
"tuan....tuan...."ujar mbak Lilis sambil berlari ke arah Ferrer yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan impus yang menancap di punggung tangan nya.
"tuan, apa yang terjadi dengan tuan, kenapa tuan bisa seperti ini ?"tanya Mbak Lilis dengan ekspresi wajah khawatir.
"sudah mbak, Ferrer nggak apa-apa kok, hanya berantem biasa..."ujar Ferrer tersenyum kearah mbak lilis.
"biasa mbak, anak sekolah..."tambah nya lagi.
"benar ? tuan di keroyok ?" tanya mang yoyo lagi.
"haha, mereka kan banci, maka nya main keroyok, kalau sendiri-sendiri pasti mereka yang berbaring di tempat ini..."songong Ferrer.
"benar seperti itu tuan ?"tanya mang yoyo lagi.
"sudah kalian tidak perlu mencemaskan gue atau khawatir terhadap gue, gue tidak apa-apa kok..."tambah nya lagi.
"tuan, ini ada bubur, anda makan dulu yah..."ucap Fitri yang sudah memegang sebungkus bubur.
"kirain Lo nggak ikut, ternyata ikut juga yah, haha, jangan ketawain gue, gue tau Lo pasti sedang ketawain gue yang seperti ini kan..." tuduh Ferrer dan benar saja, sebenarnya Fitri sedang tertawa riang di dalam hati nya melihat Ferrer yang terbaring lemah seperti itu.
"anda salah paham terhadap saya, bukti nya saya datang menjenguk anda dengan membawa bubur ke sini, karena saya khawatir terhadap anda tuan, pasti anda belum makan kan...?"ujar Fitri beralasan, ia tak ingin terlihat seperti wanita yang kejam saat ini.
"hahaha emang gue senang lihat Lo menderita bocah...". batin Fitri tersenyum puas.
"ya sudah, karena Lo sudah membeli nya,
__ADS_1
gue jadi terpaksa harus memakan nya meski pun gue sebenarnya tidak suka terhadap bubur..."ujar Ferrer.
"syukur lah kalau tuan mau memakan nya..."ujar Fitri tersenyum manis.
"tapi gue ingin Lo yang suapi gue..."ujar Ferrer hingga Fitri melirik kearah orang tua Ferrer dan Mbak Lilis beserta suami nya yang ada di sana secara bergantian.
"tapi, saya tidak enak tuan..." ucap Fitri beralasan.
"Lo nggak mau, ya sudah gue juga nggak mau makan..."ujar Ferrer lagi sambil membuang muka kearah Fitri.
"tapi tuan..."
"Lo mau suapin gue atau nggak nih...."lirih Ferrer, hingga Fitri terpaksa mengikuti keinginan nya.
"iya sudah tuan, saya mau suapin tuan..." ujar nya pasrah.
Fitri pun membuka bubur itu dan mulai menyuapi kearah Ferrer.
"kok nggak ada bau nya nih bubur..."ujar Ferrer sambil mengendus-endus bubur nya, ia kira bubur ayam seperti masakan nenek nya di kampung, saat ia sakit pasti di masakin bubur ayam.
"makan aja Ferrer, kamu kan belum makan dari siang tadi..."sambung mama Fina, Ferrer pun terpaksa memakan bubur yang di suapi oleh Fitri,
ia pun membuka mulut nya menerima suapan dari Fitri hingga bubur itu masuk ke dalam tenggorokan nya, beberapa saat Ferrer terdiam hingga ia pun membelalakkan kedua matanya sesaat kemudian.
"bubur apa ini, kok rasa nya nggak enak begini..." ujar Ferrer sambil membuang bubur yang di suapi Fitri.
__ADS_1
"masa sih, bubur itu tadi kita beli di warung depan sebelum kesini..."tambah mang yoyo.
"kalau nggak percaya coba aja..."ucap Ferrer sambil menarik mangkok bubur di tangan Fitri dan memberikan kepada mang yoyo,dan benar saja mang yoyo pun mencicipi nya rasa nya memang tidak enak, tawar, begitu pun di rasa kan oleh mbak Lilis dan nyonya Fina, semua orang di sana juga memuntahkan nya kembali.
"kok bisa rasa nya seperti ini yah, kan tadi kita beli, pengunjung nya sangat rame yang beli..."ucap mang yoyo.
"iya yah, tadi yang beli sangat rame ,"tambah mbak Lilis sedang kan Fitri sedang tertawa di dalam hati nya,ini semua memang ulah nya.
...FLASH BACK ON...
"biar Fitri aja yang beli, mang dan mbak di dalam aja yah..."Fitri pun keluar dari dalam mobil taksi tersebut dan berjalan menuju warung penjual bubur
"mas bubur satu yah.."ujar Fitri kepada penjual bubur.
"iya neng, bubur nya pakai penyedap rasa atau nggak neng...?"tanya penjual bubur, hingga membuat Fitri tersenyum dan seketika ide mengalir deras di otak nya untuk mengerjai Ferrer.
"bubur nya bubur biasa saja mas, tapi masukin garam saja yah..."ucap Fitri setengah berbisik.
"itu bukan bubur ayam nama nya neng..." ujar lelaki itu sambil melirik Fitri.
"emang nggak beli bubur ayam mas, mau nya bubur pakai garam saja..." ujar Fitri lagi,
"itu nggak ada rasa nya neng..."tambah penjual bubur.
"ini untuk orang sakit mas, kalau pakai penyedap rasa kasihan orang sakit nya..."dalih Fitri dan penjual bubur pun percaya begitu saja kebohongan yang di lakukan Fitri.
__ADS_1
...FLASH BACK ON...