Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 26 Perhatian Hanum


__ADS_3

Setelah Natasya menghilang dari pandangan mata, Abygiel buru-buru menarik diri untuk menjauh sambil mengebas-ngebas tubuhnya yang tertempel. Tentu saja dia ilfiel dekat-dekat dengan Hanum. Karena menurutnya bocah kecil itu hanyalah perempuan kampung yang jorok dan tidak merawat diri dengan baik.


"Maaf ya Num, Oma harus bilang begitu. Pasalnya yang Oma lihat Natasya itu perempuan yang gak tahu malu. Waktu itu dia yang khianatin Abygiel demi lelaki lain. Terus Setelah disia-sia suaminya dia juga yang merengek-rengek minta balikkan. Gak tahu malu bangetkan?"


"Iya Oma, gak papa kok. Santai saja. Toh Hanum juga bukan istri orang. Jadi gak akan ada yang di rugikan disini. Eh... Tapi awas ya Mas kalau cari-cari kesempatan buat sentuh-sentuh Hanum sesuka hati. Kita bukan Mahrom lo Mas. Gak boleh. Hukumnya haram!" Protes Hanum yang kemudian langsung menunjukkan kepalan tangannya pada Abygiel.


"Alah, munafik banget sih. Kemaren saja di rangkul Jecky kamu gak nolak tu," sangkal Abygiel yang tidak pernah mau mengalah pada Hanum.


"Itukan beda, Mas. Waktu itukan, Aku minta foto sama aktor idolaku. Kapan lagi ya kan. Bisa foto sama aktor. Oya fotonya jangan di hapus ya Mas, Mau Hanum abadikan saat di kampung nanti. Terus Hanum pamerin deh ke tetangga Hanum. Kalau majikan Hanum rupanya menjalin pertemanan dengan aktor yang terkenal!"


Abygiel yang melihat Hanum terus memuji-muji Jecky di depannya makin di buat kesal. Untuk yang satu ini, Abygiel benar-benar siap berdebat karena Hanum wanita yang cukup pemberani dan menyebalkan baginya.


"Sudah, sudah, bertengkar melulu kalau ketemu. Udah kayak Tom sama Jerry aja. Tapi meski begitu harus diingat ya ada kalanya mereka baikkan lo," goda Oma Ismi pada keduanya.


Jujur dalam hati sebenarnya, jika Ia boleh berharap. Ia sangat ingin Hanum bisa menjadi istri Abygiel untuk menggantikan posisi Zahra. Tapi hal itu sangat tidaklah mungkin. Mengingat Hanum adalah gadis belia yang masih punya masa depan yang panjang. Sedangkan Abygiel sudah menduda dengan satu orang anak. Kalau pun Abygiel bersedia menikahi Hanum. Oma yakin Hanum akan menolak dan memilih untuk berhenti dari pekerjaan.


Aduh, mikir apa sih Ismi. Jangan mengandai-andai sesuatu yang mustahillah. Mana mungkin Aby dan Hanum bisa menikah. Perbedaan mereka sangat banyak. Usia juga terbentang sangat jauh...


"Oma! Oma! Ngelamun lagi ya?" Hanum mencoba menyadarkan Oma dari pikirannya dengan cara menyenderkan kepalanya di bahu Oma Alima.


"Oh... Ya udah, Num. Oma bayar dulu ya!"


"Gak usah Oma, sudah Abygiel bayar tadi!" Jawab Abygiel.


"Loh kapan? Kok Oma gak lihat?" Tanya Oma Ismi lagi yang kebingungan sendiri.


"Gimana mau lihat, kan Oma ngelamun lagi," timpal Hanum yang kembali memeluk Oma Ismi.


"Iya, iya, ya sudah ayo kita pulang."


Mereka pun meninggalkan lokasi salon dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun masih setengah perjalanan, Abygiel malah jadi sering bersin-bersin.

__ADS_1


Hachin...!


Hachin...!


Abygiel rasa pileknya bertambah parah. Tubuhnya juga menggigil karena demam.


"By, kamu sakit ya?"


"Iya Oma, mau meriang kayaknya!"


"Ya udah kita kerumah sakit saja buat berobat!" Ajak Oma Ismi.


"Gak perlu lah, Oma. Abygiel mau cepet-cepet aja sampai rumah supaya bisa istirahat."


Abygiel tak lagi banyak bicara sampai akhirnya mereka tiba juga di halamam rumah keluarga besar Aditama.


Abygiel tak lagi menggubris barang belanjaan Hanum yang banyak di bagasi. Ia langsung bergegas masuk ke rumah agar bisa berbaring secepatnya.


"Gak usah, Oma. Hanum bisa kok. Kan barangnya juga gak berat!"


Oma Ismi mengangguk dan berjalan lebih dulu. Hanum pun memasukkan semua pakaian itu ke kamarnya lalu bergerak menuju ke dapur.


"Ada jahe gak, Bi?" Tanya Hanum pada Bi Odah.


"Ada, Neng. Tu di wadah bumbu. Memangnya buat apa Neng."


"Buat jamu, Bi."


Hanum pun membakar jahe itu lalu menggepreknya dan memasukkan air yang panas ke dalam gelas yamg sudah di isi jahe tadi lalu mencampurnya dengan satu sendok madu.


"Bi, Hanum ke kamar Mas Abygiel dulu ya!"

__ADS_1


"Iya, Neng."


Hanum pun bergegas ke arah kamar cucu majikannya itu lalu mengetuk pintu beberapa kali.


"Mas, Ini Hanum, Mas!" Teriak Hanum dari luar.


"Aduh, ngapain lagi sih? Masuk aja gak di kunci, hachiiin!"


Hanum pun masuk dan melihat Abygiel bersembunyi di balik selimut tebal. Pasti Abygiel sangat kedinginan sekarang.


"Ini Mas, Hanum bikin jahe anget. Ayo di minum dulu biar demannya cepat turun!"


"Apa itu?" Abygiel memang menimpali tapi tetap memejamkan kedua matanya.


"Ini obat tradisional Mas buat demam. Coba aja di minum!"


Meski malas, Abygiel pun menuruti keinginan Hanum. Ia mencoba meraih gelas jahe itu tapi sepertinya masih panas.


"Biar Hanum tiup dulu, Mas."


Hanum pun meraih sendok dan meniupnya beberapa kali lalu menyuapkannya ke mulut Abygiel yang sebenarnya sangat sadar apa yang di lakukan Hanum tadi padanya tapi Abygiel tak menolak akan hal itu.


"Enak gak, Mas?"


"Seger sih? Ya udah deh kamu tinggal saja di situ. Sudah sana keluar aku mau tidur dulu."


"Iya Mas."


Hanum menutup gelas itu dan berlalu keluar. Tapi pikirannya cemas dengan keadaan Abygiel. Mungkin karena kecapean sudah mengantarnya untuk mencari baju dan kesalon tadi.


"Moga-moga aja, Mas Aby cepet sembuh deh. Jadi merasa bersalah kan Hanumnya."

__ADS_1


__ADS_2