
Hanum yang melihat perempuan tua itu sudah tumbang pun langsung berlari mendekat, "Astaufirullah! Nenek kenapa, Nek?"
Dengan perasaan cemas, Hanum mengangkat kepala perempuan tua itu ke atas pangkuannya.
"Nek, bangun Nek? Nenek gak papa kan?"
Hanum mencoba menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari pertolongan namun sepertinya tidak ada satu orang pun yang mau berbaik hati untuk menghentikan mobil mereka yang lalu lalang.
"Aduh, gimana ya? Aku kan gak mungkin kuat gendong Nenek seorang diri?"
Hanum terus berpikir keras hingga akhirnya Ia melihat Nenek tua itu memegang sebuah paperbag dan dompet. Berbarengan dengan itu Ia juga melihat sopir taksi yang melintas di dekatnya.
"Pak, stop Pak!" Melihat mobil itu tak mau berhenti terpaksa Hanum menurunkan lagi kepala si Nenek ke badan aspal lalu Ia pun berlari ketengah untuk menghadang taksi itu sambil merentangkan kedua tangannya. "Tolong berhenti Pak, Nenek saya sedang sekarat. Dia butuh pertolongan secepatnya!"
"Aduh, mau mati kali ni anak. Gak tahu apa langganan aku lagi nungguin!"
Sopir taksi itu pun terpaksa turun dan memaki Hanum dengan kalimat yang tak enak untuk di dengar.
"Eh bocah edan, kamu udah bosan hidup ya? Habis putus cinta jangan bunuh diri di depan mobil saya dong. Kamu pikir gak berabe nanti kalau saya berurusan sama polisi kemudian di penjara gara-gara kebodohan kamu itu. Cantik-cantik tapi kok genes. Gara-gara patah hati mau mengakhiri hidup, miris banget sih?"
__ADS_1
"Aduh, Bukan itu, Pak. Tapi itu Nenek saya pingsan. Saya perlu tumpangan mau membawa dia kerumah sakit. Please Pak, bantuin saya. Kasihan Nenek kalau ada apa-apa nanti!" Hanum rela memohon sembari mengatupkan kedua tangannya berharap sopir taksi itu mau berbaik hati untuk menolongnya.
"Aduh, kacau ni urusannya. Terus pelanggan saya gimana ya?"
"Lupain dulu deh, Pak. Ini antara hidup dan mati seseorang Pak. Saya janji akan doain Bapak deh semoga rezeki Bapak lancar terus Bapak dan keluarga sehat walafiat sekeluarga. Ya Pak, Please. Ayo antar kami kerumah sakit sekarang juga," Pinta Hanum lagi dengan wajah memelasnya.
Karena tak tega akan kondisi Nenek itu. Terpaksa sopir taksi tersebut mengalah dan mau membatu mengangkat Nenek tua itu masuk ke taksinya.
Sepanjang perjalanan, ponsel sopir taksi itu terus berdering. Pasti pelanggannya sangat marah karena tak bisa menjemput sesuai waktu yang di jadwalkan.
Dengan perasaan takut, sopir taksi itu pun mengangkat telponnya. Sesuai dugaan Ia langsung terkejut saat mendengar amukan dari pelanggannya.
"Aduh, jangan, Pak. Maaf, saya sedang bantuin perempuan tua yang sedang pingsan di jalan, Pak. Makannya saya gak bisa datang tepat waktu."
O ya sudah, aku kirim ni bintang satunya sekarang juga ya, atas kinerjamu yang gak profesional itu...
"Aduh, jangan Pak. Saya mohon. Nanti saya kasih makan keluarga saya dari mana kalau saya nganggur, Pak!"
Perduli apa? Yang gak makan kan kamu dan keluarga kamu bukan aku!...
__ADS_1
"Aduh, gimana ni Neng? Bisa di pecat saya. Kalau pelanggan saya kecewa dan ngasih bintang satu," ucap sopir itu pada Hanum.
"Ya ampun, belagu banget sih pelanggan Bapak itu. Siniin Pak ponselnya biar saya yang ngomong sama dia!"
Sopir itu sebenarnya ragu tapi pada akhirnya Ia memberikan ponsel yang ada di sakunya.
"Eh, Tuan songong. Jangan mentang-mentang kaya ya bisa seenaknya ngasih bintang satu sama Bapak ini. Dia itu lagi nyelamatin nyawa seseorang. Bagaimana kalau yang di tolongnya itu adalah keluarga kamu lalu tiba-tiba kami di turunin di tengah jalan. Apa kamu gak akan menyesal jika terjadi apa-apa sama dia."
Karena bisingnya suara Hanum, pemuda yang masih berdiri di tepi jalan dengan mobil mogok itu pun menjauhkan telinganya.
"Is siapa sih ni cewek kok jadi dia yang nimpalin?"
"Kenapa diam aja, ha? Jangan songong deh, atau kamu itu gak punya hati ya. Oh iya mungkin sajakan hatimu itu terbuat dari batu hingga kamu menjadi angkuh dan besar kepala!" Maki Hanum lagi tanpa jeda. Kesal saja rasanya jika ada orang yang tak perduli dengan keselamatan nyawa orang lain.
Hanum pun mematikan ponselnya sebelah pihak lalu memberikan ponsel itu lagi pada Pak sopir.
"Ni Pak, ponselnya. Bapak tenang saja. Orang songong itu gak akan kasih bintang satu kok ke Bapak."
"Tapi kalau dia ngasih benerin gimana, Neng?" Tanya sopir itu masih takut.
__ADS_1
"Ya, itu, anu, Aduh Bapak tenang aja deh. Kasih saja alamatnya ke aku, biar aku minta ke dia langsung buat cabut penilaian buruk terhadap Bapak!" Yakin Hanum lagi, meski padanya dasarnya Ia sediri ragu dan ada rasa khawatir atas sikapnya yang kasar tadi.