
Sepanjang perjalanan Hanum nampak sangat sedih. Ia tak banyak bicara seperti biasanya meski Devi mengajaknya mengobrol.
"Hanum, kamu kenapa?"
"Aku gak tega ninggalin Ayah, Dev?"
"Aku ngerti perasaan kamu Hanum, tapi kita kerja kan buat orang tua kita juga!"
"Iya Dev, makannya aku nekat pergi. Supaya Ayah bisa terus terapi sampai sembuh!"
"Ya udah kamu gak usah sedih kalau gitu. Ayo semangat cari uang supaya kita bisa bantu perekonomian keluarga kita nanti."
"Makasih ya Dev, kamu memang baik banget sama aku."
"Sama-sama, Hanum."
Di saat jam makan siang, semua teman-teman Hanum pada turun dari travel untuk makan akan tetapi Hanum menolak karena Ia ada bekal. Meski lauk seadanya. Hanum bersyukur dengan hal itu. Hanum juga memakan sebagian roti yang di beri oleh warga saat menjenguk Ayahnya semalam. Rasanya itu sudah cukup bagi Hanum untuk menggajal perutnya yang keroncongan.
Seharian berada di jalan, akhirnya mobil mereka sampai juga di kota. Mobil sewaan itu bersedia membawa secara gratis karena majikan mereka kelak lah yang akan membayarnya.
__ADS_1
Malam itu mobil kembali berhenti di sebuah rumah singgah untuk bermalam dulu disana. Barulah keesokan harinya mereka bisa melanjutkan perjalanan kerumah dimana mereka akan di kirim.
Keesokan harinya, Hanum lupa berpamitan untuk kekamar mandi sejenak. Ia tidak tahu kalau Travel yang di tumpanginya akan segera berangkat lebih awal.
"Ada yang tertinggal tidak?" Tanya seorang lelaki yang membawa mereka. Tentu saja lelaki itu asalnya juga dari kampung. Makannya orang tua para gadis itu percaya jika mereka akan aman di bawah naungan lelaki itu.
"Sudah kayaknya, kan tasnya masih di mobil," jawab salah satu dari mereka.
Saat semuanya sudah masuk dan berangkat, Hanum yang baru kembali dari toilet di buat terkejut karena rumah singgah itu sudah sepi dan terkunci padahal toiletnya cuma ada di belakang tak jauh dari rumah singgah kumuh itu.
"Ya Allah, Devi, Bang Randy!" Teriak Hanum, sangat panik. Ia bingung mau bagaimana saat ini pasalnya rumah singgah itu benar-benar sudah tidak ada orangnya. Belum lagi semua barang dan uang Hanum ada di dalam tas. Lantas bagaimana Hanum bisa menghubungi mereka. Karena ponselnya juga ada di dalam tasnya.
"Ya Allah, bagaimana ini? Terus Hanum harus ngapain sekarang?"
Devi yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan temannya yang lain baru teringat kalau Ia telah menghiraukan Hanum di tempat duduk sebelumnya.
"Aku temani Hanum dulu ya!"
Devi terperangah saat tak mendapati Hanum di tempatnya. Ia memeriksa beberapa kursi yang lain tapi nyatanya Ia tak melihat ada Hanum disana.
__ADS_1
"Loh, Bang Randy, Hanum kemana? Kok dia gak ada sih di dalam sini?"
"Masak sih? Bukannya udah lengkap tadi?"
"Benaran gak ada, Bang."
Dengan malas, Bang Randy pun beranjak dari kursinya yang ada di depan lalu memeriksa ulang semua gadis yang di bawanya.
"Haduh, kok bisa ilang sih? Dia kan tambang emasku?" Rutuk Bang Randy seorang diri.
"Apa Bang?" Sayu-sayu Devi mendengar tapi artikulasinya tidak jelas.
"Ya sudahlah, salah siapa gak pamit kalau pergi. Mana mungkin kita kembali. Sore ini kalian harus segera tiba di tempat kerjaan kalian!"
Devi merasa cemas, tapi Ia tak bisa berbuat apa-apa. Mau menelpon juga percuma karena Devi dengar sendiri kalau nada dering ponsel Hanum ada di dalam tasnya yang tertinggal.
Hari itu Hanum hanya bisa duduk dalam bingung sambil melangkahkan kakinya tanpa ada arah dan tujuan yang jelas. Belum lagi Ia sangat lapar karena seharian ini perutnya tidak terisi oleh makanan apa pun.
"Ya Allah, kenapa bisa begini? Lalu bagaimana nasibku sekarang? Aku sendiri tidak faham daerah Jakarta. Tempatnya ramai dan semuanya sangat asing."
__ADS_1
Sedang sedih meratapi nasibnya, Hanum di kejutkan oleh seorang wanita yang memanggil-manggil meminta tolong. Nenek tua itu baru saja keluar seorang diri karena Ia ingin ke toko kue untuk membelikan cicitnya kue sebagai hadiah ulang tahun. Tapi siapa sangka Ia yang baru saja keluar dari toko tiba-tiba merasa sangat pusing dan hampir jatuh pingsan.
"Tolong, Tolong saya Nak?"