
Kriing..kriing. kriing nyaring bunyi alarm membangunkan Faiz dari tidurnya yang lelap. jam menunjukkan pukul 05.00 hiruk pikuk kendaraan sudah mulai terdengar, dinginnya udara subuh terasa menusuk sampai ketulang-tulang.
"Mata ayolah bersahabat, ayo semangat,"
ucap Faiz dengan mata setengah tertutup berusaha menguatkan dirinya agar tidak tergoda dengan daya tarik kasur yang menjadi dua kali lipat akibat suhu dingin karena gerimis yang mengundang siapa saja ingin tidur kembali.
***
"Hampir saja aku telat, bagaimana bisa aku tergoda oleh kasur sialan itu dihari sepenting ini,"
ucap Faiz dengan nafas terputus-putus karena bergerak dengan kecepatan kilat agar tidak terlambat dihari penerimaan mahasiswa baru tingkat fakultas.
__ADS_1
Matanya menyapu barisan pria botak dengan seragam hitam putih, berharap diantara ratusan pria botak itu ada satu yang dikenalinya.
"Ah benar-benar membosankan," keluhnya dalam hati karena sejak awal kedatangannya sampai acara hampir selesai dia tidak melihat satupun orang yang dikenalinya, alhasil sepanjang acara penyambutan mahasiswa baru dia hanya sibuk bicara dengan dirinya sendiri.
"Permisi, ini acaranya sampai jam berapa yah?"
tanya Faiz dengan sedikit memiringkan badannya pada wanita yang berada disebelahnya yang sedari tadi hanya fokus memperhatikan kedepan tanpa berbicara dengan siapapun sambil mengibaskan bajunya akibat panas karena kerumunan manusia.
"J**awab yang sopan kek, atau paling tidak menengoklah sedikit. Cih kalau saja dia melihat wajahku dia pasti langsung minta nomorku," ucap Faiz dalam hati karena kesal dengan gadis yang berada paling ujung dari barisan para wanita itu hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan yang dilontarkannya.
"Permisi, kalau sekarang jam berapa yah?"
__ADS_1
Faiz masih mencoba mengajak ngobrol gadis itu karena merasa mereka senasib, sama-sama tidak memiliki teman. Namun, gadis itu hanya menengok kearah Faiz tanpa menjawab sepatah katapun sambil melipat tangan hingga jam tangannya tertutup lalu kembali menghadapkan pandangannya kearah depan dan mengikuti acara pembukaan dengan penuh hikmat.
"Apa? dia sudah melihat wajahku dan masih tetap mengacuhkanku? cih harga diriku terluka, memangnya dia pikir siapa dia hah?" pikir Faiz. Darahnya naik karena baru kali ini dia diabaikan oleh seorang gadis yang wajahnya bahkan dibawah rata-rata. Suhu ruangan saat itu rasanya naik dua kali lipat dari sebelumnya seolah ikut memanasi darah Faiz hingga mendidih. Akhirnya acara pembukaan berlalu dengan keduanya dalam keadaan diam membisu.
Setelah acara pembukaan selesai, semua mahasiswa baru menuju kejurusan mereka masing-masing tak terkecuali dengan Faiz. Dia menapaki jalanan dengan hati sedikit kesal mengingat kembali kejadian di ruangan tadi. Tak terasa langkah kaki Faiz telah membawanya sampai didepan gedung berwarna hijau dengan beberapa pohon besar didepannya yang memberi kesan horor pada siapa saja yang pertama kali mengunjungi gedung itu. Faiz mengikuti rombongan orang yang berpakaian hitam putih menuju ruangan FF 103 tempat semua maba kelas A berkumpul. Matanya terbelalak ketika mendapati gadis jutek yang tadi disapanya berada di ruangan yang sama dengan dirinya.
"Fatricia," kata dosen yang sedang mengabsen mahasiswanya pada pertemuan dihari pertama.
"Hadir pak;" sahut Tia dengan mengacungkan tangan kanannya.
"Oh jadi namanya Fatricia. Ternyata dia tidak bisu, lalu kenapa dia cuek begitu padaku" protes Faiz dalam hati sambil menatap gadis itu dengan perasaan kesal sambil mengingat-ingat apa yang salah dari dirinya.
__ADS_1
~bersambung