Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 22 Menjemput Milko


__ADS_3

"Dasar gak tahu malu, kelihatan banget kalau minta masih saja mau ngeles," decak Abygiel seorang diri tapi Hanum pura-pura tak mendengarnya sampai mobil mereka kembali menapi jalanan yang panjang dan berliku itu.


Abygiel menelisik arlojinya, Ia baru ingat kalau jam segitu Milko sebentar lagi pasti akan pulang jadi Ia memutuskan untuk menjemput Milko lebih dulu.


Hanum tak ambil pusing Abygiel mau membawanya kemana karena Ia memang berpikiran keduanya pasti akan pulang kerumah. Yang Hanum tahu sekarang adalah dia sedang menikmati makanan favoritnya.


Melihat Abygiel tak makan satu pun, Hanum pun berinisiatif untuk menyuapkan cilor tusuk itu pada Abygiel.


"Ini Mas, cobain dulu!"


"Is apa sih? Kayak bocah aja di suapin?"


"Gak papa, kan Mas Aby lagi nyetir. Lagian aku kan kerja buat ngelayani, bener toh?"


"Iya, tapi gak gitu juga."


"Idih, sewot amat sih, marah-marah melulu kerjanya. Jangan-nangan Mas Aby suka gitu ya sama Mbak Zahra makannya dia stress terus meninggal," celoteh Hanum yang balik memarahi Abygiel. Entahlah Hanum tidak ada perasaan takut pada pria itu jika melawan. Menurutnya Abygiel pria yang cocok untuk diajak berdebat.


"Mau gak ni, pegel tahu Mas, tanganku?" Tawar Hanum lagi yang masih mengatungkan tangannya kearah Abygiel.


Karena merasa penasaran dengan rasanya, Abygiel terpaksa menerima suapan dari tangan Hanum, Untuk pertama kalinya Ia kembali melakukan itu. Makan dari tangan orang lain tapi bukan dari Zahra, Mama Carla ataupun Milko melainkan dari tangan pembantu di rumahnya sendiri.


"Gimana, Mas? Enak gak cilornya?"


"Em... Biasa aja sih?"


"Berarti lidah Mas Aby yang bermasalah."


Sadar tidaknya, Hanum melahap sisa cilor dari Abygiel tadi tanpa ada pikiran yang aneh-aneh membuat Abygiel sempat terkejut melihatnya.


"Mau lagi, Mas?"


"Bolehlah, walaupun gak enak!"


Hanum menyuapi Abygiel lagi yang tak ternyata tak memungkiri kalau cilor itu rasanya sangat unik dan nagihin.


Tak lama mobil mereka pun menepi di pinggir jalan. Benar saja dugaan Abygiel kalau Milko sudah pulang sekolah dan menunggu jemputan di pinggir jalan.


"Loh ini sekolahan Milko ya, Mas?"


"Iya, sudah turun sana. Ajak Milko masuk!"


"Iya Mas."


Hanum pun turun untuk menghampiri Milko yang langsung tersenyum saat menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Tante...!"


"Udah dari tadi ya nungguinnya, ayo salim dulu!"


Hanum mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Milko dengan takzim. Melihat pemandangan mengharukan itu, Abygiel lagi-lagi di buat tercengang saat melihatnya. Secepat itu Hanum dekat dengan Milko dan hal itu adalah momen yang sangat langka.


Biasanya Milko paling anti dengan orang asing yang baru pertama kali di lihatnya. Tapi berbeda sekali saat bertemu dengan Hanum. Keduanya cepat sekali akrab dan Abygiel merasa Milko akan bahagia jika ada Hanum bersamanya.


Keduanya pun masuk ke kursi belakang sambil bercerita banyak hal dan Abygiel segera melajukan mobi tumpangan mereka. Hanum yang memang notabennya pencinta anak kecil mudah sekali dalam menanggapi celotekkan dari Milko.


"Tante, tadi aku dapet nilai sepuluh lo."


"Wah, hebat sekali. Emangnya Milko ngerjain apa. Tadi? Kok pinter banget sih?"


"Disuruh gambal, Tante!" Milko mengeluarkan selembar kertas dan memperlihatkan hasil gambarannya.


"Aku gambal Mama, Papa dan aku disini," tunjuk Milko pada gambar lucu di kertas itu


"Waw, bagus banget, terus Bu Guru tadi bilang apa sama Milko?"


"Milko Mama kamu pasti hebat ya punya anak seperti kamu. Gambarnya bagus banget. Aku jawab aja, gak tahu Bu Gulu Mama udah gak ada. Telus Bu gulu peluk aku."


Hanum tersenyum saat melihat tulisan ngawur diatasnya. Aku rindu Mama. Disana Hanum merasakan hal yang sama hingga Ia replek memeluk erat tubuh Kecil bocah itu.


"Kita sama sayang, Tante juga rindu sama Ibu Tante. Tapikan kita gak boleh larut dalam kesedihan. Mama Milko sama Ibu Tante udah bahagia di surganya Allah!"


Menjadi Ayah yang membesarkannya sebagai single daddy bagi Milko, tentu saja Abygiel tak tega mendengarnya. Ia tahu Milko belum paham kondisi yang mereka katakan. Kalau Mamanya sudah pergi jauh dan tidak akan bisa di gapai keberadaannya.


"Tidak Milko, bukan itu. Milko gak perlu beli tiket buat kesana. Karena Mama Milko selalu ada di sini!" Hanum menunjuk ke dada Milko yang nampaknya bingung mencerna arah dari ucapan Hanum.


"Maksudnya?"


"Maksud Tante, meski Mama Milko jauh di surga. Sebenarnya dia ada di hati Milko bahkan menyatu dalam raga Milko. Mama selalu nemenin dan ngawasin Milko dari sini. Karena apa, karena darah Mama ada dalam aliran darah Milko."


"Oh begitu ya, Tante. Jadi meski Mama gak kelihatan dia ada disini Milko?"


"Yup, Ibu Tante juga udah gak ada di dunia ini. Tapi Tante dapat merasakan kalau Ibu Tante akan selalu ada di hati makannya Tante gak pernah merasa kesepian meski Tante merindukannya!"


"Iya Tante, baiklah. Milko gak akan sedih lagi. Milko percaya kalau Mama itu sayang dan gak akan ninggalin Milko sendirian. Ya, walaupun Milko gak bisa lihat wajah Mama secala langsung. Semoga saja Mama bahagia ya disana?" Ucap bocah itu yang kembali kelihatan girang dengan kecedalan dan keluguannya.


"Aamiin, Ya udah Milko mau gak makan ini?" Hanum teringat dengan cilor tusuk yang masih ada beberapa di tangannya.


"Apa itu, Tante?"


"Ini cilor tusuk, Milko cobain ya?"

__ADS_1


Hanum memberikan satu tusuk dan Milko langsung melahapnya.


"Wah, enak banget. Makasih ya Tante!"


"Sama-sama."


Abygiel yang hanya fokus menyetir dan menyimak obrolan mereka ikut tersenyum. Ia senang jika Milko bisa tertawa selepas itu. Rupanya usia Hanum yang masih remaja sangat membantu kedekatan keduanya.


Tak terasa sudah beberapa puluh menit berlalu. Akhirnya mereka tiba juga di rumah kediaman Aditama.


"Alhamdulilah, akhirnya sampai juga ya!"


Hanum menggandeng Milko masuk ke dalam lebih dulu dan meninggalkan Abygiel yang di kacangi anak sendiri.


Abygiel sebenarnya cemburu akan hal itu berharap Milko memilih menggandengnya ketimbang pembantu itu.


"Ayo ganti baju dulu!"


Hanum mengikuti langkah Milko masuk ke kamar dan membantu mengganti pakaiannya.


"Tante, kata temenku tadi. Papa suluh nyari Mama baru supaya Milko ada Mama, menurut Tante bagaimana?"


Hanum terdiam mendengar itu. Jujur Ia tidak akan setuju akan keinginan Milko karena khawatir nasibnya akan sama seperti dirinya.


"Milko, dengerin Tante ya. Punya Mama baru itu Milko harus adaptasi dengan suasana berbeda dan gak mudah untuk itu. Ada banyak perbedaan yang akan membuat Milko bisa merasa tidak nyaman nantinya. Kecuali kalau Milko udah kenal banget sama calon Mama baru Milko. Memiliki jiwa penyayang dan juga tulus sama Milko!"


"Begitu ya, Tante. Tapi aku gak suka sama Tante Lolita. Dia itu gak baik orangnya."


"Emang Milko udah pernag ngobrol sama Tante Lolita?"


"Belum sih, Tante. Tapi melihatnya saja Milko sudah takut."


Milko yang sudah selesai ganti baju langsung memeluk Hanum. Ia merasakan kedamaian ada bersama gadis itu.


"Kalau begiti ayo kita keluar. Tapi Tante Lihat Oma Buyut dulu ya?"


"Iya Tante, ayo."


Baru saja tiba di ruang tengah bel pintu tiba-tiba berbunyi nyaring.


"Ada orang tu, Tante buka dulu ya!"


"Iya, Tante."


Hanum bergegas ke pintu depan dan membukanya. Ia sangat terkejut saat melihat siapa yang telah menjadi tamu rumah itu.

__ADS_1


"Wah, ganteng banget? Jadi meleleh ni?"


__ADS_2