
Saat melewati sebuah pasar kaki lima. Hanum melihat ada jualan cilor tusuk. Itu adalah makanan favoritnya. Sudah sangat lama Hanum tak pernah lagi mencicipi makanan itu karena terakhir memakannya waktu sang Ibu masih hidup dan sering membuatkan untuknya.
Hanum sebenarnya sangat menginginkan makanan itu tapi sayang Ia tak punya uang sepeser pun sedangkan untuk meminjam pada Abygiel dan meminta di berhentikan disana rasanya pasti sangat memalukan.
Aduh, gimana ya supaya aku bisa merasakan lagi makanan itu? Masak iya aku minta uang ke Mas Aby sih kesannya mata duitan banget?
Lama berpikit keras dan hampir dekat, Hanum tiba-tiba menghentikan mobil Abygiel.
"Mas, Stop!"
Mak cieeet!
Abygiel kaget sampai harus menginjak rem secara mendadak tepat di dekat tukang cilor itu. Beruntung jalanan sepi jadi tidak ada kendaraan di belakang yang ikut terkejut karena ulah konyol Hanum.
"Ada apa sih, Num. Ngagetin aja kerjanya?" Rutuk Abygiel. Entahlah mengapa kehadiran Hanum selalu saja membuat Abygiel ingin marah-marah.
"Mau pesan cilor berapa, Mas?" Tanya penjual makanan ringan itu usai meladeni pelanggan terakhirnya. Tentu saja Ia mengira Abygiel hendak membeli karena berhenti sangat dekat.
"Oh... Ma- makanan apa itu?" Abygiel ingin mengelak akan tetapi Hanum yang memiliki kesempatan langsung mendukung tawaran Pak penjual.
"Wah, enak tu Mas. Cobain deh pasti kamu suka?"
"Higienis gak ni?"
"Ya jelas dong, Mas. Masak iya kotor, mau pesan berapa, Mas? Dua ya?" timpal penjual itu yang melihat isi mobil Abygiel hanya mereka berdua saja.
"Kalau begitu buatin dua aja deh!" Abygiel rasa tak ada salahnya untuk mencoba.
__ADS_1
Hanum tersenyum senang dengan hal itu. Ia tak menyangka akan menyicipi makanan kesukaannya.
Abygiel yang merasa curiga baru menyadari sesuatu, "Kenapa senyum-senyum? Oh iya aku baru tahu sekarang. Kamu sengaja ya ngagetin aku supaya kita berhenti disini untuk membeli makanan itu?"
"Apa sih, Mas? Seuzhon aja kerjanya? Tadi tu aku gak sengaja, tauk? Dasar soang?" Lirih Hanum di penghujung kalimatnya.
"Apa katamu?" Rupanya Abygiel bisa mendengan cuitan Hanum hingga akhirnya sebuah telpon menghentikan rasa ingin marahnya.
Ternyata itu Arsyad asistennya. Ia sudah tiba di Jakarta dan berhasil menyelesaikan bisnis mereka dengan sangat memuaskan.
Bos, aku sudah di kantor sekarang...
"Baiklah, datang kerumahku nanti malam. Hari ini aku kurang enak badan jadi pulang lebih cepat!'
Baik Bos...
"Ini Den, cilornya!"
"Berapa, Pak?" Tanya Abygiel kembali sembari menerima kedua bungkus makanan itu.
"Tiga puluh ribu, Pak!"
Abygiel memberikan uang lima puluh ribuan, tapi saat penjual itu memberi kembalian, Abygiel menolaknya.
"Buat Bapak saja, terima kasih ya Pak!"
Abygiel meletakkan kantong kresek itu ke bagan mobil dan melanjukan kendaraan mereka. Hanum merengut dengan itu. Harapannya untuk menikmati cilor itu jadi urung. Pasangnya Abygiel tak kunjung memberikan cilor itu padanya.
__ADS_1
Abygiel terkekeh melihat raut muka gamang Hanum. Ia sengaja melakukan itu hanya untuk membuktikan anggapannya tadi kalau Hanum sengaja mengerjainya.
"Mas...!"
"Kenapa?" Abygiel menatap dingin.
"Cilor tusuknya gak segera di makan. Kalau dingin gak enak lo?"
"Terserah aku lah, mau aku makan kek, mau aku buang kek, itu kan hak aku, repot amat sih jadi orang?
Hanum mengerucut mendengar itu, "Lah kok gitu Mas? Timbang di buang ya mending buat aku ajalah."
"Kamu mau?"
"Boleh, kalau di kasih?" timpal Hanum yang nampak sangat girang.
Tuhkan bener? Ngeles aja kerjanya dasar pembantu gak tahu diri...
Abygiel un menghentikan mobilnya kembaki tepat di tepi jalan lalu manarik satu bungkus cilor itu dan memberikannya pada Hanum, "Gajihmu di potong ya?"
Hanum terbelalak dengan mulut menganga mendengar hal itu, "Ma- maksudnya?"
"Lah, kurang jelas ya aku ngomong. Nanti gajih pertamamu dari Oma harus kamu bayarkan ke aku seharga makanan yang kamu makan sekarang, kurang paham juga?"
Hanum mempertimbangkan masak-masak penawaran Abygiel. Sebenarnya Ia keberatan dengan itu karena Hanum ingin mengumpulkan uang yang banyak untuk berobat sang Ayah tapi Ia bisa ngiler jika tidak menerimanya.
"Mau tidak?" Ulang Abygiel lagi.
__ADS_1
"Iya, iya deh, potong aja cuma lim belas ribukan?" Hanum mengambil alih makanan itu dan langsung melahapnya tanpa memperdulikan tanggapan Abygiel.