Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 23 Terpesona


__ADS_3

"Hai, selamat siang?"


Pemuda tampan dengan mengenakan kaos berbalut kemeja dan Celana sedikit kebesaran sobek di bagian pahanya tersenyum ke arah Hanum.


Pemuda itu adalah Jecky Prasetya seorang aktor yang baru-baru ini sedang di gandrungi banyak para wanita.


Dia adalah sahabat dekat dari Abygiel. Banyak yang tidak tahu kalau dia adalah seorang playboy yang sering gonta-ganti pacar.


Namun apa pedulinya kalau sudah ngefans, di tabrak dan di injak pun sudah tak perduli lagi apa lagi cuma sekedar di jadikan pacar sementara.


"Hei, Jeck. Udah sampai lo. Ayo masuk!" Ajak Abygiel. Dia tadi cepat-cepat turun dari lantai atas saat mendengar bel rumahnya berbunyi. Sebab mereka sudah janjian kalau Jecky bakal datang ke rumahnya untuk bertamu.


Hanum masih saja terpelongo di tempatnya. Ia tak perduli lagi pada Abygiel karena dia benar-benar sudah terhipnotis dengan ketampanan seorang Jecky.


Jecky yang tertarik akan wajah ayu alamiah dari Hanum rupanya menjadi penasaran, "Siapa tu cewek? Meski biasa saja? Cantik sih?"


"Kenapa emangnya? Lo naksir juga sama pembantu gue? Emang lo belum puas punya cewek-cewek cantik yang selalu ngintilin lo saat keluar rumah?" Ledek Abygiel yang dengan sengaja menggoda sahabat karibnya itu.


"Is, iri bilang saja, Bro. Kalau pembantu gue secantik dia pasti gue bakal betah deh di rumah. Secara jarangkan ada pembantu yang cantik di zaman sekarang ini banyakkan juga janda atau emak-emak bahenol?"


Keduanya pun duduk di sofa sedang Hanum bergegas menutup pintu dan masuk kembali.


"Num...!" Panggil Abygiel padanya.


"Iya, Mas. Ada apa?" Hanum bertanya tapi kedua matanya tak bisa teralihkan dari Jecky.


Abygiel yang melihat itu tentu saja sangat kesal. Bisa-bisanya pembantunya itu tebar pesona didepan Jecky.


"Cepat bikinin jus jeruk sana, jangan lupa di kasih es?"


"Iya, Mas. Tunggu sebentar ya!"


Hanum pun berlalu ke dapur namun tak lupa menunduk sopan pada Jecky yang membalas senyuman ramah ke arahnya.


Setelah Hanum jauh, Jecky kembali memujinya. Jecky sangat yakin jika Hanum memanglah gadis yang sangat cantik di usia remajanya.


"Wah, beneran, By. Gadis kecil itu bener-bener ayu meski gak di poles make up sedikit pun. Gue sih yakin di poles dikit aja wajahnya bisa makin menggoda!"


Abygiel yang merasa Hanum itu biasa saja terheran-heran akan sikap Jecky. Ia sengaja mengebas wajah sahabatnya itu agar segera sadar kalau Ia pasti salah lihat.

__ADS_1


"Dasar playboy, Gue mah percaya kalau orang gila aja bakal lo embat. Secara lo kan gak pandang bulu!"


"Alah, mata lo aja yang burem, By. Kalau lo gak suka bolehlah gue jadiin pacar!"


"Ambil aja kalau mau, bukan level gue."


Tak lama Hanum pun kembali dengan dua gelas jus yang di pesan Abygiel tadi. Seperti biasa Hanum akan sangat ramah pada orang yang menghargainya.


"Diminum, Mas." Hanum menawarkan jus itu hanya pada Jecky tanpa memperdulikan Abygiel yang jengah dan makin kesal di buatnya.


"Eh, Num. Kamu tahukan Bos kamu disini siapa?" Abygiel protes karena yang seharusnya di tawari Hanum adalah dirinya lebih dulu.


"Lah, Bos akukan Oma Ismi, Mas. Kan kata Mas yang bayar aku Oma!"


"Apa?"


Abygiel tak percaya kalau Hanum bakal berbicara seperti itu dan Jecky terpingkal-pingkal mendengar perlawanan Hanum padanya.


"Wah, Wah, jadi ART kamu ini berani juga ya sama kamu. Pria dingin dan juga kaku dalam berhubungan. Aku sih salut sama Zahra. Hanya dia yang mampu mencairkan hati sekeras batu seperti dirimu!"


"Betul, Mas. Mas Abygiel itu songong dan belagu banget. Bisanya cuma marah-marah terus sama Hanum. Di kiranya Hanum gak capek apa denger suaranya itu!" Imbuh Hanum kemudian.


Jecky yang semakin kagum akan keberanian Hanum mengulurkan tangannya yang mulus dan terawat, "Siapa namamu?"


"Panggil aku Jecky Prasetya!"


"Wah, Jecky. Jadi Mas ini beneran aktor pemain film itu ya?" Hanum sangat senang akhirnya bisa berjumpa dengan aktor idolanya.


"Ya, aku Jecky yang sering kamu tonton itu."


"Iya, Mas. Hebat. Bagaimana bisa Mas ekting nangis sampai begitu saat di tinggal Dara meninggal. Aku sampai ikutan nangis lo, Mas?"


Hanum terus berbicara dan mengabaikan Abygiel yang jadi tak bisa menyela perbincangan keduanya.


"Kamu umur berasa sih sekarang?" Rupanya Jecky ingin tahu lebih jauh tentang dirinya.


"Baru delapan belas tahun, Mas. Lulus SMA aja baru beberapa minggu yang lalu?"


"Oh... Masih tersegel berarti ya," desis Jecky seorang diri.

__ADS_1


"Apa, Mas?"


"Oh, gak ada apa-apa, Num."


"Oh ya udah kalau begitu saya permisi, Mas."


"Tumben gak minta foto?"


"Foto?"


Hanum hanya garuk-garuk kepala karena Ia bingung untuk mendapatkan foto dari aktor idolanya itu dari mana mengingat Ia tak punya ponsel yang bisa di gunakan untuk memotret.


Hanum pun tersenyum ke arah Abygiel yang memasang tampang masam ke arahnya.


"Kenapa liat-liat?"


"Boleh pinjam ponselnya gak, Mas? Buat motoin aku sama Mas Jecky. Hanum janji deh Mas kalau Hanum punya uang dan beli hape nanti. Foto itu bakal Hanum pindahin ke hape Hanum yang baru," ucapnya sembari memelas.


"Udah, By. Pinjemin aja apa susahnya sih. Mumpung aku ada waktu ketemu dia!" Desak Jecky pula yang memang sengaja ingin merusak mood dari sahabatnya itu.


"Iya, iya, baiklah!"


Abygiel terpaksa mengalah dan memberikan ponselnya pada Hanum.


"Sekalian di fotoin dong, Mas!" Pinta Hanum lagi.


"Apa...?" Abygiel nampak tak terima dengan hal itu tapi akhirnya Ia harus memenuhi keinginan pembantunya yang satu itu.


Abygiel sebenarnya tidak suka melihat Hanum diam saja saat Jecky merangkulnya. Tapi Ia harus memotret keduanya beberapa kali sesi.


"Wah, makasih ya Mas Jecky. Aku seneng banget lo bisa ketemu sama Mas Jecky."


"Sama-sama."


Hanum pun berpamitan pergi karena Ia harus mengecek kondisi Oma yang masih merenung di dalam kamar. Entah apa yang di pikirkan Oma Ismi. Karena Beliau nampak terlihat sangat sedih.


"Oma, Oma Ismi kenapa?"


"Oma kangen sama Opa, Num. Udah sepuluh tahun Oma hidup tanpa dirinya. Kadang Oma merasa kesepian dan pengen cepet-cepet nyusul Opa ke surga."

__ADS_1


Hanum yang terharu pun langsung memeluk Oma Ismi. Ia tahu betul rasanya kangen karena di tinggalkan orang yang sangat berharga memang sangatlah menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi jika takdir berkata lain. Karena sesungguhnya semua itu sudah menjadi garis dari takdir.


"Oma jangan ngomong gitu dong, Hanum jadi ikutan sedih Oma. Kan Oma gak sendiri. Sekarang ada Hanum di samping Oma."


__ADS_2