
"Tante mau pipis."
"Ya udah, ayo Tante temani!"
Hanum pun menggandeng Milko ke toilet umum khusus pria. Semua yang melihatnya berdiri di depan pintu jadi saling tatap penuh curiga. Seakan ada yang sangat aneh di diri Hanum.
"Kerja jadi banc* ya, is menjijikkan sekali," ucap segelintir orang yang mengira Ia adalah lelaki jadi-jadian.
"Ih apaan sih? Gak jelas banget?" Rutuk Hanum seorang diri.
"Ayo Tante!" Milko sudah selesai dan menggandeng Hanum kembali keluar. Hanum jadi kepikiran dengan tudingan mereka tadi terhadapnya.
"Aku rasa kamu aja deh, Mas. Yang nemenin Milko ketoilet cowok. Masak Hanum di kira waria sih sama orang-orang di toilet cowok tadi."
Mendengar itu Abygiel dan Milko jadi terpingkal-pingkal di buatnya. Padahal mereka sendiri tak kepikiran sedikit pun dengan itu.
"Lah, kok malah jadi ikutan meledek sih?"
"Abisnya lucu, Tante. Milko lupa kalau Tante cewek. Halusnya kita masuk ketoilet cewek aja tadi!"
"Biar Milko yang di kira banc*," sahut Abygiel lagi yang semakin terbahak-bahak. Sekilas mereka memang terlihat seperti keluarga yang bahagia. Padahal mereka yang berpikiran seperti itu tidak tahu saja kalau Hanum dan Abygiel adalah majikan dan pembantu.
__ADS_1
Karena makanan yang di pesan Abgiel sudah datang. Mereka harus fokus dulu untuk makan.
Tepat pukul lima sore mereka sudah tiba di rumah kediaman keluarga Aditama.
"Milko ke kamar dulu ya, Tante!"
"Iya sayang."
Hanum juga harus segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri karena sebentar lagi Jecky akan datang untuk menjemputnya.
Abygiel yang mengerti akan hal itu sebenarnya kurang suka dengan keputusan Hanum yang mau jadi pacar pura-pura Jecky. Bukan karena cemburu. Pasalnya Ia yakin kalau Ia tak akan mungkin cemburu pada seorang pembantu.
Ia baru tahu kalau ternyata Jecky ada acara syuting di tempat pesta itu terjadi. Yang artinya seluruh dunia akan tahu kalau Hanum adalah kekasihnya sekarang.
Ning Nung!
Ning Nung!
Bel rumah sudah berbunyi. Abygiel yang sangat yakin itu adalah Jecky segera mengeceknya keluar tapi tidak menemui Sahabatnya itu melainkan hanya mengintip Hanum yang rupanya sudah menyambut kedatangan Jecky.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Hanum belum sisiran!" Hal itu jelas di ketahui Jecky karena rambut Hanum masih di lilit oleh handuk.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggumu!"
Hanum pun segera masuk dan membiarkan Jecky celingukan mencari Abygiel. Ia sangat berharap bisa pamitan dulu sebelum membawa Hanum.
"Eh, Jeck. Sudah datang rupanya!" Sapa Oma Ismi.
"Iya, oma. Hanum udah kasih tahukan soal rencanaku pada Oma?"
"Udah, Jeck. Tapi tolong ya. Jaga Hanum baik-baik di sana nanti atau Oma akan marah padamu."
"Siap Oma. Lagian ini cuma pesta Ultah temen syuting kok Oma!"
"Iya, iya, Oma paham dengan itu."
"Ayo, Mas!" Ajak Hanum kemudian yang sudah siap dengan penampilan ala kadarnya.
"Hati-hati di jalan ya!"
"iya, Oma. Hanum pergi dulu " Tak lupa Ia mencium tangan Oma Ismi karena itu adalah suatu kewajiban untuk Hanum yang di tanamkan kedua orang tua sejak Ia masih kecil.
Abyiel hanya melihat dari atas balkon kalau mobil yang membawa Hanum sudah keluar dari halaman rumahnya.
__ADS_1