Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 8 Jujur


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Pak sopir itu membantu Hanum untuk mengangkat nenek tua itu lagi ke teras rumah sakit dimana disana beberapa perawat sudah siaga menunggu beberapa Pasien yang datang dengan keadaan darurat.


"Tolong ya, Dok. Tolong selamatkan Nenek saya , karena tadi tiba-tiba saja dia pingsan dan saya gak tahu harus gimana!"


"Iya Mbak, semoga tidak apa-apa."


Melihat Nenek itu di bawa oleh para perawat menggunakan brankar dorong. Pak sopir yang merasa belum di bayar pun nekat menagih upahnya.


"Mbak, bayarannya mana?"


"Bayaran?" Tanya Hanum, dengan ekspresi bingung.


"La iya, masak cuma-cuma sih? Hari ini nasib saya ada di tangan Mbak lo!"


Hanum garuk-garuk kepala. Pasalnya Ia tak punya uang sepeser pun. Lantas dengan apa dia akan membayar sopir itu.


Sesaat Hanum pun teringat dengan Paperbag dan dompet Sang Nenek yang ada di dalam genggaman tangannya.


Karena tak sabar ingin melihat kondisi Sang Nenek, Hanum pun tak punya pilihan lagi selain memeriksa apakah dompet sang Nenek berisi uang atau tidak.


Setelah di buka, ternyata dompet tebal itu berisi uang yang sangat banyak.


Aduh, gimana ni? Sama dengan mencuri gak sih kalau uangnya aku ambil?...


"Mbak, kok bengong sih? Cepatan dong. Biayanya dua ratus ribu sesuai argo yang ada di mobil saya!"


"Oh, iya, iya, sabar sebentar Pak!"


Hanum sudah tak perduli lagi mau di sebut pencuri atau apa. Biar saja Ia menarik dua lembar uang ratusan ribu itu lalu memberikannya pada Pak sopir. Biar nanti Ia jelaskan jika sang Nenek sudah sadarkan diri.


"Makasih ya, Pak. Sudah nolongin kami. Semoga saja rezeki Bapak lancar dan barokah!"


"Aamiin, makasih ya, Neng!"

__ADS_1


"Sama-sama, Pak."


Usai melihat sang sopir sudah tak terjangkau lagi. Ia pun segera menyusul sang Nenek ke dalam. Perempuan itu langsung di infus dan tak lama Beliau akhirnya sadarkan diri.


"Nenek saya sakit apa, Dok?" Tanya Hanum pada sang Dokter.


"Tensinya rendah, tapi gak papa, Mbak. Sekarang sudah stabil kok."


"Oh iya, syukurlah kalau gitu."


Hanum pun membiarkan Dokter yang memeriksa berpamitan keluar lalu Hanum berfokus pada sang Nenek yang tengah mengulas senyum ke arahnya.


"Makasih ya, Nak. Sudah bantuin Nenek bawa kesini. Kalau gak Nenek gak tahu deh bakal jadi apa!"


"Sama-sama, Nek. Tapi saya mau jujur, Nek."


"Soal apa?"


"Anu, itu_?"


"Itu Nek, tapi saya minta maaf dulu ya, Nek. Tolong jangan penjarakan saya karena sudah ngelakuin ini," ucap Hanum lagi dengan kepala tertunduk ke bawah.


Nenek itu kembali tersenyum lantas menepuk pundak Hanum, "Katakan saja, Nak. Nenek tidak akan marah kok."


"Bener ya, Nek?"


"Iya, emangnya ada masalah apa?"


"Ini Nek!"


Hanum buru-buru memberikan dompet di tangannya ke tangan tadi ke tangan sang Nenek.


"Tadi saya ambil uang dua ratus ribu rupiah di dalamnya buat bayar ongkos taksi karena saya gak punya uang , Nek. Semua barang-barang saya terbawa sama mobil travel yang membawa saya dari kampung untuk bekerja. Jadi saya kehilangan arah dan tujuan. Karena saya gak tahu seluk beluk kota ini."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Hanum, Sang Nenek malah nampak sangat terharu.


"Ya ampun, di jaman sekarang ini kok masih ada sih manusia jujur seperti kamu, Nak. Siapa nama kamu?" Tanya Nenek itu lagi. Meski suaranya begitu lemas.


"Hanum, Nek."


"Jadi sekarang kamu tinggal dimana?"


Hanum menggeleng, Ia sendiri juga belum tahu akan kemana setelah ini. Mencari kontrakan pun Hanum tidak mungkin karena Ia tak punya uang sepeser pun.


"Ya udah, Hanum. Kamu mau gak ikut Nenek saja. Kamu bekerja sama Nenek sebagai pelayan pribadi Nenek!"


"Seriusan, Nek?"


Nenek tua itu mengangguk, latas berkata lagi, "Panggil saja saya Oma Ismi. Karena saya terbiasa sekali dengan panggilan itu."


"Oh iya, Oma Ismi. Terima kasih sudah mau membantu saya. Tadinya saya pikir, saya akan jadi gelandangan di kota ini."


"Jangan khawatirkan itu. Karena Nenek akan berusaha untuk membantumu. Kau sangat baik, Nak."


******


Di tempat yang berbeda, seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun yang tadi uring-uringan di tengah jalan akhirnya sampai juga di dalam istananya. Beruntung Ia tak jadi memberi penilaian buruk pada Pak sopir usai menimang dampak buruknya bagi sopir itu.


Abygiel Mariel adalah seorang CEO yang sudah bersatatuskan duda. Memiliki seorang putra bernama Milko Mariel yang masih berusia lima tahun. Abygiel di tinggal meninggal oleh istrinya ketika melahirkan putra mereka dan sejak itu Abygiel menjadi kehilangan separuh hidupnya, angkuh dan juga dingin.


Hari ini Abygiel terlihat sangat lelah. Ia buru-buru melangkah kearah sofa sambil melonggarkan dasinya kemudian menjatuhkan bobot tubuh itu dengan kasar disana. Karena mobilnya tadi mogok, Ia jadi harus menanti taksi yang di pesannya cukup lama hingga akhirnya memilih menyetop taksi yang lewat di depannya.


Nafas Abygiel masih terlihat memburu, berulang kali Ia harus menarik nafas dan menghempaskannya dengan kasar.


"Hari ini benar-benar sial, kenapa juga sih mobil itu harus mogok? Padahalkan belum lama ini di service?"


Di tengah mengatur kemelut di hatinya, seorang bocah kecil keluar dari kamar langsung berlari-lari kecil ke arahnya, "Papa, sudah pulang? Biasanya Papa langsung ke kamar Milko, kenapa hari ini Gak?"

__ADS_1


Abygiel hanya tersenyum lalu memeluk Putra kecilnya itu.


"Maaf Sayang, Papa sangat lelah. Makannya Papa gak langsung ke kamar Milko."


__ADS_2