
Beberapa hari kemudian..
Kondisi Daffa kini berangsur membaik dan akhirnya ia pun diperbolehkan pulang ke rumah.Saatbtiba di rumah,Devan mengantarkan Daffa ke kamarnya untuk beristirahat kembali.
"Daffa,sekarang kita sudah di rumah.Tapi dokter bilang kamu harus tetap banyak istirahat.Supaya kondisi mu semakin membaik dan kamu bisa bertemu dengan teman-teman mu disekolah." ucap Devan mengingatkan Daffa sambil menemaninya sampai istirahat.
"Iya pa,tapi apa Daffa boleh minta sesuatu dari papa?" tanya Daffa pada Devan sang ayah.
"Kamu ingin apa nak?Sebisa mungkin papa pasti akan turuti." tanya balik Devan.
"Daffa mau ketemu mama lagi pa,Daffa mau bersama mama lagi.Apa boleh pa?" jawab Daffa memberitahunya dan bertanya lagi.
Sesaat Devan pun langsung menghela nafasnya.Tak mengira jika Daffa akan kembali menyinggung Casey dan ingin bertemu dengannya.
"Bukankah kemarin kamu sudah bertemu dengan mama?" tanya Devan.
Daffa pun mengangguk pelan." Tapi Daffa ingin tinggal bersama mama,pa." ungkap Daffa.
"Daffa,dengarkan kata-kata papa ini.Kamu boleh menemui mama mu,kamu boleh menghabiskan waktu bersama mama mu.Tapi kamu atau kita tidak bisa lagi tinggal bersama mama mu.Dan ini sudah pernah papa katakan pada mu bukan?" jelas Devan pada Daffa.
"Tapi kenapa pa??Daffa ingin terus bersama mama.Daffa sedih lihat teman-teman Daffa bisa bersama mamanya terus." ungkap Daffa yang tanpa sadar menangis.
Dan hal itu membuat Devan pun tak berdaya dan tidak dapat berkata apa pun lagi.Karna ia pun tidak tega melihat kesedihan sang putra kesayangannya.Yang nyatanya benar-benar merindukan Casey sebagai sosok ibu kandung yang sangat dicintainya.
...****************...
Seorang dokter menemui Delisa yang masih tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.Delisa yang mengetahui kedatangan sang dokter,memilih tetap beristirahat.Karena ia terbiasa dengan aktifitas sang dokter yang selalu memeriksa keadaannya.
"Nyonya,untuk hari ini nyonya sudah tidak diperbolehkan untuk makan dan minum dulu sampai besok ya.Nyonya harus puasa sampai besok pagi." ujar seorang dokter wanita pada Delisa.
"Memangnya kenapa dok?"tanya Delisa yang penasaran dan kondisi yang masih lemah.
"Karena besok kita akan melakukan operasi untuk nyonya." jawab sang dokter memberitahu.
Seketika membuat Delisa pun langsung terkejut.
__ADS_1
"A..Apa??Operasi dok??Lalu bagaimana dengan biaya operasinya dok?"tanya Delisa yang penasaran.
"Untuk biaya operasinya,saya dengar sudah di lunasi oleh anak anda.Jadi persiapkan diri nyonya untuk operasi besok ya."jelas sang dokter pada Delisa.
Delisa pun langsung syok dan juga bingung.Bagaimana bisa Toni melunasi biaya operasi untuknya.Sementara dia tahu bahwa biaya operasi untuk penyakitnya sangat lah besar.Dan ia pun teringat akan Thalia,yang menawarkan biaya pengobatan darinya.
Disaat dirinya tengah bingung dan cemas,tak berapa lama Toni pun datang menemuinya.Dan sang dokter meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan.
"Toni,benarkah kau melunasi biaya untum operasi ibu?" tanya Delia yang ingin memastikannya lagi.
"Iya bu." jawab Toni singkat dan memasang wajah tenang.
"Dari mana kau mendapatkan uang itu??" tanya Delia lagi.
"Hal itu ibu tidak perlu tahu.Yang penting penyakit ibu akan segera diangkat dan ibu bisa hidup kembali normal tanpa merasakan rasa sakit lagi." jelas Toni masih dengan tenang.
"Bagaimana ibu tidak perlu tahu,sementara ibu tahu keuangan kita.Jangan katakan kalau kau menerima persyaratan yang diinginkan wanita itu." ucap Delisa menebaknya.
Toni pun memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan sang ibu.
Toni pun langsung menarik nafas panjangnya.
"Maafkan bu,aku harus melakukannya demi kesembuhan mu." ungkap Toni dengan kepala menunduk.
Delisa kembali syok dan hati nya seketika hancur,kala mendengar jawaban Toni yang ternyata menerima persyaratan yang diminta Thalia.Yang ingin menolong dirinya tapi ternyata menyingkirkan dirinya harus hidup di panti jompo.
"Keterlaluan sekali kau Toni.!Kau sanggup melakukan ini pada ibu mu sendiri.Ibu lebih baik mati dari pada hidup ibu harus berakhir di panti jompo.Anak macam apa yang tega membuang ibu kandungnya demi membantu balas dendam orang lain." kata Delisa yang mengungkapkan rasa kecewa dan juga sedih.
Karena mengetahui anak semata wayangnya ternyata lebih memilih membuang ibunya ke panti jompo dari pada menemani hidupnya.
"Maaf bu,aku bukan ingin membuang mu.Tapi aku juga berusaha ingin menyelamatkan nyawa mu dari penyakit yang sudah bertahun-tahun menyiksa hidup mu." ucap Toni membela diri.
"Tapi tidak ada artinya kalau pada akhirnya kau membuang ibu mu ke panti jompo.Kau hanya memikirkan nasib mu,karena kau pasti muak hidup dalam kemiskinan 'kan?"sindir Delisa tidak menerima semua alasan Toni.
Toni pun lebih memilih diam dan tidak. menanggapi perkataan ibunya.Karena ia lebih memilih mengalah dan tidak ingin berdebat dengan sang ibu.
__ADS_1
Delisa akhirnya pun hanya bisa pasrah dan mengikuti arahan sang dokter yang akan mengoperasi dirinya besok pagi.Dan setelah itu Delia juga tidak bisa berbuat apa pun,jika hidupnya setelah itu akan berakhir di panti jompo.
...****************...
Devan mengajak Daffa untuk menemui Casey lagi.
Saat mengetahui Daffa datang menemuinya,Casey pun langsung memeluk tubuh Daffa anak kesayangannya.Seolah ia tak dapat menahan rasa rindunya dan langsung meluapkannya dengan memeluknya.
"Aku hanya menitipkan Daffa sehari pada mu.Nanti malam kau harus mengantarkannya lagi pada ibu ku.Jika kau berusaha menahannya,aku tidak akan tinggal diam." tegas Devan mengingatkan Casey.
"Kau tidak mau menemani kami juga?Supaya kau tidak mencurigai ku?" tanya Casey.
"Tidak,aku sangat sibuk." jawab Devan menolak.
"Apa wanita ja*ang itu yang membuat mu sibuk?" tanya Casey yang secara tidak langsung menyinggung dan menyindir Thalia.
"Itu bukan urusan mu,dan kau tidak perlu mencampuri urusan ku.!" jawab Devan dengan nada sewot.
"Daffa,ingat jika terjadi sesuatu kamu harus segera menghubungi papa.Mengerti?" kata Devan yang kini mengingatkan Daffa dengan nada pelan.
Daffa pun langsung mengangguk polos. "Iyah pa,Daffa mengerti." jawab Daffa.
"Anak pintar.Papa pergi ya." ucap Devan sembari mengusap rambut Daffa dengan lembut.
Devan pun akhirnya meninggalkan kediaman Casey.Dan Casey hanya memandang kepergian Devan dengan wajah datar.
"Ma,kita sekarang mau ngapain?" tanya Daffa sambil mengayunkan tangan Casey dengan pelan.
Casey pun seketika tersenyum ke arah Daffa.
"Bagaimana kita pergi ke mall??Mama akan membelikan mu mainan yang banyak." jawab Casey memberi saran.
Daffa seketika mengangguk dengan semangatnya.
"Iyah ma,Daffa mau." jawab Daffa tersenyum lebar.
__ADS_1