Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 11 Salah Paham


__ADS_3

Sedang sibuk menata makanan di atas meja. Tiba-tiba saja terdengar bel rumah berbunyi. Entah siapa yang datang, Hanum sendiri belum tahu berapa banyak penghuni di rumah itu.


"Num, ada orang. Kamu buka dulu gih pintunya!" Pinta Bi Odah.


"Iya, Bi."


Hanum bergegas menuju kearah pintu utama dan ternyata yang datang adalah seorang gadis cantik yang langsung melengos masuk tanpa menyapa Hanum sedikit pun sedang menoleh saja sepertinya sangat enggan.


"Siapa tu cewek? Kok gak ngucap salam dulu sih? Sombong bener jadi orang?"


Hanum pun mengacuhkan hal itu lalu melewati sebuah meja hias dimana pot bunga diatasnya terlihat roboh. Beruntung tidak jatuh ke lantai atau benda itu akan hancur.


Tak ingin merasa terganggu akan pemandangan itu Hanum pun membenahinya.


"Nah, gini kan cakep. Anteng-anteng ya di situ jangan roboh lagi kamu!" Bisik Hanum pada bunga hias itu.


Tak berapa lama, Abygiel turun dari lantai atas dimana kamarnya kebetulan berada. Ia yang fokus pada ponselnya tak sengaja terpantik kearah kaki Hanum lalu melotot keatas seakan perempuan itu tidak asing lagi baginya. Sungguh perempuan itu sangat mirip dengan almarhum istrinya saat sedang posisi membelakangi.


"Zahra...!" Seloroh Abygiel dengan nada yang begitu lirih. Pemuda itu melangkah mendekat lalu memeluk Hanum karena mengira kalau itu memang lah Zahra.

__ADS_1


"Eh, eh, apa-apaan ni kok main peluk-peluk aja sih?"


"Zahra, kamu wujud Zahra istriku kan? Aku sangat merindukkanmu Zahra. Kenapa baru muncul sekarang setelah lima tahun lamanya kamu pergi?"


Hanum ingin melepaskan diri tapi bukannya di longgarkan, Abygiel malah mempererat pelukannya.


"Aduh, Mas, Pak, siapa pun itu. Tolong lepasin saya! Siapa Zahra aku gak kenal tu? Namaku Hanum bukan Zahra!"


Abygiel yang mendengar nama orang lain itu sontak melepaskan kedua tangannya.


"Hanum...?"


"A- apa, jadi kamu? Pantes saja bauk asyem, beda jauh sama Zahra."


Abygiel langsung mengebas-ngebas pakaiannya karena merasa jijik bersentuhan dengan perempuan dari desa itu.


Hanum kembali menciumi aroma tubuhnya, tapi Ia merasa tak ada yang aneh dengan tubuhnya itu, "Ya ampun songong banget sih jadi orang. Saya itu gak bauk lo Mas, saya habis mandi. Tapi emang sih saya gak pakek sabun soalnya di kamar mandi gak ada sabun yang biasa saya pakek!" Jujur Hanum pada Abygiel sembari cengengesan tanpa malu.


Abygiel hanya menatapnya dalam dingin. Tak perduli jika Hanum berbicara panjang lebar dengannya. Yang Abygiel heran kenapa baju Zahra ada pada Hanum.

__ADS_1


"Kamu mencuri ya?" Ucapnya kemudian.


"Mencuri? Saya?" Tunjuk Hanum pada dirinya sendiri.


"Iyalah, sejak kapan pembantu norak seperti kmu bisa beli baju limited edition dari Eropa. Kamu tahu gak baju yang kamu pakai ini harganya berapa?"


"Berapa emangnya?" Tanya Hanum, penasaran.


"Sepuluh juta," pungkas Abygiel, sembari memperlihat semua jari di tangannya.


"Apa?" Hanum mengamati baju yang di kenakannya itu. Memang sih baju itu sangat nyaman di tubuh karena lembut dan adem. Belum lagi wangi dari aroma baju itu sangat khas.


"Ah, tapi saya gak mencuri lo Mas, suwer. Tadi Oma Ismi yang minjemin. Katanya sih emang punyanya istri Mas yang udah meninggal."


"Kamu gak takut pakek baju orang yang udah gak ada? Bagaimana kalau dia nanti datang dan minta kamu bertanggung jawab?" Tanya Abygiel lagi.


Hanum jadi bingung sendiri dengan ucapan pria yang hampir separuh usia diatasnya itu. Tapi kemudian Hanum pun menggeleng.


"AstaughfiruLLahalazhim, jangan gitu dong Mas. Pahala bagi orang yang sudah meninggal jika bajunya bermanfaat untuk orang lain apa lagi di berikan pada yang membutuhkan. Selain itu ngapain aku takut sama orang yang udah gak ada. Kan aku punya Allah, Mas. Yang selalu ada dimana pun aku berada. Ya udah deh, susah ngomong sama orang kayak Mas Duda. Yang ada aku jadi blo'on entar!"

__ADS_1


Hanum pun melewati Abygiel yang melongo di buatnya. Pria itu tak bisa berkata-kata karena Hanum mematahkan segalanya.


__ADS_2