
Hanum kembali di buat terheran-heran saat Ia melihat Abygiel memencet tombol pada sebuah pintu yang tiba-tiba saja terbuka.
Hanum sebenarnya ingin bertanya tapi Abygiel begitu dingin padanya jadi Hanum mengurungkam niat itu.
Sesaat Hanum menjadi sangat terkejut dan langsung memeluk Abygiel ketika Ia merasakan pintu itu tiba-tiba berjalan dengan sangat cepat.
"Aduh, Mas. Kenapa pintunya berjalan?"
"Is, apa sih peluk-peluk segala?" Abygiel ingin melepaskan diri dari Hanum tapi gadis kecil itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Aku takut, Mas. Gimana kalau tiba-tiba kita jatuh?"
"Astaga, kudet amat sih? Jatuh kemana emangnya? Ini namanya Lift emang kamu mau kita melewati puluhan tangga kelantai atas sampai ke nomor empat puluh?"
"Apa? Lantai nomor empat puluh? Itukan tinggi banget Mas, aku takut?" Hanum semakin menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Abygiel yang sangat jengah dan kesal padanya. Tapi Hanum tak akan memperdulikan masalah itu yang penting caranya yang konyol itu bisa mengurangi rasa takutnya.
Ya ampun, bagaimana ini? Dia pasti belum mandi ni rambutnya masih bauk banget lagi...
"Ya ampun, kamu gak keramas ya? Rambutmu bauk bangkai, tauk!"
Abygiel ingin muntah rasanya, tapi Ia tahan, karena tak lama setelah itu pintu lift pun akhirnya terbuka.
"Lepaskan pelukanmu, ayo kita keluar!"
"Sudah sampai, Mas?"
"Sudah."
__ADS_1
Hanum pun memeriksa situasi dan kondisi kemudian langsung melepaskan Abygiel yang kembali memperhatikannya usai keluar dari dalam lift.
"Eh tunggu dulu. Kamu pasti makek baju Zahra lagikan?" Abygiel memeriksa dengan tatapan menyeluruh.
"Hehehe... Iya Mas. Masak pakek baju Mas sih? Kan saya gak punya baju satu pun karena baju saya hilang di bawa mobil travel. Jadi Oma minta saya pakai baju yang ada dulu!"
Abygiel berdecih malas mendengar itu lalu pergi mendahului Hanum yang mengekor di belakang. Setibanya di ruangan utama, Hanum membelalakan mata karena melihat ruangan itu begitu kotor dan berantakan. Banyak file yang ada di dalam rak juga tidak di tata dengan rapi.
"AstaufiruLLahaladzim, ini kantor apa kandang domba sih Mas? Kok berantakan banget sih?"
"Bukan, tapi kandang drakula," Ketus Abygiel lagi.
"Kan aku bicara apa adanya. Emang kantor sebesar ini gak ada tukang bersihnya!"
"Sudahlah, jangan banyak omong. Cepat kamu beresin semua ini dengan segera. Aku harus meeting dulu. O ya semuanya harus sudah bersih saat aku kembali nanti!"
"Gak ada tapi-tapian aku akan kembali satu jam lagi!"
Abygiel berlalu keluar dengan membawa berkas di tangannya tadi tanpa menghiraukan ocehan Hanum. Selama ini Abygiel memang tidak pernah mengizinkan ada seorang pun yang berani masuk ke dalam ruangan itu karena suatu sebab kecuali asistennya. Tapi sudah seminggu asistennya itu di tugaskan ke Bandung untuk urusan bisnis Sehingga Abygiel tidak akan mungkin melakukan tugas itu sendirian.
"Ya ampun, kok ada ya. Bos sejorok dia. Tadi sama kemaren ngatain aku bauk.Tapi nyatanya yang jorok itu dia. Faktanya ruangan sebagus dan sebesar ini banyak banget kertas-kertas dan tisu berserakan. Emang kerjanya apa sih? Tadi pagi aku juga lihat ada banyak kertas di kamar Mas Abygiel. Emang kertas-kertas ini buat apa ya, aneh?"
Hanum pun mengumpulkan kertas-ksrtas itu dan memasukkannnya kedalam kotak sampah yang ada di depan pintu ruangan Abygiel. Ia juga merapikan semua file yang ada di atas rak namun karena sebagian tinggi, Hanum pun menggeret kursi Abygiel dan manjat lewat kursi itu.
Karena asyiknya melakukan pekerjaan itu, Hanum jadi hampir kepeleset.
"Eh, Eh... Gimana ni?" Hanum sangat panik dan benar-benar akan jatuh tapi untungnya ada yang menangkap bobot tubuh Hanum yang mungil itu.
__ADS_1
"Mas Aby...?"
Hanum merasa tenang karena selamat, tapi Ia tak akan lepas dari amukkan Abygiel yang langsung melepaskan tubuhnya dengan kasar.
"Gimana sih kerjanya? Kamu bosan hidup ya? Dasar ceroboh!"
"Iya kan tempatnya tinggi, Mas. Aku gak nyampek makannya manjat!"
"Gak usah alasan, rapikan aja yang terjangkau, terus sapu lantainya!"
"Iya, Mas."
Abygiel pun mengambil sesuatu di atas mejanya yang tertinggal lalu kembali keluar dari ruangan itu.
Lagi-lagi Hanum harus kesal karena tingkah laku dari majikannya yang satu itu. Seumur-umur Hanum baru sekali ini ketemu orang yang modelnya seperti Abygiel.
"Dasar Mas Songong, eh bukan-bukan julukkan itu terlalu bagus. Tapi yang bener itu adalah Mas Soang kan sama tu kayak bebek, mulutnya ribut mulu gak mau diem," rutuk Hanum lagi sambil melanjutkan tugasnya membersihkan ruangan Abgiel.
Setelah semuanya selesai, Hanum tersenyum dengan hasil dari kinerjanya itu, "Nah ginikan enak liatnya gak sepet kaya lihat muka Mas Abygiel. Pengen nimpuk rasanya kalau ketemu."
Hanum memutuskan duduk di kursi Abygiel tadi sambil melihat-lihat file diatas meja. Tapi sayangnya Hanum gak ngerti sedikit pun apa fungsi dari tulisan-tulisan itu.
Saat Ia membuka beberapa file berikutnya. Hanum kembali menemukan ada banyak foto-foto Zahra yang terselip di dalam sana. Hal itu membuat Hanum kian penasaran seperti apa sebenarnya Zahra itu sampai-sampai Abygiel tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang mendiang istrinya itu.
"Wajar sih, Mbak Zahra itu cantik banget kayak artis-artis di televisi itu. Jadi gak heran kalau Mas Abygiel cinta mati. Tapi kenapa harus di selipin di buku sih gak di pajang aja di dinding ruangan ini?"
"Melihat apa?" Tegur seseorang yang tiba-tiba masuk keruangan itu.
__ADS_1