
Lama memikirkan banyak hal, Hanum pun pergi ke kamar Oma Ismi dan menceritakan tawaran Jecky karena restu Oma Ismi akan sangat membantunya.
"Apa! Jadi pacar pura-pura?" Oma Ismi menatap kesungguhan Hanum yang mau menerima itu.
"Iya, Oma. Kan lumayan uangnya buat jajan Hanum."
Oma Ismi sebenarnya sangat keberatan karena Ia berharap Hanum akan dekat dengan Abygiel. Tapi jika memang Hanum menyukai pria lain ya mau bagaimana lagi. Toh saat ini Ia masih pura-pura pacaran sama Jecky meski tidak menutup kemungkinan Jecky akan benar-benar menyukai Hanum.
"Tapi, pacarannya gak aneh-aneh kan? Oma tidak mau kamu kenapa-napa Hanum. Karena bagi Oma kamu sudah menjadi tanggung jawab, Oma."
"Enggak kok, Oma. Hanum udah janjian sama Mas Jecky kalau gak boleh aneh-aneh. Tapi katanya pegangan tangan doang oma seperti ini contohnya."
Hanum mencontohkan apa yang sudah di tunjukkan Jecky pada Oma Ismi agar Oma Ismi mau menyetujui keputusannya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi ingat ya. Oma akan marah jika sampai Hanum dan Jecky melampai batas."
"Siap, Oma. Hanum janji bakal jaga diri," jawab Hanum yang menunjukkan cengirannya pada sang Oma.
"Oh, iya baguslah. Oma pegang kata-kata kamu. Ya udah istirahat gih, kamu harus tidur cukup supaya besok bisa bangun lebih fresh!"
"Oke Oma."
Abygiel yang saat ini sudah merebahkan tubuhnya diatas king size merasakan kegelisahan. Ia jadi kepikiran soal Hanum yang akan pergi bersama Jecky. Bagaimana pun pemuda itu adalah seorang public figur yang di cintai banyak orang. Pasti pesta itu akan sangat ramai dan Abygiel khawatir dengan keadaan Hanum yang polos itu nanti.
"Aaah...!" Abygiel mengacak-acak rambutnya, "Ngapain juga aku perduli. Toh Hanumnya aja mau kok. Perduli apa jika Jecky nanti bakal memanfaatkan kepolosannya!"
Abygiel yang tidak mau ambil pusing memutuskam untuk mengecek kondisi putra kesayangannya yang sudah tidur dengan lelap. Meski sebenarnya Abygiel sendiri belum sembuh benar. Ia perlu memeriksa dulu tiap kali akan tidur.
__ADS_1
"Kasihan kamu, Mil. Kenapa Mama harus pergi sih ninggalin kita. Kalau Mama masih hidup pasti kita akan sangat bahagia sekarang," Lirih Abygiel sambil mengusap-usap pucuk kepala Milko.
Abygiel jadi teringat dengan cerita Milko saat di meja makan tentang rasa sedihnya tidak bisa di antar kesekolah sama Mamanya seperti temen-temen yang lain.
Memang, Abygiel terlalu sibuk memikirkan kesedihan dan kesendiriannya dengan menyibukkan diri dalam perkerjaan hingga Ia lupa kalau Milko sangat membutuhkan perhatian dari dirinya.
"Milko, Sayang. Papa janji sama Milko. Mulai sekarang. Papa akan meluangkan waktu lebih banyak untuk Milko. Supaya kita bisa melupakan kesedihan kita," ucap Abygiel lagi.
Pemuda dua puluh delapan tahun itu pun mengecup kening Milko lalu keluar meninggalkan kamar putranya itu.
Abygiel yang sudah kembali lagi ke kamarnya sendiri mendudukkan diri di tepi ranjang sambil menarik tisu yang ada di atas meja untuk mengelap ingusnya yang sejak tadi masih saja mengganggu.
Abygiel sebenarnya sudah meminum obat tapi tetep saja pileknya masih meler. Abygiel menoleh kearah pintu berharap Hanum datang lagi dan membawakan air jahe seperti kemaren. Meminum air itu memang terasa hangat di tubuh. Sehingga Abygiel tidak terlalu menggigil setelahnya.
__ADS_1