi … u …
Di saat itu pun terdengar suara sirine mobil polisi yang datang, sehingga membuat Edward merasa ketakutan.
"Apa ini maksudnya? Kenapa ada polisi? Tanya Edward.
"Tuan Edward, kau masih berani bertanya. Sudah jelas polisi datang untuk menjemputmu, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu itu di penjara. Kau harus menerima hukuman yang setimpal," kata investor 1.
"Tidak, aku tidak mau dipenjara. Aku tidak salah!" Bantah Edward.
"Kau masih bisa merasa tidak bersalah? Sudah jelas kau telah memakan uang kami semua dan kau masih mengakui tidak bersalah hah? Jika kau tidak mau masuk penjara, kau harus mengganti rugi semua uang kami," kata investor 2.
"Aku akan menggantinya, tapi tidak sekarang. Sekarang ini aku tidak punya apa-apa lagi kecuali perusahaan ini," kata Edward.
"Dan perusahaan ini sekarang adalah milikku, jadi kau sama sekali tidak bisa mengandalkan perusahaan ini lagi Tuan." Thalia menegaskan.
"Thalia, Kevin, Papa mohon kasihani Papa. Kenapa kalian tega sekali melakukan ini," kata Edward.
Kevin, Toni dan Lusi yang sedari tadi mendampingi Kania ke perusahaan tersebut memang tampak diam saja.
Sebenarnya Kevin sangat kasihan melihat keadaan Edward, tetapi mengingat apa yang sudah dilakukan pria paruh baya itu selama ini terhadapnya, terlebih lagi mengingat cerita Thalia bahwa Edward pernah membuangnya ke luar negeri, membuat Kevin pun tak dapat berbuat apapun. Apalagi setelah mengetahui sifat bejat ayahnya yang telah berselingkuh dengan wanita lain, bahkan rela menghabiskan seluruh hartanya untuk wanita tersebut, membuat Kevin yakin jika ini adalah saatnya untuk membuat ayahnya itu jera.
Hingga di saat itu pun polisi langsung saja turun menangkap dan memborgol tangan Edward.
"Thalia, Kevin Aku tidak akan pernah melupakan hal ini. Kalian berdua benar-benar anak yang tidak tahu diuntung, kalian berdua pasti akan mendapatkan balasannya karena telah menjadi anak yang durhaka," ucap Edward menatap penuh amarah.
Setelah itu pun polisi langsung saja membawa Edward masuk ke dalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.
Saat Edward telah berlalu dari pandangan mereka, di saat itu pula Thalia tampak menghela nafas dan menghembuskan nya secara kasar. Meskipun ia merasa sangat puas karena telah memberikan pelajaran kepada ayahnya, akan tetapi jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan sedih. Karena bagaimanapun juga Edward adalah ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Kak, aku yakin ini adalah keputusan yang terbaik. Semoga dengan di penjara bisa membuat Papa jera, Papa bisa sadar bahwa perbuatannya selama ini adalah salah," ucap Kevin sembari mengelus pelan pundak kakaknya itu.
Thalia tersenyum, lalu mereka semua pun masuk ke dalam perusahaan untuk segera rapat antar pemilik perusahaan yang baru dengan pemilik saham di perusahaan tersebut.
**************
Beberapa hari kemudian, karena Edward tidak datang ke persidangan perceraian, membuat Kamila pun bertanya-tanya kemana suaminya itu pergi. Padahal mereka berdua akan menjalani sidang terakhir dan setelah itu pun akan resmi bercerai. Setelah mendengar kabar bahwa Edward saat ini masuk penjara, membuat Kamila pun merasa sangat terkejut dan sempat mengunjungi Edward ke sel tahanan, lalu mendengar semua cerita dari Edward tentang Thalia dan Kevin, membuat Kamila semakin terkejut.
"Bagaimana bisa Thalia bekerja sama dengan Kelvin untuk menghancurkan ayahnya sendiri, dimana letak perasaan mereka. Thalia. dan Kevin benar-benar keterlaluan! Lalu setelah mereka membuat Edward masuk penjara, apakah kini mereka akan menghancurkan ku juga," gumam Kamila yang terlihat begitu khawatir.
Huwek … huwek …
Tiba-tiba di saat itu pun terdengar suara dari kamar mandi, yaitu suara seseorang yang sedang muntah. Lalu segera saja Kamila keluar dari kamarnya dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kebetulan pintu kamar mandi tidak tertutup, sehingga ia pun dapat melihat dengan jelas Kania yang sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya itu.
"Kania? Kau kenapa?" Tanya Kamila yang mengkhawatirkan sang anak dan mendekatinya.
"Aku tidak tahu Ma, rasanya begitu mual dan kepalaku juga pusing," jawab Kania.
"Apa mungkin kau salah makan atau kau masuk angin?" Tanya Kamila.
"Mungkin saja Ma," jawab Kania.
"Iya Ma, jawab Kania yang menyetujuinya.
Lalu segera saja Kamila memesan taksi online dan menuju ke rumah sakit.
***************
Saat ini Kania sedang diperiksa oleh dokter kandungan di dalam ruang pemeriksaan. Karena ini adalah masalah perut, sehingga dokter pun menyarankan untuk memeriksanya di dokter kandungan untuk melakukan USG. Sedangkan Kamila tampak menunggunya di depan ruang pemeriksaan.
Tidak berapa lama kemudian, setelah memeriksa keadaan Kania, kini dokter pun keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri Kamila.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Apa yang terjadi, apakah Kania baik-baik saja?" Tanyakan Kania yang terlihat begitu cemas.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Nyonya. Bahkan saat ini saya mau mengucapkan selamat kepada Nyonya," kata dokter.
"Kenapa dokter harus mengucapkan selamat kepada saya?" Tanya Kamila kebingungan.
__ADS_1
"Selamat karena sebentar lagi Anda akan memiliki cucu," ucap dokter yang membuat Kamila begitu terkejut dan tidak mempercayainya.
"Apa Dokter? Maksud Dokter anak saya hamil begitu?" Tanya Kamila yang berharap bahwa ia hanyalah salah dengar.
"Iya benar Nyonya, saat ini Nona Kania sedang hamil dan usia kandungannya sudah memasuki usia 8 minggu," terang dokter.
Seketika Kamila merasa lemas, perasaannya begitu hancur karena mendengar kabar buruk itu. Bagaimana bisa Kania hamil tanpa seorang suami, sehingga membuat Kamila pun emosi dan langsung saja masuk ke dalam ruang pemeriksaan tersebut.
"Siapa yang sudah menghamili mu Kania?" Tanya Kamila.
Di saat itu pun terlihat Kania yang sedang menangis jadi-jadinya, karena ia dulu lah yang mendengar kabar tersebut dari dokter. Dokter yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini pun memilih untuk diam saja.
Setelah mengurus biaya administrasi, Kamila puh langsung membawa Kania pulang ke rumah.
***************
"Sekarang jelaskan ke Mama, siapa yang menghamili mu, kenapa kau bisa hamil tanpa seorang suami?" Tanya Kamila.
Dengan rasa takut Kania pun menceritakan apa yang terjadi waktu itu antara dirinya dan Bryan, dan Kania yakin jika saat ini ia memang hamil anak pria terebut.
"Kania … Kania, Mama 'kan sudah bilang kalau pria itu tidak beres. Bahkan umurnya saja berbeda jauh denganmu, dia tidak pantas untukmu Kania. Sekarang lihat apa yang terjadi? Sekarang kamu hubungi pria itu dan minta pertanggung jawabannya!" Titah Kamila.
"Tapi Ma aku masih sekolah, bagaimana mungkin aku akan menikah," kata Kania.
"Sekarang bukan itu yang terpenting Kania, tetapi pria itu harus tanggung jawab karena dia yang melakukannya," ucap Kamila.
Sehingga dengan sangat terpaksa, Kania pun beberapa kali menghubungi Bryan. Akan tetapi pria tersebut sama sekali tidak bisa dihubungi seakan lenyap ditelan bumi, sehingga membuat Kania pun merasa hidupnya sangat hancur.
Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Kamila, setelah pernikahannya yang hancur karena orang ketiga, anak laki-laki yang menjauh darinya, suami yang masih dicintainya berada di penjara, kini dia harus menerima kenyataan bahwa anak perempuannya yang hamil tanpa seorang suami.
Kamila meninggalkan Kania dan masuk ke dalam kamarnya, ia tampak merenungi semua kesalahannya di masa lalu terhadap mantan istri suaminya yang telah meninggal bunuh diri, beserta kesalahannya terhadap anak tirinya yaitu Thalia. Sehingga membuat Kamila pun merasa jika semua ini adalah kesalahan dari dirinya sendiri, Kamila merasa jika Ini semua adalah Karma yang membuat keluarganya hancur.
"Akh … !"
Suara tarikan itu membuat Kamila tersadar dari lamunannya dan sangat terkejut mendengar arah sumber suara dari kamar Kania. Sehingga ia langsung saja berlari menuju ke kamar anaknya itu.
Saat tiba di kamar Kania, Kamila sangat terkejut melihat sang anak yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang bercucuran keluar dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
Bersambung …