
"Iya, Ma. Dia siapa? Jangan asal ajak orang asing pulang dong Ma. Gimana kalau dia itu bukan orang baik. Seorang pencuri yang hanya pura-pura berkedok penolong misalnya!" Imbuh Mama Carla. Pula.
Merasa bukan orang seperti itu, Hanum pun langsung membantah tuduhan dari mereka, "Bukan, Bukan, saya bukan pencuri Bu, kenalkan saya Hanum yang baru datang ke Jakarta untuk mengadu nasib!"
Gadis itu menyalami Mama Carla dengan sangat kuat hingga Mama Carla yang terkejut langsung histeris di buatnya.
"Aduh, aduh, gimana sih? Sakit tauk? Ngapain kamu cengkram tanganku dengan sangat kuat?" Rutuk Mama Carla lagi sembari memaksa menarik tangannya dari genggan Hanum yang sempat menghentak-hentakkan tangannya saat bersalaman.
"Hehehe... Maaf Bu. Biar afdol!" Bukannya Tersinggung, Hanum malah cengengesan di depan perempuan itu.
Hanum berpidah salaman dengan Papa Aditama, ternyata lelaki paruh baya itu menyambut Hanum dengan hangat.
Setelah itu Hanum pun beralih ingin mengajak Abygiel bersalaman tapi pria itu hanya memicingkan bola matanya dengan malas.
"Tidak perlu, aku rasa tanganmu itu banyak bakterinya!" Jengah Abygiel dengan nada kasar.
"Wah, Mas. Jangan ngehina gitu dong. Biarpun saya ini dari kampung, saya sering cuci tangan kok saat masuk ke toilet. Tapi gak jadi buang air sih, saya bingung soalnya karena toilet di kota aneh begitu. Gimana cara duduknya ya?" Tanya Hanum balik seraya garuk-garuk kepala. Membayangkan kloset tadi yang beneran aneh. Membuat kepalanya menjadi pusing sendiri.
"Wajarlah, namanya juga perempuan kampung yang udik, mana tahu hal begituan, kamu pasti buang airnya di ****** ya?" sahut Mama Carla lagi.
"Lah, kok Ibu tau sih, hehehe...?" Hanum jadi cekikikan.
"Ya udah terserah kalian mau bilang apa, Mama mau kasih tahu kalian semua ya. Hanum ini bakal jadi pembantu baru kita mulai hari ini. Jadi kalian gak usah protes karena ini pilihan Mama!" Ucap Oma Ismi.
__ADS_1
Beliau pun mengajak Hanum untuk segera masuk ke dalam rumah besar itu karena azan maghrib telah berkumandang.
Sedang Mama Carla hanya menghela nafas kasar. Pada dasarnya Ia tak setuju dengan keputusan Ibu mertuanya itu tapi menentang pun percuma karena sudah di pastikan Ia akan kalah dengan telak.
"Wah, rumahnya besar ya Oma?" Hanum terpesona dengan kondisi rumah mewah dan memanjakan bola matanya itu.
Oma Ismi hanya tersenyum dan terus membawanya pergi ke kamar tamu.
"Nah, Num. Ini kamar kamu mulai sekarang. Kamu lebih baik mandi dulu gih. Terus ganti baju! Seharian gak mandi tubuhmu jadi bauk!" Ucap Oma sangat jujur.
Hanum pun menciumi tubuhnya beberapa kali. Emang benar aroma tubuhnya sudah tidak karuan membuat Hanum jadi malu sendiri.
"Mandinya dimana Oma?"
"Itu di sana, masuk saja. Nanti bajunya aku pinjamin punya Sasya!"
"Cucu perempuan saya, adik dari Abygiel!"
"Oh pemuda sombong yamg di depan tadi ya?"
"Betul, dia itu duda. Istrinya meninggal saat melahirkan cicitku si Milko!"
"Oh iya, Oma."
__ADS_1
Hanum pun bergegas ke kamar mandi sedang Oma Ismi melangkah hati-hati sambil membawa tongkat yang biasa di pakainya saat di rumah saja menuju ke kamar Sasya. Tapi sepertinya baju Sasya seksi semua. Jadi tidak pantas untuk di pakai oleh Hanum.
Cucunya yang satu itu juga tidak ada di kamarnya pasti dia pergi sama teman-teman dan lupa waktu pulang.
Oma Ismi pun masuk ke kamar Abygiel yang juga masih mandi lalu mengambil setelah baju tidur milik Zahra tanpa izin dulu pada Abygiel.
Selesai mandi, Oma Ismi pun meminta Hanum untuk memakai baju itu sementara waktu. Setidaknya sampai besok pagi. Ia berniat akan membelikan baju baru untuk Hanum.
"Num, pakai baju alhamhum istri Abygiel gak papa kan? Oma gak punya baju yang cocok untuk kamu!"
"Gak papa, Oma. Toh orangnya juga dah gak ada kan?" Beruntung Hanum gak pilah-pilih. Ia juga bukan gadis penakut yang meremang memakai pakaian orang yang sudah tak ada lagi di dunia.
Hanum segera mengganti pakaiannya lalu ikut Oma Ismi untuk makan malam bersama di meja makan. Karena melihat Bi Odah masih sibuk, Hanum pun menawarkan diri.
"Biar Hanum bantuin ya, Bi!"
"Loh, kamu siapa?"
"Dia Hanum, orang yang akan merawat saya dan bantu-bantu kamu di rumah ini," timpal Oma Ismi.
"Oh iya Nyonya, panggil saja saya Bi Odah, neng!"
"Iya, Bi."
__ADS_1
"Ya udah, ayo kita ambilin makanan di dapur!"
"Oke, Bi."