
Setelah Bi Odah dan suaminya pergi, Abygiel kembali merasa lapar. Tapi Ia bukan ingin makan melainkan ingin hal sederhana saja seperti menyeruput mie instan.
"Num, buatku aku mie sebentar!" Ujarnya, usai mendaratkan diri di sofa.
"Iya, Mas. Tunggu sebentar!"
Hanum pun berlalu ke dapur dan memeriksa segala kebutuhan dan stok mie yang ada.
Ternyata sudah habis semua, tapi Bi Odah tak memberitahukan hal itu. Mungkin karena kelupaan saking paniknya mendengar sang anak sedang sakit dan Hanum maklum dengan hal itu.
Hanum pun kembali dengan tangan hampa, "Maaf, Mas. Mienya habis. Belanjaan di dapur juga udah pada gak ada!"
"Loh, kok baru bilang. Emang kamu gak pernah lihat?"
"Kan tiap kali mau bantu masak, Hanum malah disuruh ngerjain yang lain, Mas?"
"Ya udah, coba cek lagi sana, apa saja yang habis biar kita pergi ke pasar sambil jemput Milko dari sekolah!"
"Iya Mas."
Hanum memeriksa ulang ke dapur lalu mencatat apa saja yang sudah habis. Hanum sendiri sebenarnya kurang tahu keperluan apa saja yang harus di cari tapi Ia menambahkan beberapa bagian yang tidak bersisa lagi di sana.
Karena sudah pukul setengah sepuluh, mereka mampir dulu ke sekolah Milko. Khawatir Milko telat di jemput jika harus ke pasar dulu sedang setengah jam lagi Milko akan keluar.
Gruyuk!
"Aduh, kenapa baru sepagi ini lapar sekali sih?" Dongeng Abygiel, "Num...!"
"Iya, Mas. Kamu beliin aku cilok dong. Itu kayaknya enak!" Tunjuk Abygiel pada penjual di depan sekolah Abygiel.
"Berapa Mas, Lima belas ribu jadiin tiga. Nanti kamu ngiler lagi!"
"Alhamdulilah, ku pikir Mas tegaan orangnya, hehehe...!"
Hanum nyengir sebentar lalu keluar dari mobil dan membeli pesanan untuk majikannya itu.
Ting Tong...!
Bel pulang sekolah taman kanak-kanak rupanya sudah berbunyi lebih awal dari biasanya. Seluruh siswa yang masih imut-imutnya itu langsung berhamburan keluar. Terlihat dari kejauhan Milko bergandengan tangan dengan teman perempuannya.
Hanum yang sudah selesai langsung menghampiri. Ia sangat senang bertemu dengan bocah imut itu.
"Halo, Milko. Akhirnya kamu selesai juga!" Sapa Hanum, sembari menengadahkan tangannya meski menenteng asoi berisi cilok.
Milko yang senang langsung berlari memeluk Hanum. Kehahadirannya membuat Milko seperti memiliki seorang Ibu yang selalu datang untuk menjemputnya pulang dsri sekolah.
"Milko, itu Ibu balumu ya? Baguslah kalau begitu. Kamu tidak akan di ledekin anak-anak yang lain lagi?" Tukas gadis kecil disamping Milko itu.
"Ini siapa ya?" Tanya Hanum dengan ramah.
"Rara, Tante. Temen baru Abygiel!"
__ADS_1
"Oh, iya kenalin aku Tante Hanum."
"Iya Tante, salam kenal ya. Ya udah Rara duluan ya Ko, tu Papa udah jemput!" Tunjuk Rara pada mobilnya yang berwarna hitam.
"Oh iya, Ra. Sampai ketemu lagi besok!" Milko melambaikan tangannya pada gadis kecil itu. Sepertinya Milko sangat senang berteman dengan Rara.
"Ayo sayang, kita mau ke pasar dulu soalnya!" Ajak Hanum kemudian.
"Okey Tante."
Saat Hanum membukakan pintu depan untuk Milko, bocah itu dengan lantang menolaknya.
"Gak mau, Tante. Biar Milko di belakang aja. Terus Tante di depan sama Papa!"
"Loh, kok gitu?"
"Gak papaTante, Milko mau tiduran aja soalnya!"
"Oh, oke."
Hanum pun terpaksa membukakan pintu belakang untuk bocah menggemaskan itu sedang Hanum kembali duduk di samping Abygiel.
"Ini buat, Milko!" Hanum memberikan satu bungkus cilok yang baru saja di belinya. Hal serupa itu Ia lakukan pada Abygiel pula.
"Pakai sabuk pengamanmu!" Titah Abygiel, mengingatkan. Karena Hanum selalu saja lupa bila tidak diulang-ulang.
"Iya, Mas."
"Susah, Mas. Sepertinya nyangkut!"
Abygiel sebenarnya paling males ngurusin hal beginian tapi mau tak mau Ia harus ikut turun tangan.
"Biar aku saja!"
Abygiel mendekati Hanum dan hal itu membuat gadis dari kampung itu seakan sesak nafas.
Wajah Abygiel begitu dekat. Bau mint dari nafasnya dapat Ia hirup dengan jelas apa lagi aroma tubuh Abygiel yang maskulin.
"Ciye, ciye, berasa kayak punya Mama sama Papa deh," celetuk Milko tiba-tiba. Sengaja Ia menggoda keduanya karena keinginan Milko memiliki seorang Ibu sangatlah besar.
"Sudahkan, gitu aja gak bisa," rutuk Abygiel agak kesal.
"Maaf, Mas. Hanum kan gak biasa dengan hal itu!"
Abygiel tak menyahuti karena Ia sudah cukup malu dengan godaan Milko yang membuat perasaan jadi tidak karuan.
Sesampainya di pasar, Hanum bergegas turun dan membeli apa saja yang sudah di catatnya dalam kopelan.
Tak disangka, Hanum malah bertemu dengan Jecky yang sedang melakukan syuting di tempat itu. Beruntung para Fansnya bisa diajak bekerja sama agar proses syuting cepat selesai.
"Hanum...!"
__ADS_1
"Eh, Mas Jecky, lagi ngapain disini?"
Karena kamera dalam keadaan menyala, Jecky pun menghentikan kegiatan mereka sejenak.
"Tunggu sebentar!" Pinta Jecky pada semua kru. Terpaksa mereka harus menghentikan proses syuting itu beberapa saat.
"Dengan siapa kesini?" Jecky menelisik kearah belakang Hanum.
"Sama Mas Aby dan juga Milko, Mas. Kamu sendiri lagi ngapain disini, syuting ya?"
"Iya, ada penggarapan sinetron terbaru sebentar lagi!"
"Oh oke, maaf kalau gitu. Hanum belanja bentar ya!"
"Mau aku temenin."
"Gak usah, Mas. Kamukan lagi kerja."
"It's oke, bisa di handle kok."
Jecky pun meminta waktu dua puluh menit untuk menemani Hanum. Sang sutradara tak bisa mencegah atau Jecky akan menolak menjadi peran utamanya sedang tambang uang mereka adalah kemansyuran Jecky saat ini.
"Oke deh, yang penting syutingnya cepet selesai!"
Jecky segera menemani Hanum membeli apa saja yang ada dalam daftar yang di genggamnya tadi. Tak disangka, Jecky bisa mendapatkan semuanya dengan harga miring.
Mereka sangat senang karena bisa berkemunikasi langsung dengan Jecky yang setiap malam mereka tunggu sinetron perdananya yang sedang tayang.
"Pa, kenapa kita biarin Tante pergi se diri? Ayo Pa, kita susul Tante ke dalam!" Ajak Milko yang mulai merasa gelisah.
"Kamu yakin mau masuk ke pasar? Tempatnya kotor lo, Mil?"
"Iya Papa, ayo kita susul! Kasian Tante Hanum!"
"Ya udah deh, ayo."
Abygiel pun turun dan menggendong Milko. Ramainya kondisi pasar membuat Abygiel was-was jika membiarkan Milko berjalan seorang diri.
Sedang kesulitan mencari Hanum diantara bnyaknya orang, Abygiel terkejut saat mendapati Hanum belanja tapi di temani oleh Jecky.
"Nanti malam, aku mau ajak kamu makan malam, mau gak? Kamu tenang saja Num, aku akan membayar kamu kok!"
"Em... Makan malam ya, Mas. Jam berapa?"
"Jam tujuh ya, aku jemput?"
"Oke deh, Mas. Tapi Aku izin Mas Aby dulu ya. Soalnya yang lain pada pergi keluar negeri siang tadi!"
"Oh, gak masalah. Biar aku bantu minta izin nanti. Ya udah maaf ya aku gak bisa nemenin lama-lama. Aku pergi dulu ya!"
"Iya Mas makasih atas bantuannya!"
__ADS_1
"Sama-sama."