Pembalasan Dendam Sang Anak

Pembalasan Dendam Sang Anak
Part 29


__ADS_3

Meskipun hari masih pagi, tetapi di kediaman Edward telah dihebohkan dengan Kania yang tidak ada di kamarnya, sehingga membuat Kamila pun merasa sangat khawatir dan juga stres dengan ulah anaknya itu.


"Kemana dia, kenapa dia pergi tanpa berpamitan? Sampai sekarang belum pulang juga," kata Kamila di dalam kepanikannya.


"Ada apa? Kenapa kau heboh sekali pagi-pagi seperti ini?" Tanya Edward yang menghampiri istrinya itu di depan kamar Kania.


Karena kamila sudah mulai curiga dengannya, sehingga untuk mencari aman Edward pun sudah beberapa hari ini pulang ke rumah terlebih dulu, sampai mencari situasinya yang tepat baru ia akan kembali menginap di apartemen Jasmine.


"Bagaimana aku tidak heboh, Kania tidak ada di kamarnya," terang Kamila.


"Mungkin saja Kania sudah pergi terburu-buru, sehingga tidak sempat berpamitan dengan kita," ujar Edward.


"Itu tidak mungkin, karena tidak biasanya Kania seperti itu. Sepagi apapun dia pergi ke sekolah, pasti akan ada yang melihatnya. Tapi ini para ART juga tidak ada yang melihat Kania keluar dari rumah. Aku yakin pasti tadi malam Kania kabur dari rumah," ujar Kamila.


Lalu di saat itu pun terlihat Kevin yang baru saja keluar dari kamar dan akan pergi beraktivitas seperti biasa. Ia tampak cuek seolah tak mau tahu dengan apa yang sedang terjadi, meskipun sedari tadi ia mendengar ibunya itu sangat berisik di luar.


"Kevin, kau mau kemana?" Tanya Kamila.


"Ya aku mau pergi kerja lah Ma, memangnya mau kemana lagi," jawab Kevin.


"Tidak bisa, kau harus mencari dulu dimana keberadaan adikmu!" Sergah Kamila.


"Kania?" Tanya Kevin.


"Memang siapa lagi adikmu?" Kamila malah membalikkan pertanyaan itu.


"Aku bahkan lupa jika memiliki seorang adik," cibir Kevin.


"Apa maksudmu Kevin?" Tanya Kamila yang tampak emosi.


"Tidak ada maksud apa-apa. Memang kenapa dengan Kania, dia kemana?" Tanya Kevin.

__ADS_1


"Kalau Mama tahu, Mama tidak akan memintamu untuk mencari adikmu. Dari tadi malam Kania belum pulang ke rumah, Mama khawatir dan kau harus mencarinya!" Titah Kamila. "Kau juga Edward, sebagai ayahnya kau juga harus mencarinya." Kini Kamila beralih kepada suaminya itu.


"Aku tidak bisa, aku ada meeting penting pagi ini. Kau tahu 'kan aku sedang memperjuangkan perusahaan agar berjalan normal kembali, jadi aku minta tolong kau jangan ikut campur urusanku. Lebih baik kau saja yang mencari Kania karena kau tak tidak memiliki pekerjaan," kata Edward seolah tak peduli, karena rasa rindunya terhadap sang sekretaris lebih besar dan tak sabar ingin bertemu dengannya.


"Maaf Ma, kenapa setelah ada masalah seperti ini, Mama baru mengatakan jika Kania itu adikku. Selama ini kalian kemana saja? Bahkan Kania juga tidak pernah menganggap ku sebagai kakaknya. Sudahlah, aku harus ke kantor sekarang. Aku juga ada urusan yang lebih penting di kantor," ucap Kevin dan segera berlalu.


"Tunggu Kevin!" Panggil Edward.


"Kevin … !" Panggil Kamila pula, akan tetapi sama sekali tidak digubris oleh pria yang memiliki nama tersebut.


"Kau lihat anakmu itu hasil didikan mu juga, sama sekali tidak ada sopan santunnya," kata Edward yang membuat Kamila pun bungkam.


Kevin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ia sangat muak dengan situasi di rumahnya itu.


"Di saat Kania seperti ini, baru saja memintaku untuk mencarinya, melibatkan aku sebagai kakaknya. Mereka pikir aku peduli? Bahkan jika Kania tidak pulang selamanya pun aku tidak peduli," gumam Kevin lalu menancapkan gas kembali menuju ke perusahaan tempatnya bekerja.


***************


"Aku dimana?" Gumam Kania sembari membangunkan tubuhnya untuk duduk.


Akan tetapi di saat itu ia merasakan kepalanya begitu sakit, lalu mencoba mengingat-ingat kejadian yang tadi malam baru saja ia alami. Dan di saat itu Kania pun teringat bagaimana di saat ia dan Bryan masuk ke dalam klub malam, lalu mengkonsumsi minuman beralkohol hingga masuk ke dalam sebuah kamar. Kania membelalakkan matanya saat menyadari jika saat ini tubuhnya polos tanpa menggunakan sehelai benang pun dan hanya ditutupi oleh selimut tebak.


Kania tak bisa membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Ditambah lagi ia merasakan sesuatu yang perih dibawah sana, yang ia yakini jika tadi malam telah terjadi sesuatu diantara dirinya dan Bryan. Lalu dimana Bryan? Karena sedari tadi Kania tidak melihat sosok pria tersebut. Yang ada hanyalah secarik kertas yang Bryan tinggalkan di atas nakas, Lalu segera saja Kania mengambil dan membaca coretan di atas kertas tersebut.


!Hai gadis nakal, terimakasih karena telah menemaniku tadi malam. Aku sudah kembali karena ada pekerjaan penting yang harus aku tangani di luar kota. Ingat janjimu bahwa kau tak akan menyesalinya, karena kau mencintaiku dan rela memberikannya untukku, kau juga yang meminta aku untuk memuaskan mu tadi malam. Semoga hari-harimu menyenangkan gadis nakal, Bryan."


"Tidak … ! Apa maksudnya ini, setelah apa yang dilakukannya padaku, dia pergi meninggalkanku begitu saja. Aku tidak bisa terima Bryan, kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan padaku," ucap Kania, lalu ia merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya dan mencoba untuk menghubungi Bryan.


Akan tetapi beberapa kali Kania mencoba menghubunginya tidak juga tersambung, karena nomor Bryan itu tidak aktif. Sehingga membuat Kania pun merasa panik. Segera saja ia memunguti pakaiannya yang berada di atas lantai dan menggunakannya, lalu bergegas pergi meninggalkan kamar dan keluar dari klub tersebut.


***************

__ADS_1


Setelah lelah seharian bekerja, Thalia pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur king size miliknya. Rasanya begitu nyaman hingga tanpa sadar ia pun memejamkan matanya dan terlelap meskipun waktu masih menunjukkan pukul 17.00.


Hingga tidak berapa lama kemudian …


Tok … tok … tok …


Suara ketukan pintu telah mengejutkan Kania. Segera saja ia beranjak dari tempat tidurnya itu dan membukakan pintu untuk seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, ternyata adalah Lusi.


"Lusi, kau menggangguku saja. Aku baru saja terlelap," protes Thalia.


"Maaf Nona karena aku telah mengganggu Nona. Tapi ini karena ada sesuatu yang penting," ucap Lusi.


"Penting? Memangnya ada apa?" Tanya Thalia penasaran.


"Di bawah Nona, di bawah," kata Lusi, sehingga membuat Thalia pun melihat ke bawah kakinya itu.


"Bukan itu maksud saya Nona," kata Lusi.


"Kau ini kenapa Lusi, ada apa di bawah?" Tanya Thalia yang tak mengerti dengan ucapan asistennya itu.


"Di bawah ada seseorang yang mencari Nona Thalia," ucap Lusi yang kini terlihat begitu antusias.


"Siapa yang mencari ku?" Tanya Thalia lagi.


"Lebih baik Nona sekarang ke bawah saja dan temui langsung orangnya. Aku bingung harus mengatakannya bagaimana dan aku juga takut Nona tidak mempercayainya," ucap Lusi sehingga membuat Thalia pun semakin merasa kebingungan.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Thalia pun segera turun ke lantai bawah untuk melihat dan menemui siapa yang dimaksud oleh Lusi.


Saat ini ia pun sudah berada di belakang seseorang yang di saat itu telah menunggunya di ruang tamu. Thalia membelalakkan matanya karena sangat terkejut. Meskipun di saat itu ia hanya melihatnya dari belakang, tetapi ia sangat mengenali siapa sosok yang saat ini sedang berada di rumahnya itu dan merasa tidak mempercayainya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2