
"Maaf ya, Sayang. Papa tak bermaksud menolak Milko. Tapi Papa gK mau sampai Milko ketularan pilek nanti," ucap Abygiel yang berusaha memberi pengertian pada anak kesayangannya itu.
"Bener, Mil. Jaga jarak dulu ya sampai Papa sembuh," Sahut Papa Aditama.
Hanum yang kasian langsung mendekapnya dari belakang, "Ya udah sini, Milko sama Tante Hanum aja ya, Tante suapi lagi makannya!"
Hanum segera menuntun Milko duduk di kersi yang kini berada di antara Hanum dan juga Abygiel.
"Papa sakit apa emangnya?" Tanya Milko lagi dengan wajah yang terlihat sangat menyedihkan.
Abygiel merasa ada hal yang tidak beres pada Milko saat ini, "Milko, Sayang. Apa kamu ada masalah sekarang?"
Higs... Higs...
Tiba-tiba Milko menangis dengan keras. Ia sangat kesal dan merasa kecewa karena siang tadi di ledekin sama teman-teman sebayanya.
"Papa, suluh Mama pulang dari sulga. Milko mau bilang kalau Milko mau sama Mama aja. Milko kesel karena temen-temen Milko pada diantelin kesekolah sama Mama mereka tapi Milko di antelin sama Papa aja!"
"Loh, Loh, kok ngomongnya gitu, Sayang?" Hanum mendekap bocah kecil itu lagi karena tak tega untuk melihatnya.
__ADS_1
"Mama bilang juga apa, By. Sebaiknya kamu menikah lagi karena Milko masih butuh sosok seorang Ibu. Jangan egois, By. Mungkin kamu bisa kuat tanpa Zahra tapi seorang anak akan terus menangis jika Ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan!"
Abygiel hanya bisa meneguk salivanya yang seakan tercekat di kerongkongan. Menikah lagi, baginya tidak semudah itu. Apa lagi bila Ia menikah tanpa perasaan apa-apa pada perempuan yang akan di jadikan Ibu untuk Milko.
Abygiel tahu Milko masih sangat membutuhkan seorang Mama. Tapi Abygiel sangat yakin jika dia bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya pada Milko.
"Hem, bener sih kata kata Mamamu, By. Sekali-kali kencanlah bersama seorang perempuan agar Milko tak lagi merasa tidak sama dengan nasib teman-temannya!" Imbuh Jecky pula.
"Iya aku tahu, tapi akan memikirkan itu nanti. Ayo makanlah! Tak ada gunanya membahas ini saat kita ada di depan makanan yang belum tersentuh sama sekali!"
Abygiel pun mendahului makan malam itu dan diikuti oleh yang lainnya.
Perempuan yang sangat keibuan sekali dalam mengayomi seorang anak yang memang masih sangat haus akan kasih sayang dari keluarganya.
Berbeda lagi dengan Oma Ismi. Dia yang melihat Milko ada diantara Abygiel dan Hanum serasa tengah melihat sebuah keluarga kecil yang begitu bahagia. Tapi sayang, usia Hanum yang masih remaja itu membuat Oma meragu untuk menjodohkan keduanya.
"Ambilkan air putih yang hangat, Num!" Pinta Abygiel pada Hanum.
"Oh iya, tunggu sebentar ya, Mas." Hanum pun bergegas ke dapur namun tak butuh waktu lama Hanum sudah kembali dengan membawa segelas air pesanan Abygiel.
__ADS_1
"Milko mau makan apa lagi sayang?" Tanya Hanum. Yang saat itu berlanjut untuk menyuapinya.
"Itu aja, Tante!" Milko menunjukkan telur mata sapi kesukaannya.
Jecky yang melihat Hanum terus-menerus akhirnya baru tersadar saat Ia tak melihat ada Sasya di antara mereka saat ini.
"Sasya kemana Tante?"
"Oh, sedang keluar tadi. Karena ada reunian di sekolahnya yang lama!"
"Oh begitu ya!"
Usai makan malam, Abygiel kembali menghantarkan Jecky duduk di ruang tamu.
"By, ada yang ingin aku bicarain soal Hanum?"
"kenapa dengan dia?"
"Boleh gak kalau aku sewa dia besok malam. Saat ini kan aku jomblo Irish baru saja ku putusin tadi. Tapi siapa sangka nanti malam aku ada acara penting dan aku harus membawa pasangan ke tempat itu!"
__ADS_1