
Thalia merasa semakin bingung Melihat Kevin yang di saat itu terlihat begitu serius menatapnya.
"Kau kenapa Kevin? Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanya Thalia.
"Kak apakah pria tadi adalah kekasihmu?" Tanya Kevin.
"Ya benar, dia adalah kekasihku. Kami baru saja menjalin hubungan hari ini, tapi aku sudah lama mencintainya dan ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama saat kami masih berada di Negeri Jiran. Memangnya kenapa?" terang Thalia.
"Aku tidak menyukai kau berhubungan dengan pria itu Kak," ungkap Kevin to the point.
"Kenapa? Memang apa urusannya denganmu? Lagipula aku sama sekali tidak meminta pendapatmu. Dengar ya Kevin, kau boleh tinggal di sini sesuka hatimu. Aku sama sekali tidak pernah mengatur mu atau melarang apapun yang kau suka, jadi kau juga jangan pernah melarang ku ataupun berpendapat seperti itu. Aku sama sekali tidak butuh," kata Thalia yang terlihat emosi.
"Tapi aku mengatakan hal ini karena aku mempunyai alasannya Kak," kata Kevin yang tetap kekeh.
"Apapun alasannya, aku tidak mau dengar," ucap Thalia.
"Aku menyukai mu Kak," ungkap Kevin tiba-tiba, yang membuat Thalia pun membelalakkan matanya karena merasa terkejut.
Lalu Thalia tersenyum smirk seakan mengejek ucapan Kevin tadi.
"Kevin … Kevin, apa kau tidak salah bicara, kau menyukai ku? Kau itu hanya anak kecil, bahkan usia kita saja berbeda 10 tahun, aku yang lebih tua darimu Kevin. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau menyukai ku. Lagipula kau tahu 'kan siapa aku, aku ini hanyalah orang yang ingin membalas dendam kepada kedua orang tuamu. Bagaimana mungkin kau bisa menyukai orang yang jelas-jelas ingin menghancurkan keluargamu," ucap Thalia.
"Aku tidak peduli, karena aku juga merasakan apa yang kau rasakan tidak dianggap oleh keluarga. Lagipula kau bukan mau menghancurkan keluargaku, tapi kau mau menghancurkan keluargamu sendiri. Ini semua tidak ada sangkut pautnya dengan perasaanku, perasaan ini tulus keluar dari lubuk hatiku Kak. Semakin lama semakin aku mengenalmu, aku semakin menyukai kepribadianmu, aku semakin kagum dan aku sadar jika aku mencintaimu. Untuk itu aku tidak menyukaimu berhubungan dengan pria lain, aku merasa cemburu Kak melihatmu bercumbu mesra dengan pria itu," ungkap Kevin.
"Jadi kau tadi melihatnya, berani sekali kau mengintip apa yang aku lakukan dengan Kekasihku!" Ucap Thalia yang menatap tajam.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja Kak. Tapi aku benar-benar cemburu, karena aku mencintaimu," terang Kevin.
"Sudahlah Kevin, aku yakin kau itu hanya terobsesi saja padaku, tetapi itu bukan cinta. Lebih baik sekarang kau pikiran saja karirmu terlebih dulu, jangan memikirkan hal yang lain. Aku capek, aku mau istirahat," ucap Thalia yang enggan meladeni adik tirinya itu lagi dan memilih pergi.
"Kak Thalia … aku serius Kak mengatakan hal ini!" Teriak Kevin.
Akan tetapi Thalia tak menggubrisnya. Ia tetap saja melanjutkan langkah kakinya itu hingga ia masuk ke dalam kamar.
Di saat itu, Lusi yang baru saja pulang merasa kebingungan melihat Kevin yang berteriak memanggil nama Thalia.
"Kevin, kau kenapa? Kenapa kau berteriak seperti itu berbicara dengan Nona Thalia, apa kau sudah tidak mempunyai sopan santun?" Tanya Lusi yang sejujurnya tidak suka melihat Kevin yang sudah dibela mati-matian dengan nona nya, bahkan sudah diberikan tempat tinggal gratis, malah bersikap tidak sopan seperti itu.
Kevin memutar bola mata malas lalu menatap ke arah Lusi, "Bukan urusanmu!" ucapnya, lalu segera saja meninggalkan Lusi.
***************
Edward yang saat ini sedang berada di ruangannya merasa sangat murka, karena mendengar kabar bahwa perusahaan yang baru saja bekerja sama dengannya itu tiba-tiba memutuskan kontrak begitu saja. Bahkan meskipun mereka membayar dana pinalti pembatalan kontrak pun tidak akan mungkin bisa membuat perusahaannya kembali beroperasi, mengingat sudah banyaknya uang yang telah ia habiskan untuk memanjakan sang kekasih, yaitu Jasmine.
"Brengsek! Kenapa perusahaan itu bisa tiba-tiba membatalkan kerjasama kita?" Tanya Edward.
"Aku juga tidak tahu Tuan, aku juga baru mendapatkan laporannya tadi pagi. 'Kan tadi malam kita menghabiskan waktu bersama, jadi aku benar-benar tidak tahu apa-apa," jawab Jasmine apa adanya.
"Sekarang juga kita ke sana, aku benar-benar ingin mengetahui siapa pemilik perusahaan itu sebenarnya. Kenapa dia bisa bersikap seenaknya seperti ini terhadap perusahaan ku, apa dia sengaja ingin bermain-main denganku?" Umpat Edward yang terlihat begitu emosi dan penuh dendam.
Jasmine yang sebenarnya sudah tahu tetapi ia pun hanya memilih diam, lalu mengikuti saja kemana tuannya itu akan pergi. Karena perusahaan yang akan dituju oleh mereka juga sudah siap untuk menyambut kedatangan Edward, karena mereka sudah tahu jika hari ini juga pria tua itu pasti akan datang ke sana.
__ADS_1
***************
Sementara itu di perusahaan Thalia, meskipun saat ini Kevin sedang berada di hadapan bos-nya itu, ia tampak canggung karena ungkapan cintanya tadi malam.
Berbeda halnya dengan Thalia yang bersikap biasa saja, karena menganggap jika Kevin tadi malam hanyalah bercanda dan bahkan menganggap jika Kevin hanyalah seorang bocah kecil yang hanya memiliki perasaan itu sesaat. Nantinya juga pasti ia akan melupakan Thalia begitu saja, bahkan bisa dikatakan jika cinta itu hanyalah cinta monyet.
"Kevin, apa kau sudah siap untuk menyambut kedatangan ayah tiri mu itu?" Tanya Thalia.
"Aku sudah siap Kak, seperti yang kau katakan jika hari ini juga kita akan membongkar semuanya," jawab Kevin.
"Ya benar, aku juga sudah sangat muak melakukan sandiwara ini. Aku ingin melihat hari ini juga Edward merasakan kehancuran itu. Ia merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan," kata Thalia.
"Itu juga seperti impianku Kak, aku ingin Papa tahu bagaimana rasanya bangkrut setelah perselingkuhan yang ia lakukan bersama wanita lain," kata Kevin, meskipun ia tidak tahu jika perselingkuhan ayahnya itu sudah direncanakan oleh Thalia.
"Kau tahu jika Edward berselingkuh?" Tanya Thalia yang cukup terkejut dengan pengakuan Kevin.
"Ya waktu itu aku tidak sengaja melihat Papa sedang bermesraan di restoran bersama wanita lain, tapi aku diam saja. Bahkan aku tidak tahu apakah Mama sudah mengetahui hal itu atau belum. Tapi itu bukan urusanku, nantinya juga pasti Mama pasti akan tahu dengan sendirinya," kata Kevin yang tampaknya sama sekali sudah tak peduli lagi dengan keluarganya sendiri.
"Oke kalau begitu. Kau benar-benar sudah siap 'kan akan menghancurkan Edward?" Tanya Thalia sekali lagi.
"Ya, aku sudah siap," jawab Kevin dengan yakin. "Oh ya Kak, aku mau minta maaf soal tadi malam," ucapnya.
"Jangan bahas soal itu dulu, sekarang ada hal penting yang harus kita bereskan terlebih dulu," kata Thalia, sehingga membuat Kevin pun bungkam.
***************
__ADS_1