Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 24 Belanja


__ADS_3

"Makasih ya, Num. Udah mau jadi temen Nenek. Jujur Nenek sering merasa sangat kesepian karena Carla dan Aditama jarang sekali dirumah. Begitu juga dengan Abygiel dan Milko. Mereka memang sering pulang saat tengah hari tapi Oma tetap saja kangen sama Opa!"


Hanum mengurai pelukan dan kembali tersenyum pada Oma Ismi. Perempuan mulia yang sudah menyelamatkannya dari kesusahan. Hanum bahkan tidak tahu bagaimana kabar teman-teman Hanum. Mungkin mereka juga sudah menemukan para Bos mereka masing-masing.


Hanum yang notabennya memiliki jiwa yang selalu ceria dalam masalah apa pun mencoba menghibur Oma dengan segala kemampuannya, "Udah, Oma. Sekarang ada Hanum ni disini. Sebaiknya Oma istirahat ya!"


"Tidak bisa, Oma kan mau ngajakin Hanum belanja?"


"Besok aja kan bisa, Oma. Gak papa kok Hanum pakai baju seadannya dulu!"


"Gak boleh, Oma tahu Abygiel keberatan kamu memakainya!"


Oma Ismi pun menggandeng tangan Hanum untuk turun kelantai bawah. Ia mau meminta Abygiel agar bersedia mengantarnya.


Hanum sempat terperanjat saat menyadari kalau aktor idolanya yang tadi masih ada bersama Abygiel sudah tak ada lagi di sofa.


"Mas Jeckynya udah pulang ya, Mas?" Hanum sampai nekat bertanya karena penasaran sekali pada pemuda seusia Abygiel itu. Namun karena terawatnya badan Jecky, Ia jadi kelihatan lebih muda ketimbang Abygiel yang pekerjaannya selalu sibuk di kantor.


"Kamu mau susul dia? Susul gih, sepet banget liat muka kamu yang suka pencitraan itu?"


"Oh, Jecky abis dari sini ya By. Kok gk kasih tahu Oma sih?" Sahut Oma Ismi.


"Gak sempet, Oma. Jecky sebenarnya pengen banget ketemu Oma, Papa sama Mama. Tapi ternyata dia buru-buru karena jam dua nanti ada shooting lagi untuk film terbarunya."


Hanum yang mendengar itu lekas kembali memberi pujian, "Wah, keren. Mas Jecky idola kaum hawa banget deh. Udah baik, ramah, ganteng lagi orangnya."


Abygiel yang malas tak menggubris hal itu dan lebih fokus pada Oma Ismi yang sepertinya akan pergi.


"By, anterin Oma sama Hanum ke boutique dulu ya. Oma mau beli baju buat Hanum. Gak mungkinkah dia pakai baju Zahra terus!"


Sebenarnya Abygiel enggan karena kondisi tubuhnya benar-benar tidak sehat. Suhu tubuhnya terasa demam dan hidungnya sedikit tersumbat. Tapi jika Abygiel menolak. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Oma Ismi seperti saat menemukan Hanum kala itu.


"Baiklah, Oma. Ayo kita pergi!"


Abygiel menghantar keduanya naik ke mobil sampai akhirnya mereka tiba juga di tempat yang di tuju.


"Ayo, Num. Pilih saja yang kamu suka. Ini adalah boutique langganan Oma sejak muda!"


Hanum sebenarnya takut jika membeli baju-baju itu akan memotong gaji pertamanya nanti. Sebab Hanum hanya punya mimpi ingin mengumpulkan uang yang banyak agar bisa mengirimi Ayah Farhan di kampung. Terutana agar Ayah Farhan bisa sembuh total dari kecelakaan yang membuatnya tidak bisa berjalan lalu setelah itu mereka bisa memiliki rumah yang lebih layak dari sebelumnya.

__ADS_1


Oma Ismi pun memanggil pelayan boutique itu yang sudah sering membantu Oma Ismi saat memilih pakaian disana, "Rumy, sini!"


"Eh, Oma Ismi ya!" Rumy pun menyalami Oma Ismi. Sepertinya mereka memang sudah dekat sejak lama.


"Tolong kamu carikan baju yang bagus seusia Hanum ya?"


"Oh, Iya Oma. Ayo Mbak!"


Keduanya pun mengitari banyaknya pakaian yang tergantung di sebuah besi yang bisa berdiri. Hanum tertarik pada dress yang di tunjukkan oleh Rumy padanya.


"Udah, Oma. Dua aja!"


Hanum menyambar dua dress dengan bentukkan yang sama hanya berbeda motif saja. Ia rasa dua potong sudah lebih dari cukup untuk dirinya.


"Kenapa cuma dua ayo ambil lagi! Kamu gak mungkin pakai dua baju itu secara bergantian setiap hari!" Perintah Oma Ismi.


Hanum jadi makin bingung akan hal itu. Karena jujur saja Hanum tak ingin uang gajihnya itu hanya akan habis secara sia-sia.


"Gak usah, Oma. Ini aja."


"Kenapa gak mau? Takut uang bulananmu di potong ya?" sahut Abygiel kemudian.


"Tidak, Hanum. Ini murni Oma kasih sebagai hadiah balas budi karena Hanum udah baik sama Oma waktu Oma pingsan di jalanan!"


Oma Ismi akhirnya langsung turun tangan sendiri untuk memilihkan beberapa setel baju untuk Hanum. Tak tanggung-tanggung Oma Ismi membelikannya sangat banyak dengan kwalitas yang bagus-bagus.


"Ayo, Num. Kamu coba dulu deh bajunya!"


"Iya, Oma."


Hanum bergegas menjajal semua pakaian itu dan rupanya Oma harus menukar sebagian yang kebesaran.


Terakhir ada dress yang sangat cantik untuk Hanum tapi Oma tidak tahu apakah dress itu akan cocok di tubuh Hanum.


"Wah, ternyata apa pun baju yang kamu pakai terlihat sangat cocok, Num. Mungkin dulu pas Ibumu mepahirkan kamu tali pusatmu terkalung di leher!"


"Loh, kok Oma tahu sih?"


"Ya tahulah, hanya orang yang terkalung tali pusatlah yang akan pantas memakai baju apa pun."

__ADS_1


"Iya Oma, Ibu waktu masih hidup juga pernah bilang begitu. Tapi Hanum malah tak percaya sih."


"Ya udah, kamu pakai gih dress ini nanti bisa kamu pakai saat bepergian karena bagaimana pun juga kamu adalah seorang gadis yang harus menjaga penampilan."


"Iya Oma."


Hanum pun kembali masuk ke ruang ganti dan tidak mendengar kalau Abygiel sudah kesal dan langsung menggunjingnya.


"Ya ampun, Oma. Orang jelek begitu di puji-puji. Jujur ya Oma. Hanum itu gak pantas pakai baju bagus pantasnya tu pakai daster-daster yang sering di pakai emak-emak itu lo!"


"Sok tahu kamu, emang laki-laki tahunya apa," dengkus Oma Ismi.


Tak berapa lama, Hanum pun kembali keluar dengan aura yang lebih berbeda lagi dari sebelumnya.


Abygiel sampai melotot melihat itu karena tak percaya dengan perubahan Hanum.


"Wah, cucuku cantik sekali," ucap Oma Ismi yang sangat senang dengan baju terakhir itu.


"Ah, Oma. Bisa saja. Hanum jadi malu kan?"


"Emang kenyataan, Sayang. Oma suka sekali dengan baju ini. Sangat cocok buat kamu!"


"Makasih, Oma. Maaf kakau Hanum sering merepotkan!"


"Tidak Sayang, Oma sama sekali tidak merasa di repotkan."


Karena sudah selesai, mereka pun segera membayar jumlah uang yang di habiskan untuk beberapa potong baju dan dua pasang sendal yang sudah di jajal oleh Hanum.


"Sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu, Oma!" Tukas Rumy kemudian.


"Wah, banyak sekali!" Hanum terkaget-kaget mendengar itu. Bisa-bisa lima bulan kedepan Ia tidak bergajih jika Oma memotong biaya yang sudah di habiskan.


Oma pun hendak membayar tapi karena Abygiel tak mau uang pegangan Oma habis, Abygiel pun langsung mengeluarkan ATM dari dompetnya.


"Biar saya yang bayar Oma."


Untuk masalah uang itu nanti, Abygiel akan mengurusnya pada Hanum. Karena Abygiel tidak akan rela jika Hanum hanya di beri pakaian dengan cuma-cuma.


"Terima kasih, By. Kamu memang cucu kesayangan Oma."

__ADS_1


"Sama-sama, Oma." Abygiel memang biasa saja pada Oma Ismi tapi Ia memberikan tatapan yang tak bersahabat pada Hanum. Seolah Ia menunjukkan kalau Ia tidak akan pernah ikhlas jika Hanum sudah berhasil mendapatkan kebaikan dari Oma kesayangannya itu.


__ADS_2