
Malam hari pun tiba, Hanum sedang sibuk membantu Bi Odah untuk menata persiapan makan malam di meja. Tapi Hanum terus menodong tatapan kearah tangga kamar Abygiel. Sebab Ia kepikiran terus karena sepulangnya dari salon dan belanja tadi Abygiel tak juga keluar dari dalam kamarnya. Hanum takut sakit Abygiel malah akan bertambah parah.
Mama Carla yang saat itu melihat gerak-gerik aneh dari pembantu barunya itu menjadi curiga dan sangat penasaran.
"Ada apa lihat-lihat kamar Abygiel? Kamu pasti ingin merencanakan sesuatu ya untuk menjebak Abygiel kan? Biar nanti bisa hidup dengan tenang. Karena kamu sudah berhasil menjadi istri putraku?"
Tuduhan Mama Carla benar-benar tak beralasan, Hanum harap perempuan itu tak asal bicara seperti saat ini, "Mas Abygiel tadi demam, Bu. Itu sebabnya aku kepikiran. Mas Aby gak keluar-keluar sedangkan dia belum makan sama sekali sejak siang tadi!"
"Tau dari mana kamu?"
"Mas Aby ngeluh tadi, Bu," jawab Hanum apa adanya. Hanum pun berlanjut mengambil makanan yang masih belum diambilnya di dapur tanpa lepas dari pengawasan Mama Carla yang terus menatap curiga ke arahnya.
Tak lama, bel pintu rumah kembali berbunyi sepertinya ada tamu yang berkunjung kerumah itu.
"Buka pintunya!" Titah Mama Carla pada Hanum.
"Iya, Bu. Saya akan membukanya."
__ADS_1
Hanum bergegas ke pintu utama dan membukakan pintu. Namun Ia langsung gembira saat yang datang adalah Jecky.
"Hai Hanum, apa kabar? Belum apa-apa aku dah kangen sama kamu? Wah, ini rambut baru ya? Kamu jadi semakin cantik dengan penampilanmu yang sekarang?"
"Eh, Mas Jecky. Ayo masuk. Mau ketemu Mas Abygiel ya?"
"Gak sih, cuma kangen sama kamu," seringai Jecky, sembari mengerlingkan bola matanya yang indah itu ke pada Hanum.
"Aduh, jangan bilang gitu Mas, Hanum jadi deg-degan ni. Ayo masuk Mas. Mas Abygiel lagi kurang enak badan sekarang."
Jecky pun mengekor langkah Hanum menuju ke meja makan di mana Papa Aditama, Mama Carla dan juga Oma Ismi rupanya sudah duduk di sana.
"Malam Oma, Om, Tante...!" Sapa Jecky pada ketiganya dan langsung menyalami dengan hormat.
"Eh, Jecky. Akhirnya kamu kesini lagi. Tadi Oma sempat kesal lo gara-gara gak ketemu sama kamu siang tadi!"
"Oh iya, Oma. Siang tadi Jecky buru-buru karena ada shooting iklan. Seharusnya Jecky break dulu hari ini dari penggarapan film layar lebar. Tapi ya mau bagaimana lagi namanya saja sudah kontrak. Bukankah rezeki tak boleh di tolak? Benar kan Oma?"
__ADS_1
"Bener banget, By. Ayo duduk kita bisa makan malam bersama disini!" Ajak Oma Ismi.
"Asyiek, enak ni kayaknya!"
Abygiel pun menarik salah satu kursi agar bisa merasakan atmosfir saat keluarga yang begitu luar biasa harmonisnya bisa berkumpul menjadi satu.
"Eh, Jeck. Kesini lagi lo?" Tanya Abygiel, yang baru saja turun sambil sentrap-sentrup karena pilek.
"Ya ampun, By. Dah sakit aja lo. Perasaan siang tadi sehat-sehat aja lo?"
"Sebenarnya sudah deman, Jeck. Tapi gak aku rasa." Abygiel pun mendaratkan bok*ngnya di samping Hanum yang saat itu tengah menunggu Milko untuk menyuapi atau melayani keluarga itu jika membutuhkan bantuannya.
"Papa...!" Milko datang dan lansung menghampiri Abygiel. Seperti biasa Milko ingin memeluk sang Ayah akan tetapi Abygiel melarangnya.
"Eh sayang, jangan deket-deket Papa dulu deh. Papa lagi sakit soalnya!"
Milko mengembungkan pipi mendengar hal itu, Ia merasa kecewa karena tak bisa memberi pelukan pada sang Ayah.
__ADS_1