Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 13 Teringat


__ADS_3

Mama Carla yang sebenarnya tak menyukai pemandangan itu semakin kesal di buatnya. Jujur saja Ia hanya ingin wanita pilihannyalah yang bisa melakukan itu di depan Abygiel agar mampu menarik perhatian putranya itu.


"Mama...!" Sasya memanggil sambil memeluk wanita paru baya itu dari belakang.


"Sasya, kamu dari mana aja sih? Kok seharian gak pulang-pulang?"


"Oh iya Pagi kan kuliah terus siangnya hang out sama nonton biskop jadi pulang malem deh," jawabnya santai sambil menarik kursi untuk duduk.


"Sama siapa? Laki-laki atau perempuan?" Cecar Abygiel pada adik perempuannya itu.


"Sama cewek-cewek kok, Kak."


"Yakin, cewek doang?"


"Is, pengen tau aja deh? Emangnya kenapa kalau ada cowoknya?" Sungut Sasya lagi sembari menyiuk nasi ke dalam piring.


"Awas saja ya kalau kamu melampaui batas pergaulan!" Ancam Abygiel lagi akan tetapi Sasya hanya menganggapnya angin lalu.

__ADS_1


"Betul apa kata Kakakmu, Sya. Jangan sampai kamu terlalu bebas dalam berteman. Apa kamu gak tahu, banyak perempuan yang hamil di luar nikah," imbuh Papa Aditama pula.


"Biar saja, kalau sampai itu terjadi sama Sasya aku tidak akan mengampuninya," sahut Abygiel lagi.


"Iya, iya, kenapa kalian tidak percaya sih? Oh iya dia siapa?" Sasya menyenggol lengan Abygiel yang mengira perempuan yang menyuapi Milko itu adalah pacar sang Kakak.


"Apa sih? nyenggol-nyenggol?"


"Itu...?" Sasya menunjuk dengan mengerucutkan bibirnya ke arah Hanum.


"Tanya saja sendiri! Kenapa tanya aku," jawab Abygiel dengan malas.


Sasya mengangguk-anggukkan kepala paham lalu melanjutkan makan malam mereka sampai selesai.


Usai semuanya pergi, Hanum membantu Bi Odah membersihkan peralatan yang kotor barulah kemudian Ia pergi tidur ke kamar dimana Oma menunjukkannya sore tadi.


"Wah, kok aku kikuk sih tidur di kasur seempuk ini? Aku beneran boleh tidur disini gak sih? Kok aku jadi takut?"

__ADS_1


"Tidur saja, kamar ini memang gak ada yang makek kok," sahut Oma Ismi.


"Eh, Oma? Kok belum tidur?"


"Gak papa, mau memastikan saja kamu tidur dengan nyaman gak di tempat ini. Ya udah Oma keluar lagi ya!"


"Iya Oma, terima kasih banyak ya udah nolongin Hanum dan memberi pekerjaan tetap."


"Sama-sama."


Melihat Oma sudah menutup pintu kembali. Hanum yang kegirangan langsung meloncat keatas ranjang dan menggoyangkan-goyangkan king size itu dengan tingkah konyolnya.


Tapi beberapa menit kemudian, wajah ceria itu memudar. Ia jadi teringat kembali dengan Ayah Farhan. Hanum khawatir Ibu dan saudara tirinya tidak merawat Ayah Farhan dengan baik saat dia tidak ada.


"Ayah, Hanum kangen. Tapi Hanum gak bisa telpon Ayah karena ponsel Hanum hilang. Tapi Hanum janji, Yah. Hanum akan bekerja dengan giat supaya Hanum bisa kirim uang buat Ayah!"


Tak ingin larut dalam kesedihan, Hanum pun membenahi posisinya agar Ia bisa bangun lebih awal untuk mengerjakan semua tugas barunya esok hari.

__ADS_1


Berbeda dengan kondisi yang ada di kamar Hanum, Abygiel yang melihat Hanum memakai baju Zahra tadi jadi kesulitan untuk memejamkan mata. Ia terus terbayang-bayang akan wajah Zahra. Wanita yang sangat di cintainya itu namun sayang kebersamaan mereka hanya sesaat karena Tuhan telah memanggilnya begitu cepat.


Jujur sejak kehilangan Zahra, Abygiel jadi tak bisa membuka hati untuk perempuan lain. Karena menurutnya tak ada perempuan yang lebih sempurna dan sebaik mediang istrinya itu.


__ADS_2