Pembantu Idaman Mas Duda

Pembantu Idaman Mas Duda
Bab 14 Kekesalan Hanum


__ADS_3

Abygiel menggapai bingkai foto zahra yang masih terpajang di atas meja dekat dengan kamarnya. Ia kembali menitikan air mata saat mengusap-usap wajah istrinya itu. Tak di pungkiri, Kecantikan Zahra begitu paripurna di mata Abygiel.


Meski sebentar saja bersama kurang lebih setahun. Lamanya membangun biduk rumah tangga dengan Zahra, Abygiel begitu bahagia. Zahra selalu memanjakannya dan memberikan perhatian meski itu hal sifatnya sangat sederhana.


Abygiel juga menyukai masakan Zahra yang pandai membuatkan makanan kesukaannya.


"Zahra, apakah kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu? Aku juga mau memberi tahumu kalau sekarang anak kita sudah besar. Bahkan dia juga sudah sekolah di taman kanak-kanak?" Ucap Abygiel dengan perasaan perih.


Seandainya Zahra ada di depannya saat ini. Abygiel ingin sekali memeluknya. Tapi apa daya. Tiap kali Abygiel kangen Ia hanya bisa mendekap bingkai foto satu-satunya yang masih ada di kamarnya itu.


Ya, saat kepergian Zahra, Mama Carla memilih menyimpan semua foto kenangan mereka ke dalam gudang. Agar Abygiel bisa melupakan semuanya dan kembali bangkit dari keterpurukan yaitu dengan cara mencari perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Zahra untuk mengurus dia dan juga Milko.


Namun Lima tahun berjalan, Abygiel tetap tidak bisa lepas dari bayang-bayang Zahra yang membuatnya semakin sulit untuk jatuh cinta lagi.


Meratapi kesedihannya, Abygiel selalu lari dari masalah dengan memutuskan untuk pergi ke bar tanpa sepengetahuan keluarganya. Lalu menumpahkan rasa kesal di hati akibat kehilangan Zahra dengan menghabiskan malamnya untuk minum-minuman. Karena hanya dengan itu Abygiel bisa melupakan segalanya.


Ramainya tempat itu tak membuat Abygiel merasa terhibur. Ia juga menolak mentah-mentah beberapa perempuan yang ingin menggoda kesendiriannya.


Meski setengah sadar, pemuda dua puluh delapan tahun itu tetap kukuh pada pendirian. Kalau Ia tidak akan bermain perempuan karena kesetiannya pada Zahra.


Dua jam berlalu Abygiel mulai merasa pusing dan hilang separuh kesadaran. Ia juga sudah menghabiskan banyak minuman yang membuatnya menyerah untuk melanjutkan.


Abygiel yang merasa sudah cukup segera meninggalkan bayarannya diatas meja dengan jumlah yang tentu lebih dari harga totalnya lalu Abygiel pun nekat pulang meski kondisinya sedang kacau dan berantakan.


"Oh Zahra, sayangku. Kamu dimana sekarang?" Ucapnya sembari mencari arah pintu keluar hingga Ia sampai ke mobil sport miliknya.


Mobil itu sangat jarang sekali terpakai karena Abygiel selalu membawa mobil mewahnya yang saat ini sering sekali mogok. Sepertinya Abygiel akan menjual mobil itu dan akan menggantinya dengan yang baru.


Menyetir seorang diri sebenarnya sangat membahayakan untuk Abygiel. Selain jalanan yang padat Abygiel juga kesulitan membuka kedua matanya yang terasa begitu berat.

__ADS_1


"Ah, sial. Ayolah mata jangan terpejam dulu sampai kita tiba di rumah kota!" gerutunya, teramat kesal.


Abygiel berusaha menjaga keseimbangan meski beberapa kali mobilnya hilang keseimbangan dan hampir menabrak milik orang lain. Beruntung Abygiel masih bisa menghandlenya tepat waktu. Sesekali terdengar ada orang yang mengutuk dirinya tapi Abygiel tidak perduli toh dia juga tidak kenal siapa orang yang berbicara dengannya itu.


"Woy, udah bosan hidup ya? Kalau mabuk jangan di jalanan dong! Bahaya buat orang lain. Dasar gila!" Teriak seseorang lagi yang melihat mobil Abygiel berjalan oleng dan hampir menyerempet mobil orang itu.


Masa bodoh dengan itu, Abygiel tetap melajukan mobilnya sampai akhirnya tiba di halaman rumahnya.


"Mama...!"


Tok!


Tok!


Tok!


Abygiel yang sudah tidak kuat membuka matanya menggedor pintu berulang-ulang. Ia lupa kalau panggilannya dari pintu utama rumah itu tidak akan sampai ke kamar keluarganya.


Hanum yang tidak bisa tidur dengan nyenyak beberapa kali terbangun. Ia yang merasa haus memutuskan untuk kedapur. Akan tetapi langkahnya terhenti saat Ia melihat pintu utama bergetar.


"Aduh, siapa tu? Kok pintunya goyang-goyang sih? Hanum salah lihat gak sih? Eh tapi bener kok pintunya geter? Wah, gaswat ni Jangan-jangan maling lagi? pasti dia lagi mau usaha nyongkel pintu itu secara paksa. Wah gak bisa di biarin ni. Orang itu harus di kasih pelajaran supaya gak ngulangin perbuatannya lagi!"


Hanum pun mencari sesuatu yang bisa di gunakannya untuk menghajar maling itu. Saat sibuk menoleh kesana-kemari. Hanum melihat ada alat pemukul kasti yang tergeletak di pojokkan.


"Nah, ini dia yamg ampuh buat mukul maling sialan itu!"


Hanum pun memeriksa dulu lewat tirai jendela. Sayang Hanum tak bisa melihat wajahnya karena pria itu masih sibuk menggedor pintu yang Hanum pikir tengah berusaha untuk membobolnya.


Benar saja, dugaan Hanum menguat saat Ia mengintip penampilan laki-laki itu begitu mencurigakan. Di balik sana Hanum meyakini pria itu memakai jaket yang menutupi bagian atas kepalanya. Hanum pernah dengar waktu di kampung beberapa waktu lalu ada yang nyolong sapi milik salah seorang warga dan hampir kepergok memakai pakaian tertutup rapat. Mungkin kelihatan matanya saja.

__ADS_1


"Wah, benerkan, dia itu mau maling? Baiklah biar ku bantu untuk masuk? Tapi harus siap dengan seranganku ya?" Gumam Hanum lagi seorang diri.


Dengan langkah hati-hati, Hanum menarik pengait pintu hingga Abygiel terjerembak dan langsung jatuh membentur lantai.


"Ni rasain!"


Hanum hendak mengayunkan pukulan kayu kasti di tangannya itu akan tetapi urung saat mendengar Abygiel menggerutu menyebut nama sang istri.


"Zahra cepat kembali, apa kamu tidak merindukanku? Kamu sudah terlalu lama meninggalkan aku dan juga Milko. Apa kamu tidak ingin melihat putra kita sekali saja, ha? Kamu itu cantik banget sih? Bikin aku kangen tiap waktu!"


"Lah, kok nyebut-nyebut nama Mbak Zahra sih? Emangnya siapa pria ini?"


Hanum meletakkan alat pemukul kasti itu ke lantai lalu memberanikan diri untuk membalikkan tubuh Abygiel agar terlentang.


"AstaughfiruLLahalazhim, jadi Mas songong itu rupanya? Sejak kapan dia keluar rumah kok Aku gak lihat sih?"


Hanum pun buru-buru menutup pintu takut ada maling beneran yang datang. Tapi Hanum bingung cara membangunkan Abygiel agar mau pindah ke kamarnya.


Tak punya cara lain, Hanum pun nekat untuk membantu Abygiel berdiri. Tentu saja Hanum kesulitan karena tubuh Abygiel tinggi dan juga tegap berisi.


"Mas, bangun Mas. Jangan tidur disini? Lagian Mas sih pakek mabuk-mabukkan segala!"


"Zahra...!" Celoteh Abygiel sekali lagi saat Ia merasai seseorang merangkul tubuh nya untuk bangun.


"Aduh, berat banget sih? Kamu makan banteng ya? Bikin susah aja kerjanya!" Rutuk Hanum lagi yang jadi bersusah payah untuk menopang berat badan Abygiel di pundaknya.


Setibanya di kamar, Hanum langsung menjatuhkan bobot Abygiel keatas ranjang king Size jumbo miliknya.


"Zahra, kepalaku pusing. Bisakah kamu memijatnya!" Pinta Abygiel yang mengira Hanum adalah Zahra.

__ADS_1


"Ogah, enak saja minta pijit. Emang kamu siapa? Toh akukan kerja juga buat Oma bukan buat kamu!" Timpal Hanum dengan ketus.


__ADS_2