
Kini Thalia dan Axel pun sudah berada di dalam pusat permainan, yaitu Timezone yang ada di mall tersebut.
"Kamu mau main apa dulu?" Tanya Axel.
"Bagaimana kalau Pump It Up, kau berani tidak melawanku," kata Thalia.
"Siapa takut. Yuk kita main," ajak Axel yang menerima tantangan Thalia.
Tetapi di saat keduanya baru saja hendak menuju ke tempat permainan PIU itu, tidak sengaja mereka melihat seorang anak kecil yang sedang menangis dan merasa ketakutan.
"Kak anak kecil itu kenapa? Kenapa tidak ada orang di sekitarnya," tanya Thalia menunjuk anak kecik tersebut.
"Ya sudah kita hampiri anak itu saja dulu, barangkali anak kecil itu membutuhkan bantuan kita," kata Axel.
Lalu mereka berdua pun menghampiri anak kecil tersebut.
"Adik kecil kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Thalia yang menundukkan dirinya agar sejajar dengan anak kecil tersebut.
"Hu … hu … hu … Tante, aku sedang mencari Mamaku, Mamaku hilang Tante. Tadi Mamaku ada di sini, tapi tiba-tiba saja Mamaku menghilang," ucap anak kecil tersebut diiringi isak tangisnya.
"Oh ya? Kamu yakin Mama kamu tidak ada di sini?" Tanya Thalia.
"Iya Tante Mamaku nggak ada di sini. Aku sudah mencarinya di sekitar sini, tapi aku nggak menemukan Mama. Tadi aku lagi main, terus aku nggak lihat Mama lagi," jelas anak kecil tersebut menceritakan kronologinya.
"Anak tampan, anak pintar, kamu jangan menangis dong. Kamu anak laki-laki 'kan? Anak laki-laki itu harus kuat, harus pintar, tidak boleh cengeng," kata Axel yang membuat anak kecil itu pun menatapnya.
"Kak, namanya juga anak kecil yang sedang kehilangan ibunya, pasti menangis dong Kak," kata Thalia.
"Sudahlah sebaiknya kau diam saja," kata Axel, lalu ia pun ikut menundukkan dirinya agar sejajar dengan anak kecil tersebut dan juga Thalia.
"Anak pintar, nama kamu siapa?" Tanya Axel.
"Nama aku Daffa Om. Jadi kalau anak laki-laki itu nggak boleh menangis ya Om meskipun kehilangan ibunya?" Tanya Daffa dengan polosnya.
__ADS_1
"Tidak boleh dong. Kamu itu anak yang hebat, anak laki-laki itu anak yang kuat. Kalau kamu lemah seperti itu, nanti siapa dong yang akan dilindungi Ibu, Kakak atau Adik perempuan kamu," kata Axel.
"Terus bagaimana dengan Mama? Aku kehilangan Mama Om," kata Daffa.
"Om yakin Mama kamu pasti masih berada di mall ini. Bagaimana kalau Om dan Tante membantu kamu mencari Mamamu," kata Axel.
Thalia tersenyum dan setuju dengan usul Axel. Meskipun tujuan mereka adalah ingin berjalan-jalan, tetapi keduanya sama sekali tak keberatan jika harus menyampingkan kepentingan mereka terlebih dulu.
"Kamu tidak apa-apa 'kan Tha kalau kita menolong Daffa mencari ibunya dulu?" Tanya Axel.
"Ya tentu saja dong, tidak apa-apa. Yuk kita cari Mama kamu dulu Sayang," kata Thalia yang kini berdiri dan menggandeng tangan Daffa.
Lalu mereka pun mulai mencari dimana keberadaan ibunya.
***************
Sementara itu Casey dan Devan pun masih tampak mencari kesana kemari dengan wajah cemas yang terpancar dari wajah keduanya. Hingga kini mereka pun telah tiba di Timezone dan bertanya kepada orang di sekitar, tetapi mereka sama sekali tidak ada yang mengenali Daffa meskipun Devan dan Casey sudah menunjukkan foto anak mereka yang ada di ponsel masing-masing.
"Kau dengar ya Casey, jika sampai terjadi sesuatu dengan Daffa, apalagi sampai aku tidak menemukannya, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau ini bagaimana sih, baru saja diberikan kepercayaan, kau sudah mengingkarinya lagi. Kau itu benar-benar tidak pernah becus menjadi seorang ibu!" Bentak Devan.
"Diam! Jangan pernah kau menjelek-jelekkan Thalia apalagi menyebutnya dengan wanita jal*ng, karena yang jal*ng itu kau, bukan dia!" Bentak Devan sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar.
Casey pun hanya bisa terdiam karena menahan malu dan rasa sakit hati. Memang ialah yang menyebabkan Daffa menghilang, tetapi karena ketidaksengajaan, bahkan ia juga khawatir saat ini sama halnya dengan Devan.
**************
"Terimakasih ya Sayang, karena kau selalu saja melayaniku di saat aku memintanya," ucap Edward di saat keduanya baru saja bermadu kasih di atas ranjang seperti biasa.
Ya meskipun hari ini hari libur, tetapi Edward memilih menghabiskan waktu bersama selingkuhannya itu di dalam apartemen. Karena ia sangat bosan mendengar ocehan istrinya, begitu juga dengan anak-anaknya yang selalu membuat masalah. Sehingga membuat kepalanya itu terasa mau pecah.
"Sama-sama Sayang. Tapi aku tetap ingin menagih janjiku, bukankah Tuan mau membelikan ku mobil," kata Jasmine.
"Tentu saja, aku tidak akan mengingkarinya. Sekarang juga kita pergi," kata Edward.
__ADS_1
"Pergi? Pergi kemana?" Tanya Jasmine.
"Bukankah kau mengatakan ingin mobil, kita langsung ke showroom mobil dan kau boleh memilih mobil manapun yang kau suka," kata Edward yang membuat Jasmine pun begitu senang mendengarnya.
"Tuan serius?" Tanya Jasmine.
"Tentu saja, apapun permintaanmu pasti akan aku penuhi asalkan kau tetap menjadi kekasihku dan selalu ada saat aku membutuhkanmu," ucap Edward.
"Always baby, aku akan selalu ada untukmu asalkan kau juga bisa memenuhi semua kebutuhanku," kata Jasmine.
"Itu sama sekali bukan masalah bagiku," ucap Edward menyetujuinya.
Lalu keduanya pun kembali bercumbu mesra di dalam kamar tersebut sebelum akhirnya mereka pergi ke showroom mobil.
***************
Setelah puas berkeliling tetapi tidak juga menemui dimana keberadaan ibunya Daffa, akhirnya Thalia dan Axel memutuskan untuk pergi ke ruang informasi agar Daffa bisa segera bertemu dengan orang tuanya.
Tadinya Thalia pikir bisa menemukan orang tua Daffa secepatnya, tetapi pada kenyataannya hampir 1 jam mereka berkeliling belum juga menemukannya. Malah Daffa sendiri sudah terlihat menangis kembali karena belum juga menemukan sang ibu.
Akan tetapi baru saja mereka bertiga hendak masuk ke dalam ruang informasi, di saat itu juga bertepatan dengan kedua orang tua Daffa yang hendak masuk ke dalam ruangan itu juga.
"Mama … Papa … !" Teriak Daffa sehingga Thalia dan Axel pun melihat ke arah yang dimaksud oleh Daffa.
Tetapi di saat itu kedua orang tua Daffa menghadap ke arah lain, sehingga Thalia dan Axel belum bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Daffa sayang, akhirnya kamu ketemu juga," kata Casey.
Di saat Casey hendak memeluk Daffa, Devan pun langsung saja meraih tubuh Daffa ke dalam dekapannya, seolah tidak memberi ruang untuk Casey menyentuh Daffa lagi.
"Daffa, akhirnya Papa bertemu kamu. Papa khawatir sekali. Kamu dengan siapa Nak," tanya Devan sembari melerai pelukannya.
"Aku ditolong dengan Om dan Tante baik ini Pa," kata Daffa menunjuk Axel dan Thalia.
__ADS_1
Lalu mereka berempat pun saling bertatapan dan sangat terkejut karena saling mengenal.
Bersambung …