
"Ayolah Zahra aku mohon, kepalaku sangat pusing!" Pintanya lagi. Abygiel terlihat memijat kepalanya sendiri yang mungkin sangat sakit.
Hanum hanya garuk-garuk batang leher jadinya karena Ia bingung harus membantu Abygiel atau tidak.
Melihat kaki duda itu masih menggantung ke lantai, gadis kecil itu pun langsung mengangkat kaki Abygiel ke atas ranjang. Kemudian melepaskan sepatu yang masih terselubung di kaki pria itu.
Hanum tak perduli dengan permohonan Abygiel agar mau memijatnya. Tapi langkah Hanum untuk keluar membuat Abygiel memaksa untuk mencekal lengannya.
"Aku mohon, Zahra. Aku mohon...!" Melasnya lagi membuat Hanum jadi tidak tega. Terpaksa Hanum mengalah dengan memijat kening Abygiel yang mulai menghebuskan nafasnya dengan tenang.
"Pijatanmu memang the best Zahra, aku selalu merasa nyaman saat tanganmu menyentuhku!" Celoteh Abygiel lagi. Tak perduli Hanum geli sendiri mendengar kebucinan Abygiel pada almarhumah istrinya itu.
"Dasar songong. Segitunya dia cinta sama Mbak Zahra sampai dalam keadaan mabuk pun yang diingatnya cuma Mbak Zahra? Seperti apa sih Mbak Zahra itu jadi penasaran deh dengan wajahnya!"
Meski tangan masih memijit, Hanum mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru dinding rumah itu hingga Ia terpantik pada sebuah foto yang ada di atas meja.
"SubhanaLLah, cantik sekali. Apa dia yang namanya Mbak Zahra? Pantes saja Mas songong ini cinta berat? Ternyata Mbak Zahra memang cantik banget kayak bidadari!"
Belum puas melihat dari kejauhan, Hanum pun menghentikan pijatannya dan mengitari ranjang untuk melihat foto Zahra secara dekat.
Hanum pun mendaratkan bokongnya di tepi ranjang sambil memandangi foto milik Zahra.
Hanum pun takjub dan mengakui kecantikan perempuan dalam foto itu. Jadi wajar saja Abygiel jadi kesulitan move-on dari mendiang istrinya.
"Seandainya Mbak Zahra masih hidup. Pasti dia adalah perempuan yang paling beruntung karena di cintai Mas songong itu begitu dalam. Aku yakin Mas songong ini akan melakukan apa pun demi membahagiakan Mbak Zahra?"
"Kamu benar, aku sangat mencintamu, Zahraku," timpal Abygiel yang tiba-tiba saja melingkarkan tangannya ke pinggang Hanum.
Sentuhan Abygiel membuat Hanum jadi deg-degan. Seumur hidup Hanum tidak pernah dekat dengan pria karena Ia hanya ingin fokus bersekolah. Jadi aneh saja, rasanya saat Abygiel melakukan hal itu, Jujur ada yang membuat Hanum takut akan perlakuan Abygiel padanya. Hanum juga pernah denger kalau seorang duda itu biasanya suka menggoda para gadis belia sepertinya karena sangat merindukan belaian.
"Ih, serem!"
Hanum langsung melemparkan tangan Abygiel ke belakang dan langsung berlari keluar takut jika nanti Abygiel khilaf lalu memperkosa dia di kamar itu.
Hanum langsung masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Ia benar-benar takut bahkan jantungnya serasa hampir copot.
"AstaughfuruLLahalazhim, Hanum. Kamu gimana sih? Ngapain juga deket-deket apa si dublay, kalau kamu di apa-apain gimana coba? Masak iya kamu punya anak dari pria hidung belang sih yang jauh usianya diatas kamu!"
__ADS_1
Hanum mengusap-usap dadanya lalu segera berbaring untuk melanjutkan tidurnya. Tak perduli lagi dengan Abygiel yang masih saja ngedumel tanpa henti.
*****
Keesokan harinya tepatnya pukul empat lewat lima belas menit, Hanum langsung mengerjakan sholat subuh kemudian berlanjut dengan membantu Bi Odah membersihkan seisi rumah mewah itu.
"Kamu mau ngapain, Hanum?"
"Bantu Bibi dong, Bibikan sendirian ngurus rumah besar ini!"
"Jangan Neng, nanti di marahin Oma Ismi lo?"
"Enggak lah Bi, inikan kemauan Hanum sendiri."
"O ya udah Hanum nyapu aja deh biar Bibi yang masak, habis itu di pel ya?"
"Oh, oke Bi. Peralatannya dimana?"
"Ada no dekat kamar mandi, pewanginya di dalam lemari ambil aja seperlunya!"
Hanum pun memulai aktivitas paginya dengan membantu beberes. Toh sebenarnya dia tidak tahu untuk mengurus Oma dengan cara apa mengingat Oma Ismi masih sangatlah bugar di usianya yang sudah senja.
Hanum pun menyapu bagian luar kamar yang menurutnya harus di bersihkan. Saat itu Hanum berada tepat di depan kamar Abygiel. Jam segitu rupanya pria itu sudah bangun. Ia menyadari keberadaan Hanum lalu membuka pintu untuk memerintahnya.
"Hanum, kesini dulu sebentar!" Panggil Abygiel yang saat itu masih menggunakan handuk saja di pinggangnya membuat Hanum semakin takut dengan pria itu.
Ya ampun, dia mau ngapain aku ya? Kok suruh masuk ke kamarnya segala sih? Jangan-jangan dia mau memperkosa aku lagi?...
"Cepetan, aku gak ada waktu sekarang!" Paksa Abygiel lagi sambil berkaca pinggang.
"I- iya, tunggu sebentar!"
Hanum sebenarnya ragu. Tapi Ia tak punya alasan untuk menolak keinginan Abygiel.
"Ada apa, Mas?"
"Tolong kamu sapu kertas-kertas itu sekarang juga! Aku sepet melihatnya!" Tunjuk Abygiel pada banyaknya kertas yang berserakan di lantai. Entah sejak kapan itu terjadi pasalnya semalam benda-benda itu belum ada satu pun di dalam sana.
__ADS_1
Hanum pun melakukan perintah Abygiel. Saat sibuk menyiuk kertas-kertas itu kedalam serokan Hanum tertarik dengan sebuah benda berbentuk seperti karet tergeletak di sana.
"Ini apaan Mas?" Tanya Hanum, setelah Ia memungutnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan dengan benda itu ha? Kamu dapat darimana ini tadi?" Marah Abygiel pada Hanum.
"Mana aku tahu, Mas. Tadi sudah tergeletak di lantai. Emangnya ini apaan?" Hanum yang kian penasaran membuka lubang dan meneropong benda seukuran jari kelingking itu.
"Kayaknya ini balon ya, Mas.Biar aku tiup buat mainan Milko nanti!"
Hanum ingin memasukkan benda itu ke mulutnya akan tetapi Abygiel dengan cepat merampas barang rahasia itu.
"Gila kamu ya, ini bukan balon?"
"Tapi bentuknya mirip balon, Mas?"
"Mana ada, ini itu...!" Abygiel berusaha menunjuk pusakanya agar Hanum mengerti tapi hanum terlalu kolot akan masalah itu.
"Apaan sih, Mas? Gak jelas banget deh?" Hanum pun menggerutu lalu fokus melanjutkan pekerjanya.
"Ya ampun, hampir saja!"
Abygiel pun memasukkan benda itu kedalam laci karena tidak ada yang boleh tahu tentang kebiasaannya selama ini. Hanya dengan cara itu Abygiel bisa menghilangkan gairah lelakinya. Karena tekatnya yang tak ingin menjalin hubungan lagi dengan wanita mana pun juga.
Selama lima tahun ini faktanya Abygiel bisa meski hal itu tak senikmat bercumbu secara langsung dengan lawan jenis.
Usai membersihkan tempat itu, Hanum pun ingin keluar namun Abygiel kembali mencegahnya.
"Nanti dulu, cepat kamu isi bak mandi dan campur dengan air hangat aku harus menyelesaikan pekerjaanku sekarang juga!"
"Ka- kamar mandi!"
"Iya, disana ada tombol yang hijau air dingin dan yang merah air panas. Tapi jangan kepanasan ya, di kira-kira saja!"
"Iya, Mas. Ada lagi gak?"
"bersihkan lantainya dan iya sekalian mukamu itu masih ada kotorannya!" Timpal Abygiel lagi.
__ADS_1