
Casey pun melajukan mobilnya menuju ke salah satu mall terbesar di kota tersebut. Setelah tiba di sana, ia langsung saja mengajak Daffa ke toko mainan. Casey ingin membelikan mainan untuk anaknya, mengingat bagaimana dulu saat mereka masih tinggal bersama, Casey sama sekali tidak pernah memperhatikan Daffa.
"Sayang, kamu pilih ya mainannya. Kamu mau mainan yang mana, apapun yang kamu mau pasti Mama akan membelikannya," kata Casey.
"Beneran Ma aku boleh memilih apa saja di sini?" Tanya Daffa yang terlihat begitu antusias.
"Iya dong, apapun yang kamu mau. Karena Mama itu 'kan bekerja juga untuk kamu, jadi Mama akan membelikannya," jawab Casey.
"Asik … terimakasih ya Ma," teriak Daffa dengan girang, lalu memeluk ibunya itu.
Casey tersenyum, bisa membuat anaknya bahagia dengan hal kecil seperti itu saja sudah membuatnya ikut merasakan bahagia. Akan tetapi sayangnya Casey terlambat menyadari hal itu, di saat hubungan rumah tangganya bersama Devan sudah hancur. Sehingga di saat ia diberikan kesempatan untuk bersama Daffa, Casey berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan hal itu lagi.
Di saat ini Casey mengikuti Daffa yang sedang tampak asik memilih-milih mainan. Akan tetapi, meskipun banyaknya mainan di sana, ia hanya memilih 1 mainan saja yang paling disukainya, dengan harga yang juga terjangkau.
"Sayang, kamu yakin hanya mau 1 mainan ini aja?" Tanya Casey.
"Iya Ma, ini udah cukup kok. Karena aku sangat menginginkan mainan ini," jawab Daffa.
"Kamu yakin? Kamu nggak mau mainan yang lain lagi?" Tanya Casey lagi.
"Nggak Ma, ini udah cukup," jawab Daffa dengan yakin.
"Atau mau Mama yang memilihkan untuk kamu?" Tawar Casey yang sangat berharap jika anaknya itu mau memilih mainan kembali.
"Enggak Ma, ini aja. Lebih baik kita main aja ya Ma. Aku ingin main di Timezone," kata Daffa.
"Oh ya? Ya sudah kalau begitu kita bayar dulu mainannya terus kita let's go ke Timezone," kata Casey.
"Oke Ma, lets go," jawab Daffa.
Anak dan ibu itu terlihat sangat akrab seperti teman bermain, membuat siapapun yang melihatnya merasakan iri tanpa mengetahui bagaimana masa lalu mereka.
***************
__ADS_1
"Nona, apakah tidak bisa jika persyaratan itu diubah dengan yang lainnya? Aku akan melakukan apapun Nona, yang terpenting Ibuku jadi dioperasi," pinta Toni di saat ibunya akan segera dioperasi.
"Kau sudah tidak punya pilihan lain lagi. Bukankah ibumu sudah bersiap-siap akan menjalani operasi itu? Atau kau mau menundanya dan melihat ibumu kritis. Lagipula kau sudah menyetujuinya, bukankah kau tidak mau melihat ibumu bersujud di bawah kakiku, sehingga kau bersedia menerima permintaanku untuk menaruh ibumu itu di Panti Jompo," kata Thalia.
"Baik Nona, aku akan mengikutinya. Terimakasih karena sudah membantu biaya operasi Ibuku," ucap Toni yang akhirnya pun pasrah.
Toni benar-benar sudah tidak punya jalan lain, karena ingin melihat ibunya itu cepat sembuh. Lagipula jika ibunya berada di Panti Jompo, semuanya juga pasti akan terjamin. Mengingat pekerjaannya yang serabutan, bahkan istrinya saja meninggalkannya karena tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.
Begitu juga dengan Delisa yang saat ini sudah tidak dapat menolak meskipun hatinya begitu perih, karena setelah nanti ia sembuh akan dibuang oleh anaknya sendiri ke panti jompo, sesuai perjanjiannya dengan Thalia. Jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga ingin cepat sembuh karena tidak mau melihat anaknya merasakan sedih. Bagaimanapun juga Delisa hanya mempunyai Toni, begitu juga dengan Toni yang hanya memiliki Delisa di dalam hidupnya.
"Aku rasa semuanya sudah beres, ibumu saat ini sedang dioperasi. Sesuai janjiku, aku akan menanggung semua biayanya sampai nanti ibumu keluar dari sini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Sekarang aku akan pergi dari rumah sakit ini, karena aku masih mempunyai urusan lain," kata Thalia.
"Terimakasih banyak Nona," ucap Toni.
Meskipun ia sangat kesal dengan permintaan Thalia yang terkesan tidak mempunyai hati, tetapi hanya itulah satu-satunya jalan untuk kesembuhan ibunya. Bahkan Thalia tidak hanya menanggung operasi ibunya saja, ia juga memberikan Toni uang untuk kebutuhan sehari-hari mereka selama berada di rumah sakit, dengan jumlah yang cukup banyak.
***************
Meskipun di saat ini kondisi Lusi sudah membaik, tetapi Thalia benar-benar menjaga Lusi. Bahkan ia tak bosan mengingatkan Lusi untuk makan layaknya seorang kakak kepada adiknya.
"Tapi Nona, aku sangat bosan di rumah. Apa aku tidak boleh ikut jalan-jalan?" Tanya Lusi karena mengetahui jika Thalia akan pergi berjalan-jalan bersama Axel.
"Tentu saja tidak, kau ingin mengganggu kencan ku?" Ujar Thalia yang keceplosan.
"Kencan? Akhirnya Nona mengakui juga akan pergi berkencan dengan Tuan Axel," hardik Lusi.
"Memangnya kenapa? Kau tidak perlu iri, aku doakan semoga kau akan mendapatkan pria yang kau sukai dan menyukaimu juga," kata Thalia.
"Baiklah Nyonya, Nyonya hati-hati. Aku janji akan beristirahat saja di rumah," ucap Lusi.
Setelah Axel datang menjemput, Thalia pun langsung saja masuk ke dalam mobil dan Axel pun melajukan mobilnya itu.
"Kau mau kita kemana hari ini?" Tanya Axel.
__ADS_1
"Hm … bagaimana kalau kita ke mall saja," usul Thalia.
"Kau mau belanja?" Tanya Axel.
"Tidak," jawab Thalia.
"Lalu kau mau apa ke mall jika tidak berbelanja?" Tanya Axel kebingungan.
"Kau tidak perlu bingung seperti itu Kak, aku hanya ingin bermain di sana. Sepertinya aku sudah lama tidak bermain, aku ingin menantang mu," kata Thalia.
"Oke, siapa takut. Tapi kau tidak boleh menangis jika kau kalah dariku," ujar Axel.
"Aku tidak mungkin kalah darimu," tantang Thalia
***************
Saat memasuki sebuah mall yang mereka tuju, Axel dan Thalia tampak bergandengan mesra seperti yang biasa mereka lakukan, meskipun keduanya belum mempunyai hubungan khusus. Di saat itu tanpa sengaja mata Casey menatap keduanya sehingga ia pun langsung saja pergi untuk mencari Thalia dan Axel.
Casey keluar dari pusat permainan untuk mencari keberadaan Thalia dan Axel, akan tetapi secepat kilat mereka telah hilang dari pandangan matanya.
"Brengsek! Aku yakin itu tadi pasti Thalia dan kekasihnya. Bisa-bisanya dia bermesra-mesraan dengan pria lain, lalu bagaimana dengan Devan? Aku harus memberitahu Devan soal ini," gumam Casey dan langsung menghubungi Devan.
Setelah mendapatkan kabar dari Casey, meskipun sebenarnya Devan ragu untuk mempercayai mantan istrinya, akan tetapi pada akhirnya ia pun menyusul ke mall tempat dimana Casey membawa Daffa berjalan-jalan.
Hingga di saat itu terlihat Casey yang sedang menunggunya di depan salah toko pakaian.
"Devan, aku tidak bohong. Aku yakin wanita jala*g itu masih berada di sini bersama dengan kekasihnya. Mereka begitu sangat mesra, aku hanya tidak ingin kau disakiti olehnya," kata Casey yang meyakinkan Devan.
Devan tak menjawabnya, ia tampak mencari-cari sesuatu di sekitar Casey.
"Kau kenapa Dev?" Tanya Casey kebingungan.
"Dimana Daffa?" Tanya Devan, sehingga membuat Casey pun sangat terkejut.
__ADS_1
Karena ingin mengejar Axel dan Thalia, ia sampai melupakan anaknya sendiri dan meninggalkannya begitu saja di tempat permainan tadi.
Bersambung …