
Hanum terkejut dan buru-buru menutup file berisi foto-foto itu. Ia berusaha untuk memasang tampang polos sambil tersenyum sedikit takut ke arah Abygiel.
"Jangan lancang ya jadi pembantu. Ngapain kamu buka-buka barang di ruangan pribadi saya? Kamu di ajarin orang tua kamu sopan santun kan?" Abygiel perlu menegurnya agar Hanum tak mengulangi lagi hal yang sama.
"Maaf, Mas. Saya cuma bosen aja tadi. Terus liat-liat file itu ternyata ada foto Mbak Zahra. Pantes Mas Abygiel gak bisa move on. Mbak Zahra cantik banget soalnya. Jadi pengen cantik kayak Mbak Zahra, hihihi...!" Hanum geli sendiri dengan ucapannya. Sempat tak percaya juga jika Ia akan berbicara seperti itu.
"Mimpi saja sana! Miinggir!" Usir Abygiel agar Hanum segera bangkit dari kursi kebesarannya.
"Ya udah kalau gitu Hanum pulang ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan."
"Emang kamu masih ingat jalan pulang?" Abygiel mengingatkannya lagi tentang yang satu itu karena Abygiel yakin Hanum tidak akan kepikiran untuk mencari tahu alamat rumahnya.
Hanum segera merogoh kertas di saku yang masih Ia simpan tadi tapi Ia terdiam saat ingat kalau yang di catat disana hanyalah alamat kantor Abygiel sedang Hanum tidak tahu alamat rumah majikannya.
"Gak tahu, Mas. Hanum lupa minta ke Oma tadi? Ya udah, kalau begitu beri tahu aku, Mas!" Hanum Memberanikan diri menyerahkan kertas itu kepada Abygiel agar pria itu menuliskan alamat yang diinginkannya.
"Enak saja main nyuruh, emang aku pembantu kamu apa? Yang ada aku yang harus nyuruh kamu. Ayo ikut!"
__ADS_1
Abygiel membawa Hanum turun lagi ke lantai bawah dan ikut masuk ke dalam mobil miliknya. Rencananya hari ini Abygiel akan menyekar ke makam Zahra karena hari ini bertepatan dengan hari kematian istrinya. Seharusnya bersamaan dengan tanggal ulang tahun Milko kemaren Abygiel pergi tapi karena gak mungkin di tanggal yang sama. Abygiel memutuskan mengambil harinya yaitu hari rabu.
Abygiel membeli beberapa warna bunga yang sudah di petik kecil-kecil beruntung tempatnya tak jauh dari pemakanan. Jadi memudahkan para penyekar untuk membeli di tempat.
"Pegang ini!" Abygiel menyerahkan keranjang berisi kembang itu pada Hanum.
"Iya Mas."
Usai membayar, keduanya berlanjut masuk ke area Pemakaman umum dan memarkirkan mobilnya di tempat membeli bunga.
Hanum yang melihat tempat itu jadi mengingatkannya pada Almarhumah sang Ibu yang sudah sangat lama meninggalkan dirinya.
Abygiel berhenti tepat di makam Zahra. Dimana makam itu sudah di buat menggunakan semen yang indah. Ada beberapa bunga tumbuh di dalamnya.
"Oh, jadi ini ya makam Mbak Zahra?"
Hanum pun ikut duduk di samping Abygiel. Ia turut berdoa dalam hati berharap Zahra bahagia di alam sana.
__ADS_1
Abygiel mengambil alih bunga dari tangan Hanum lalu menaburnya sampai habis. Melihat itu Hanum merasa tersanjung. Rupanya masih ada pemuda yang mau mengurus pemakaman sang istri dengan tulus dan cinta kasih.
Biasanya lelaki yang kehilangan istri cepat sekali bangkit dan mencari pengganti yang baru. Namun itu tidak dilakukan Abygiel hingga sudah lima tahun telah berlalu.
"Zahra, apa kabarmu, Sayang? Aku kesini karena merindukanmu dan mau memberi tahu kalau Milko sudah berusia lima tahun sekarang. Dia sangat lucu dan pintar. Aku selalu kalah jika adu debat ataupun memainkan sebuah permainan dengannya!" Ucap Abygiel di selingi dengan senyum kegetiran.
Begitu lembutnya cara pria itu berbicara, Hanum dapat melihat rasa duka dan kesedihan yang mendalam di mata seorang Abygiel.
Hanum pun akan melakukan hal yang sama jika dia kehilangan seseorang yang sangat berarti seperti Zahra ya seperti kehilangan sang Ibu waktu itu. Tapi pada akhirnya Hanum belajar untuk ikhlas seikhlas-ikhlasan hingga Ia merelakan Ayah Farhan memutuskan untuk menikah lagi.
Baginya kebahagiaan Ayah Farhan adalah yang terpenting sekarang. Mereka harus bisa melanjutkan hidup dan melepas masa kelam karena hal itu hanya akan membuatnya susah untuk bangkit dari keterpurukan.
"Semoga Mbak Zahra bahagia ya disana. Aku yakin Mbak Zahra perempuan yang baik dan istri Sholehah bisa di lihat dari cara Mas Abygiel yang gak bisa lepas dari Mbak Zahra. Jadi Mbak Zahra pasti sudah menjadi bidadari surga disana!"
Abygiel mematut tatapan pada gadis remaja itu. Ia tak menyangka kalau Hanum akan turut mendoakan Zahra.
"Ayo pulang!" Ajak Abygiel kemudian.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Keduanya bergegas meninggalkan pemakaman dan kemungkin akan berlanjut pulang kerumah. Ya Hanum berharap Abygiel akan mengantarnya dan tidak menurunkannya di tengah jalan.