Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 17 Meminta Tolong


__ADS_3

"Lah, siapa tahu kan Mas Songong ngiler?"


Mendengar Hanum menyebutkanya dengan kata songong, Abygiel jelas tidak suka, "Apa? Songong katamu?" Geram Abygiel pada Hanum hingga ocehannya terus berlanjut, "Bisa gak sih kamu panggil aku nama saja? Kamu tahu kan namaku siapa?" Sambungnya lagi seraya mendelik tajam.


"Iya, iya, aku paham Mas. Gitu aja sewot banget sih?" Celetuk Hanum, lirih.


Belum juga rampung menata seluruh makanan. Semua anggota keluarga pun ikut bergabung e meja makan Termasuk Lolita yang kini menjadi bahan ledekan Semua orang karena memakai pakaian yang biasa di pakai Mama Carla untuk ke pantai dan itu terlihat sangat lucu di tubuh Lolita.


"Kenapa sih pada ketawa? Ada yang lucu ya?" Tanya Lolita pada yang lainnya sambil mematut tatapan ke arah dirinya sendiri.


Sasya yang tak sabar ingin berkomentar lansung menyahuti, "Gak ada, Mbak. Kamu cantik banget tauk, pakai baju punya Mama, Hihihi...!"


"Emang gak ada yang lain Ma?" Tanya Papa Aditama.


"Gak ada, Pa. Kan Mama gemuk jadi kebesaran semua di tubuh Lolita!


"Oh... Begitu ya!"


Tak lama seorang boca tiba-tiba saja berteriak dengan gembira.


"Papa...!"


Siapa lagi kalau bukan Milko yang baru saja datang bersama Oma Ismi. Hanum sampai lupa kalau seharusnya dia tadi menyiapkan air hangat untuk Oma Ismi.


"Oma, Maaf. Tadi Hanum gak ke kamar Oma dulu!"


"Gak Papa, Num. Oma masih kuat kok. Toh tujuan utama Oma sebenarnya ya memang ini. Kamu bisa membantu meringankan pekerjaan Bik Odah dan seluruh anggota keluarga!"


"Iya Oma, Hanum paham kok. Kalau begitu Hanum mau lanjut ngepel lagi ya. Belum selesai soalnya."


"Eh, nanti saja!" Abygiel memahannya tiba-tiba.


"Kenapa, Mas?"


"Kamu suapin Milko aja dulu deh, karena dia harus berangkat bareng aku hari ini!" Ucapnya lagi sangat ketus.

__ADS_1


"Oh iya, Mas."


"Ya udah ayo, Lol. Kita ikut sarapan juga yuk!" Ajak Mama Carla. Semuanya pun menjadi hening. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.


Abygiel sendiri diam-diam memperhatikan cara Hanum membujuk Milko agar mau makan dengan porsi kenyang.


Waktu bergerak begitu singkat, Abygiel harus mengantar Milko kesekolah lebih dulu karena hari ini Abygiel ingin membahagiakan putranya itu. Hal ini Abygiel lakukan untuk menebus kesalahannya kemaren yang tak menginginkan ada perayaan hari ulang tahun untuk Milko.


"By, aku ikut ya?" Mohon Lolita.


"Gak usah, kamu naik taksi saja. Aku buru-buru soalnya!" Jawab Abygiel yang menolaknya mentah-mentah.


Mobil Abygiel pun berlalu meninggalkan pelataran rumah itu. Ia ada urusan yang benar-benar mendesak hari ini.


"Kalau begitu Sasya juga mau ke kampus deh, aku pergi ya Ma!"


Sasya bergegas naik ke mobil Papa Aditama yang akan mengantarnya sampai ke gerbang kampus.


Mama Carla yang juga ada janji langsung teringat dengan jadwal yang sudah di janjikan.


"Kemana sih, Tan. Buru-buru amat?"


"Ada urusan mendesak, pokoknya?"


Lolita yang saat itu masih berdiri di teras bersama Hanum seketika Melengos. Ia pun melenggang pergi begitu saja tanpa berpamitan lebih dulu.


"Huh, ada-ada aja sih tu cewek?" Gumam Hanum seorang diri.


Hanum pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi belum sempat di lanjutkan. Seperti biasa Hanum adalah sosok yang ceria sehingga Ia tidak terbebani dengan pekerjaan itu dimana rumah tersebut cukup luas dan besar sehingga akan di pastikan melakukan tugas itu akan sangat melelahkan untuknya.


Oma Ismi yang tengah duduk di teras menikmati segarnya udara pagi tiba-tiba menerima telpon dari Abygiel. Biasanya ada yang sangat penting jika Abygiel mendadak menelponnya.


"Iya, By. Ada apa?"


Oma, Mama adakan di rumah? Tolong katakan sama Mama supaya segera mengantar berkas berwarna kuning yang ketinggalan di atas meja kerjaku di dalam kamar. Aku sudah tak ada waktu lagi untuk pulang ke rumah...

__ADS_1


"Kebiasaan. Selalu saja begini. Sampai kapan kamu selalu lupa ingatan? Usia muda tapi sudah pikun," gerutu Oma Ismi.


Ya mau gimana lagi, Aby buru-buru tadi...


"Mamamu sudah pergi hang out, Lalu Oma nyuruh siapa?"


Aduh, masak gak ada orang sih, Oma? Bisa kabur klienku haru ini...


"Iya, iya, Oma cari dulu orang yang bisa di mintai mengantar berkas itu ke kantormu!"


Oma Ismi pun mematikan sambungan dan beranjak masuk ke dalam rumah. Tapi sepertinya tidak ada siapa pun. Ia hanya menemukan Bi Odah dan juga Hanum tapi mana mungkin Oma menyuruh Bi Odah yang sudah hampir separuh baya itu.


"Hanum, Oma bisa mintak tolong gak?" Panggilnya pada Hanum yang baru saja beres mengepel.


"Ada apa Oma? Katakan saja, InsyaAllah Hanum bisa!"


"Cepat kamu antar berkas Abygiel yang ketinggalan di kamarnya. Maf berkas itu berwarna kuning. O ya nanti kamu catat saja alamatnya!"


"Oh, sekarang ya Oma? Naik angkutan apa? Takutnya Hanum nyasar nanti!"


"Naik taksi saja."


Oma Ismi pun mengambilkan kertas dan bolpoin lalu meminta Hanum mencatat alamat yang harus di tujunya. Oma Ismi juga memberi sejumlah uang untuk ongkos Hanum pulang pergi.


"Oya jangan lupa ganti baju dulu gih, kamu bisa pakai baju Zahra lagi. Sepulang dari sana baru kita pergi untuk membeli baju!" Ucap Oma Ismi lagi.


Perempuan tua itu pun menemani Hanum masuk ke kamar Abygiel dan memilihkan baju yang serasi dengan usianya. Sebuah dress bermotif bunga-bunga yang sangat cocok di pakai oleh Zahra yang memiliki kulit berwarna kuning langsat.


"Wah, rupanya tubuhmu dan Zahra berukuran sama, Num. Syukurlah jadi gak repot cari baju ganti sementara untuk kamu!"


"Iya Oma, kalau begitu Hanum pergi ya."


"En nanti dulu, masak iya pakai sendal jepit. Itu pakai saja sendal zahra yang cocok!" Tunjuk Oma Ismi ke arah lemari khusus sendal yang sangat bagus-bagus dimata Hanum.


"Emang boleh, Oma?" Tanya Hanum, khawatir.

__ADS_1


"Ya bolehlah, emang buat apa? Gak mungkin juga kan Aby yang pakai?"


__ADS_2