
"Kamu kenapa? Sepertinya aku melihat kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Devan yang melihat Thalia hanya diam saja.
"Memangnya sangat terlihat jelas ya dari wajahku jika aku sedang memikirkan sesuatu?" Thalia membalikkan pertanyaan itu.
"Ya, sangat jelas. Apa kamu benar-benar tidak suka karena aku telah memaksamu untuk makan siang di sini?" Tanya Devan untuk memastikannya lagi, ia merasa jika Thalia sangat terpaksa berada di hadapannya saat ini.
"Sebenarnya bukan itu masalahnya Devan. Bahkan aku menolak mu sebenarnya juga bukan karena aku tidak ingin menemui mu," ucap Thalia dengan tatapan sendu, seolah benar-benar ada masalah yang memberatkan akan hal itu.
"Lantas ada apa?" Tanya Devan penasaran.
"Sewaktu itu kau pernah mengatakan jika kau masih memiliki istri. Aku hanya tidak enak Devan jika nantinya akan ada yang melihat kita berdua dan mengenal mu, pasti mereka akan menganggap aku wanita yang tidak benar, karena aku mau bertemu dan jalan bersama dengan suami orang. Aku tidak mau itu terjadi," keluh Thalia yang terlihat sangat kecewa dan membuat Devan pun terdiam sejenak.
Devan juga merasa bersalah karena sampai saat ini, ia belum bisa memberikan kepastian untuk wanita yang dicintainya itu.
"Thalia, seandainya aku sudah berpisah dengan istriku, apakah kau mau hidup bersama denganku?" tanya Devan to the point.
"Maksud mu apa?" Tanya Thalia yang mengernyitkan dahinya, meminta penjelasan.
Lalu tanpa sungkan Devan meraih tangan Thalia yang yang diletakkannya di atas meja. Yang membuat Thalia begitu terkejut dengan perlakuannya itu.
Akan tetapi untuk menyempurnakan sandiwaranya, sehingga Thalia pun membiarkan saja Devan melakukannya untuk sejenak.
"Thalia, jujur dari pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah langsung jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ditambah lagi dengan masalah-masalah rumah tanggaku dengan Casey yang membuatku begitu stres dan ingin segera berpisah dengannya. Kau hadir di saat yang tepat Thalia, kau telah membuat hari-hariku menjadi berwarna kembali. Aku yakin jika kau lah wanita yang tepat untukku, kau adalah wanita yang pantas untuk menggantikan Casey sebagai ibu dari anakku. Apakah kau bersedia?" Tanya Devan yang mengungkapkan cintanya itu. Ia sudah tak mau lagi menunda-nunda waktu, ditambah lagi Thalia yang terlihat memberikan harapan untuknya.
__ADS_1
"Casey?" tanya Thalia.
"Ya, jadi Casey itu nama istriku dan sebentar lagi akan menjadi mantan istriku," kata Devan.
"Oh … jadi seperti itu, jadi kau ingin berpisah dengan istrimu dan menjadikan aku pelampiasannya," kata Thalia lalu melepaskan tangannya itu dari genggaman Devan.
Meskipun ini adalah tujuan Thalia yang sebenarnya, tetapi tentu saja ia tidak mau langsung menerima Devan begitu saja. Thalia sengaja menarik ulur hati Devan terlebih dahulu, sampai ia benar-benar bercerai dengan istrinya itu.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Thalia. Tapi memang hubungan rumah tanggaku dan Casey yang sudah di ujung tanduk dan tidak akan bisa diperbaiki lagi. Bukankah aku sudah menceritakannya, bahwa Casey itu sama sekali tidak pernah bersikap seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Dia tidak pernah peduli dengan suami dan anaknya, bagaimana mungkin aku sebagai suami tahan dengan sifat istri yang seperti itu? Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, pulang dan pergi sesuka hati, bahkan anak kami saja Ibuku yang menjaga," terang Devan yang terlihat begitu kecewa terhadap Casey.
"Dev, aku minta Maaf untuk saat ini aku belum bisa memberikan jawaban apapun. Tapi seandainya nanti kau benar-benar sudah berpisah dengan Casey, aku janji akan memberikan jawaban itu," kata Thalia.
"Ya sudah, aku minta maaf karena telah mengungkapkan perasaan ini terburu-buru. Tapi kau harus tahu jika aku benar-benar mencintaimu dan ingin menjadikanmu pendamping hidupku," ungkap Devan dan hanya ditanggapi anggukkan kepala oleh Thalia.
***************
Kamila tampak mondar-mandir memikirkan masalah hubungan rumah tangganya dengan Edward yang akhir-akhir ini terkesan tidak baik. Edward yang biasanya selalu menuruti perkataannya, kali ini sangat acuh tak acuh dan tidak peduli sama sekali dengannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Edward? Aku tidak bisa tinggal diam saja di rumah, aku harus mencari tahu apa yang dilakukan Edward di luar sana. Aku benar-benar tidak tenang, bagaimana bisa Edward jarang sekali pulang ke rumah bahkan 2 hari sekali pulang sebentar, lalu pergi lagi. Aku yakin pasti Edward mempunyai wanita lain," gumam Kamila yang sudah merasa curiga dengan suaminya itu.
Tanpa sepengetahuan Edward, ia pun diam-diam pergi ke perusahaan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja di sana ia bisa mendapatkan jawabannya.
Saat ini pun Kamila melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu lama kini ia sudah berada di depan perusahaan milik suaminya itu. Segera saja Kamila masuk ke dalam perusahaan dan disambut hormat oleh para pegawai yang sudah mengenalinya. Akan tetapi Kamila tampak cuek dengan pandangan lurus ke depan, berjalan menuju ke ruangan suaminya itu.
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruangan Direktur Utama, tampak Edward dan Jasmine yang sedang bercumbu mesra seperti biasanya. Meskipun mereka tidak melakukan hubungan seperti layaknya suami istri, tetapi tentu saja mereka melakukan kecupan-kecupan hangat yang sudah biasa mereka lakukan di kantor. Karena sehari saja tidak melakukannya, membuat Edward seperti orang gila yang sangat merindukan belaian kasih sayang dari sang kekasih.
"Sayang, sudah dong. Memangnya Tuan tidak puas dari tadi seperti ini terus," kata Jasmine yang melihat kekasih tuanya itu tampak rakus menyesap putin* layaknya bayi besar yang sedang menyusui, dengan posisi Jasmine yang duduk di pangkuannya.
Edward tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala karena mulutnya terasa penuh dengan gundukan milik Jasmine yang begitu padat, sangat berbeda dengan milik sang istri.
Hingga di saat itu pun terlihat seseorang yang hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi tidak bisa karena dikunci oleh Edward.
"Tuan, sepertinya ada seseorang yang ingin masuk ke sini langsung tanpa mengetuk pintu," kata Jasmine yang terlihat khawatir.
Lalu segera saja Edward mengakhiri aktivitasnya, sedangkan Jasmine langsung memasang kancing kemejanya kembali dan merapikan pakaiannya itu.
"Sayang, nanti kita lanjut lagi ya. Aku masih sangat menginginkannya," kata Edward.
"Jangan memikirkan hal itu dulu Tuan. Sekarang pikirkan itu siapa di luar, bukankah jika pegawai di perusahaan ini, mereka akan mengetuk pintu," ujar Jasmine.
"Aku juga tidak tahu itu siapa. Tapi satu-satunya orang yang bisa langsung masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu dan membuat janji hanya Kamila saja," kata Edward yang membuat Jasmine pun semakin ketakutan.
"Lalu bagaimana jika itu memang Nyonya Kamila, Tuan? Aku harus kemana sekarang?" Tanya Jasmine di dalam kepanikannya itu, sehingga membuatnya pun tidak dapat berpikir.
"Lebih baik kau sembunyi saja di sana," kata Edward sembari menunjuk suatu tempat yang kemungkinan akan aman untuk Jasmine bersembunyi.
Setelah Jasmine menuju ke tempat yang dimaksud oleh Edward dan di saat itu pula Edward segera saja membukakan pintu. Benar saja ia melihat kamila yang saat ini sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan yang menyeramkan.
__ADS_1
Bersambung …