Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 40 Pamitan


__ADS_3

Usai mengantar Milko ke sekolah, Abygiel dan Hanum berlanjut untuk mengantarkan keluarga ke bandara. Keberangkatan mereka pagi ini tentu akan membuat seisi rumah menjadi sangat sepi.


Apa lagi Bi Odah juga baru saja pamitan mau pulang kampung. Itu artinya Hanum harus bisa menjaga diri dengan baik karena hanya ada Abygiel dan Milko di rumah mewah itu.


"Sya, jagain mereka ya!" Pesan Abygiel pada adik perempuannya itu. Pasalnya Sasya lebih suka berwisata saat berkunjung ke Islandia.


"Iya Kak, nanti aku akan ajak mereka jalan-jalan di tempat yang sangat suka aku kunjungi kalau ke sana!"


Mereka pun segera bersalaman karena sebentar lagi pesawat akan berangkat.


"Num, jangan lupa kata-kataku tadi pagi. Awas ya kalau kamu lalai dalam tugasmu mengurus keperluan Milko dan juga Abygiel," ulang Mama Carla lagi.


"Iya, Bu. Hanum ngerti," jawab Hanun, seraya menundukkan kepala.


"Udah dong, Car. Percaya saja sama Hanum. Aku yakin dia sangat tahu cara mengurus Milko. Kalau Abygiel, diakan sudah dewasa. Masak Hanum juga yang harus urus, emang Hanum istrinya?" timpal Oma Ismi yang merasa perlu menyela ucapan menantunya.


"Betul, kata Mama, Sayang. Masak Abygiel gak bisa ngurus dirinya sendiri!" Tukas Papa Aditama pula.


"Ya, harus dong, Ma, Mas. Kan Abygiel harus makan, pakaiannya juga harus di cuci dan di setrika!" Mama Carla sepertinya tak mau kalah.


"Oke, oke, kalau bedebat kayak gini. Kapan berangkatnya dong?" Protes Sasya kemudian setengah bersungut-sungut karena Ia sudah tak sabar sampai di Islandia dan bertemu dengan sepupunya.


Beberapa waktu berlalu, setelah mereka masuk ke dalam. Hingga hanya butuh dua puluh menit pesawatnya sudah lepas landas.


"Mas Aby mau kemana?" Tanya Hanum lirih. Khawatir jika Abygiel tak mengantarnya pulang lebih dulu.


"Ke kantor sebentar, ada urusan dengan kolega. O ya jam berapa Bi Odah pergi?"


"Jam sembilan, Mas."

__ADS_1


Hanum mengikuti langkah Abygiel yang menghantarnya masuk ke mobil. Hanum sebenarnya sangat gelisah memikirkan tentang kondisinya yang seorang perempuan.


Bersama dengan pria duda dalam satu rumah tentu bukanlah sesuatu yang baik. Tapi Hanum sendiri tak mungkin bisa melarikan diri karena Ia terlanjur ada di rumah itu dan belum satu bulan penuh. Tentu saja Ia akan rugi jika meninggalkan uangnya. Belum lagi Hanum tak punya tujuan lain meski ada uang simpanan dari Jecky semalam.


"Memikirkan apa?"


Abygiel merasa ada yang tak beres dengan Hanum. Gadis itu terus saja memainkan ke sepuluh jari jemarinya yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Sepertinya Hanum gugup atau gelisah dengan sesuatu.


"Oh... I- itu tidak ada, Mas. Tapi H- Hanum boleh tahu gak? Apa sih yang membuat Mas tak mau menikah lagi? Ya, meski Hanum tahu. Mas Aby pasti sangat mencintai Mbak Zahra. Tapi kenapa Mas Aby tidak mencobanya dulu untuk dekat dengan perempuan agar Milko masih bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ibu?" Tukas Hanum panjang lebar.


Abygiel melirik Hanum lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Emangnya kamu mau jadi Ibu Milko?" Celoteh Abygiel tiba-tiba membuat kedua bola mata Hanum seketika terlonjat.


"Lupakan! Lagian kenapa sih ribet banget ngurusin hidup orang lain? Akan lebih baik jika kamu jangan menggangguku dulu dengan ocehanmu itu?" Marah Abygiel kemudian.


"Gak, karena itu bukan urusanmu!" Jengah Abygiel lagi membuat Hanum lamgsung terdiam.


Tak terasa mobil mereka bergerak sangat cepat. Seluruh kantor Abygiel yang semula sepi mendadak ramai saat mereka melihat Hanum mengikuti langkah Abygiel masuk ke dalam ruangan.


"Loh, itukan pacarnya aktor yang lagi naik daun itu ya?" Tanya salah seorang stap pada temannya.


"Loh, iya. Tapi kok sama Bos ya? Penampilannya juga biasa tak secantik tadi malam?"


"Wah, gawat. Jangan-jangan mereka selingkuh kali?" Tebak yang lain lagi.


"Hus, ngacok kamu! Mau di pecat ya?"


*****

__ADS_1


Setibanya di dalam, Hanum masih saja berdiri di dekat pintu dan mengamati kesibukan Abygiel.


"Tunggu disini!" Ujar Abygiel, sambil berlalu keluar. Tidak tahu kemana pria itu akan pergi, Hanum tak mau ambil pusing dan memilih duduk di kursi kebesaran Abygiel.


"Hem, seandainya aku gak ketinggalan mobil travel. Pasti aku gak disini sekarang?"


Hanum sebenarnya bosan menunggu, tapi sudah sekitar satu jam Abygiel tak kunjung kembali juga.


"Ayo pulang!" Ajak Abygiel. Saat Ia membuka pintu dan hampir mengagetkan Hanum.


"Sudah selesai, Mas?"


Abygiel mengangguk. Keduanya berlalu dari kantor hingga menepi di rumah. Disana Bi Odah dan suaminya sudah berkemas dan menunggu di teras. Tentu saja mereka harus pamit sebelum pergi.


"Udah mau pergi sekarang, Pak Otto sama Bi Odah?" Tanya Abygiel, setelah turun dari mobil.


"Iya, Den. Maaf ya. Bibi sama Bapak harus pulang dulu!"


"Iya, Bi. Gak papa."


Abygiel merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga amplop berwarna coklat dari sakunya.


"Ini gajih Pak Otto dan Bi Odah untuk bulan ini. Terus yang satunya ada sedikit dari aku semoga bisa membantu pengobatan anak Bibi!"


"Alhamdulilah, makasih ya Den. Ini sangat berarti untuk kami."


Saking harunya kedua pasangan paruh baya itu sampai mencium tangan Abygiel.


"Eh, jangan Bi, Pak. Sudah sepantasnya ini kalian dapatkan karena kalian sangat bertanggung jawab dengan tugas kalian!" Ucap Abygiel begitu bijaksana. Hanum sampai terperangah melihat sikapnya. Tak disangka ternyata Abygiel memiliki jiwa yang begitu mulia.

__ADS_1


__ADS_2