
Thalia tampak mondar-mandir menunggu Lusi yang saat itu masih ditangani oleh dokter di ruang pemeriksaan. Ia benar-benar merasa khawatir karena hanya Lusi lah satu-satunya orang yang sangat dekat dengannya, bahkan sudah dianggap sebagai adik olehnya. Thalia tidak mau jika terjadi sesuatu dengan Lusi dan pastinya ia juga akan merasa sangat bersalah.
Di dalam kebimbangannya dan juga membutuhkan seorang teman, Thalia pun menghubungi Axel untuk memintanya datang ke rumah sakit. Meskipun masih dalam keadaan kesal terhadap Thalia, tetapi karena rasa sayangnya terhadap wanita tersebut, membuat Axel pun langsung saja menuju ke rumah sakit untuk menemui Thalia dan Lusi. Lagipula Axel juga sudah mengenal Lusi dengan baik saat mereka masih berada di Malaysia.
**************
Tidak berapa lama kemudian, Axel yang kebetulan menginap di apartemen yang disewanya dan lokasinya itu tidak jauh dari rumah sakit, kini telah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang pemeriksaan untuk menemui Thalia. Dilihatnya saat itu Thalia yang tampak duduk termenung dengan mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya.
"Thalia," ucap Axel yang kini telah berdiri di hadapan Thalia.
"Kak," ucap Thalia.
Lalu Axel pun meraih Thalia ke dalam dekapannya untuk menenangkan hati wanita tersebut.
"Bagaimana keadaan Lusi?" Tanya Axel.
"Aku tidak tahu Kak, sampai sekarang Dokter belum juga keluar dari ruang pemeriksaan. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Lusi," ucap Thalia yang terlihat begitu cemas.
"Kau tidak perlu merasa khawatir seperti itu. Aku yakin Lusi akan baik-baik saja," kata Axel.
Krek …
Di saat itu pun terdengar suara pintu ruangan pemeriksaan terbuka. Sehingga membuat Axel dan Thalia langsung melerai pelukan mereka dan mendekati dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Apakah kalian berdua saudara Nona Lusi?" Tanya Dokter.
"Iya, benar Dokter, kami keluarganya Lusi. Bagaimana keadaan Lusi sekarang?" Tanya Thalia.
__ADS_1
"Saat ini Nona Lusi baik-baik saja, beliau hanya masuk angin karena kelelahan dan juga jadwal makan yang tidak teratur membuat penyakit mag-nya kambuh, maka dari itu Nona Lusi mengalami mual. 1 lagi Nona Lusi juga mengalami dehidrasi karena kurang minum air putih. Kalian berdua boleh masuk untuk menemui Nona Lusi," jelas dokter.
"Terimakasih Dokter," ucap Thalia dan Axel hampir bersamaan. Lalu keduanya pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut untuk menemui Lusi.
"Lusi, apa kau baik-baik saja?" Tanya Thalia saat mereka sudah saling berhadapan.
"Iya Nona, aku baik-baik saja. Kata Dokter aku hanya masuk angin saja," jawab Lusi.
"Tetap saja kau telah membuatku khawatir. Sepertinya aku harus ikut memperhatikan kesehatanmu, bagaimana bisa kau sampai lupa minum air putih dan mengalami dehidrasi seperti itu, belum lagi soal makan. Aku juga merasa sangat bersalah karena banyaknya pekerjaan yang aku limpahkan padamu, sehingga membuatmu kelelahan," ucap Thalia yang terlihat sangat menyesal.
"Nona, jangan berbicara seperti itu. Nona sama sekali tidak salah. Lagipula aku tidak apa-apa Nona, aku baik-baik saja," kata Lusi tak ingin membuat nona-nya itu merasa khawatir.
Meskipun keadaan Lusi telah cukup membaik, akan tetapi karena waktu sudah malam dan ia juga masih dalam keadaan lemah, sehingga dokter pun menyarankan agar Lusi untuk dirawat di rumah sakit terlebih dahulu. Jika keesokan hari keadaannya telah membaik, maka Lusi diperbolehkan untuk pulang. Thalia pun langsung memesan ruang rawat inap VIP untuk Lusi, agar asistennya itu merasa nyaman.
**************
Tidak seperti biasanya saat pagi hari Daffa terlihat sangat lemah, tidak bersemangat. Padahal biasanya ia yang begitu antusias akan pergi bersekolah, bahkan membangunkan ayahnya. Kali ini Devan melihat Daffa yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut, bahkan wajahnya juga terlihat pucat, sehingga membuat Devan pun merasa khawatir dan memegangi kepala anaknya itu.
Saat ini Daffa berada di kamar Devan, karena memang tadi malam ia yang meminta untuk tidur bersama ayahnya. Hingga Sonia yang mendengar teriakan anaknya itu pun langsung saja menuju ke kamarnya.
"Ada apa Devan?" Tanya Sonia.
"Ma, badan Daffa panas sekali Ma. Aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang," kata Devan.
Lalu Sonia pun menghampiri Daffa dan benar saja apa yang dikatakan oleh Devan saat ia memegang kening cucunya itu.
"Ayo Sekarang juga kita bawa Daffa ke rumah sakit," kata Sonia yang tak kalah khawatirnya dengan Devan.
__ADS_1
Dengan masih menggunakan piyama, Devan pun segera menggendong Daffa dan membawanya ke mobil. Lalu ia bersama ibunya itu membawa Daffa menuju ke rumah sakit yang sama tempat dimana Lusi dirawat.
**************
"Mama … Mama … dimana Ma? Daffa merindukan Mama," racau Daffa sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.
Sonia yang memangku Daffa pun tahu jika di saat ini cucunya itu pasti sangat merindukan ibunya setelah hampir sebulan tidak bertemu, pastinya Daffa juga ikut merasakan sedih atas perpisahan kedua orang tuanya.
Saat tiba di rumah sakit, Devan segera saja membopong tubuh anaknya dan membawanya ke ruang pemeriksaan untuk langsung di tangani oleh dokter. Karena Daffa merupakan anak kecil, sehingga Devan pun diperbolehkan untuk masuk ke dalam menemani anaknya itu. Sedangkan Sonia menunggu di luar sampai dokter selesai menangani Daffa.
"Dokter, tolong anak saya Dokter. Panasnya tinggi sekali," pinta Devan yang begitu panik.
"Harap tenang Tuan, saya akan segera menanganinya langsung dan melakukan yang terbaik," kata dokter.
Beberapa saat kemudian, setelah ditangani oleh dokter dan diberikan obat. Keadaan Daffa pun sudah cukup membaik, hanya saja ia tetap harus dirawat di rumah sakit karena demamnya belum sepenuhnya reda. Saat berada di ruang rawat inap dan tidur, masih sama seperti tadi Daffa terus saja mengigau memanggil mamanya, sehingga dokter pun menyarankan kepada Devan dan Sonia meminta ibunya Daffa untuk datang ke rumah sakit.
"Devan dalam seperti ini kamu masih memikirkan keegoisanmu juga. Daffa sangat membutuhkan Casey, kamu harus menghubungi Casey sekarang juga. Mungkin saja dengan kehadiran Casey akan membantu kesembuhan Daffa. Apa kamu tidak kasihan melihat anakmu dalam keadaan seperti ini?" Kata Sonia yang terlihat emosi.
Sehingga membuat Devan pun tampak berpikir. Meskipun dengan berat hati, akhirnya Devan terpaksa menghubungi Casey dan memberitahu kabar Daffa saat ini.
***************
"Tolong saya Dokter, tolong lakukan pengobatan untuk Ibu saya. Kasihan Ibu saya Dokter, beliau hanya seorang janda dan saya juga hanya kerja serabutan. Saya minta tolong lakukan operasi itu dulu terhadap ibu saya, saya janji akan mencari uangnya," pinta seseorang yang berada di ruang rawat inap.
"Maaf Tuan, tapi ini sudah menjadi prosedur rumah sakit. Kami tidak bisa melakukannya sebelum ada administrasi minimal DP terlebih dahulu," ucap dokter.
Thalia yang tidak sengaja mendengar akan hal itu pun merasa sangat geram, ia langsung saja masuk ke dalam ruangan tersebut bermaksud ingin membantu orang yang memohon kepada dokter.
__ADS_1
Akan tetapi di saat itu ia merasa terkejut melihat seseorang yang tak asing baginya sedang terbaring lemah di atas bangkar dan juga terkejut melihatnya.
Bersambung …